Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 57


__ADS_3

Anton memaksakan dirinya untuk datang membawa orang tuanya dan melamar Nadia secara resmi meskipun gadis itu belum menjawabnya. Bukan bimbang atau sedan berfikir, tapi karena Nadia tidak tahu bagaimana caranya menolak.


Melihat Anton datang bersama keluarganya, Nadia panik setengah mati apalagi saat melihat Nenek Mina menyambut mereka. Nadia ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat ini juga. Dia tidak mau mengorbankan masa remajanya dan menikah di usia yang masih sangat muda. Nadia ingin kembali ke kota suatu hari nanti, melanjutkan kuliah dan mencari pekerjaan yang bisa menopang kehidupannya.


Jika takdir menginjinkan, Nadia bahkan ingin kembali menjalin hubungan bersama Bintang. Tapi jika dia sudah benar-benar lepas dari Sarah. Dan jika memang Bintang tulus padanya tentu saja.


Nadia meremat kedua tangannya yang sudah basah karena keringat dingin. Dari yang dia dengar dari teman-temannya, jika keluarga dari pihak laki-laki sudah datang dan melamarnya maka Nadia tidak bisa lagi untuk menolak karena itu akan mempermalukan keluarga laki-laki.


Nadia menangis seorang diri di dalam kamar, saat mendengar Nenek Mina menerima lamaran Anton dan setuju dengan pernikahan itu. Hari dan tanggalnya juga langsung di tentukan hari itu. Nadia benar-benar merasa hancur.


“Nenek kenapa menerima lamaran itu, Nek. Bukannya Nadia sudah bilang kalau Nadia tidak mau menikah dengan Anton, Nadia tidak mau....” kata Nadia sambil terisak saat orang tua Anton sudah pergi dan tinggal Nenek Mina, Sari dan suaminya.


Sari mendekat dan memeluk Nadia, dia bisa merasakan apa yang Nadia rasakan. Dulu juga dia di paksa menikah dengan laki-laki yan tidak dia kenal hingga pada akhirnya mereka bercerai karena laki-laki itu selalu mabuk-mabukan dan sering memukulnya.


“Nenek hanya mau yang terbaik untuk kamu, Nad. Anton lah yang terbik untuk kamu. Dia masih muda, dan belum menikah dengan siapapun. Dia lah yang terbaik untuk kamu. Cinta itu tidak penting, Nad. Kamu akan menerima dia dengan sendirinya nanti,” kata Nenek Mina. Dia sama sekali tidak mau mengubah keputusannya dan tetap pada pendiriannya untuk menikahkan Nadia dengan Anton meskiun Nadia sudah menangis sambil memohon.


Bukan tentang cinta, tapi Nadia memang belum siap dan tidak mau.itu yang paling penting.


“Nadia tidak akan bahagia, Nek. Tidak akan pernah,” kata Nadia lalu masuk ke kamar.


Di dalam kamar Nadia mengemasi semua barang-barangnya, Nenek Mina dan Sari yang masuk ke kamar menyusulnysungguh terkejut dengan yang di lakukan Nadia.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan, kamu mau apa, Nad?” tanya Nenek Mina dengan panik melihat Nadia memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper.


“Nadia mau kembali ke kota, Nadia tidak akan menikah dengan siapapun sekaran.”


Semua panik melihat Nadia yang bersikeras untuk kembali ke kota, Nenek Mina dan Sari tidka bisa menahannya saat dia terus memasukkan semua barangnya ke dalam kopernya.


“Nenek mohon jangan kembali, Nad. Nenek tidak bisa hidup tanpa kamu,” kata Nenek Mina. Dia mulai menangis melihat Nadia yang tetap bersikeras untuk kembali.


“Kalau begitu, ayo kita pulang sama-sama. Dari dulu kita kan memang selalu sama-sama, Nek. Nadia juga dulu punya pekerjaan yang walaupun tidak seberapa paling tidak masih bisa menghidupi kita. Nadia berjanji tidak akan bertemu dengan Tuan Bintang, tidak akan menampakkan diri Nadia di depan Tuan Bintang. Nadia berjanji hanya akan belajar dan kerja, jadi ayo kembali ke kota, Nek. Kita juga dulu bahagia kan hidup di kota,” kata Nadia memohon pada Nenek Mina untuk kembali ke kota agar dia tidak jadi menikah denan Anton.


“Nadia berjanji tidak akan bertemu dengan Tuan Bintang, Nenek bisa pegang janji Nadia. Kita kembali, yah. Nadia tidak mau menikah, Nadia tidak akan bahagia tinggal di sini,” Nadia masih memohon agar Nenek Mina mau mengubah pikirannya sehingga dia tidak perlu meninggalkan Nenek Mina di desa.


Walau bagaimanapun, Nenek Mina satu-satunya keluarga Nadia di dunia ini. Nadia tidak mau hidup sendiri tanpa Nenek Mina.


Nadia menggeleng, dia tidak mau mempertimbangkan apapun. Bahkan jika pernikahan itu batal, Nadia tetap tidka mau lagi tinggal di desa. Pasti rasanya akan berbeda jika dia berpapasan dengan Anton di jalan. Dan juga akan banyak orang yang mengnaggapnya sombong dan sok cantik karena sudah menolak lamaran anak juragan di desa itu.


Tidak lama kondisi Nenek Mina semakin menurun, wanita itu memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, hingga ankhirnya dia kehilangan kesadarannya. Semua orang panik, Sari bergegas memanggil dokter untuk memeriksa Nenek Mina sementara Nadia terus memanggil Neneknya berharap wanita itu segera sadar.


“Nek, bangun. Nenek kenapa, bangun Nek,” Nadia terus menepuk-nepuk pipi Nenek Mina tapi wnaita itu masih terpejam dengan nafas yang sangat lemah.


Nadia menangis terisak di samping Neneknya. Dia menyesal sudah bersikeras dan melawan wanita yang sudah semakin tua itu.

__ADS_1


Sari datang bersama seorang wanita yang adalah dokter di desa itu. Nadia memberi tempat pada Dokter untuk memeriksa kondisi Nenek Mina.


“Bagaimana Nenek saya, dok?” tanya Nadia setelah dokter memeriksa.


“Kondisinya sangat lemah, Nenek harus segera di bawa ke kota untuk melakukan pemeriksaan lanjutan karena say tidak punya alat-alat yang di butuhkan di sini,” kata Dokter. Dia lalu menghubungi temannya untuk segera mengirim ambulance ke desa ini karen kondisi Nenek Mina sudah sangat lemah.


Nenek Mina membuka matanya dengan sayu, dia mencari Nadia. Gadis itu dengan cepat duduk di smaping Neneknya dan memegang tangannya yang sudah di pasangi selang infus.


“Maafkan, Nenek,” kata Nenek Mina dengan suara yang sangat lemah. Nadia menggeleng, air mata gadis itu sudah sejak tadi mengalir membasahi pipinya.


“Nadia yang minta maaf sudah melawan Nenek, Nadia janji akan mengikuti semua kemauan Nenek asalkan Nenek sembuh,” kata Nadia yang berjanji pada Neneknya akan melakukan apapun asalkan Neneknya cepat sembuh.


“Nenek hanya mau yang terbaik untuk kamu,” Nadia lagi-lagi mengangguk.


“Iya, Nadia tahu. Nenek sayang sama Nadia kan. Makanya Nenek mau Nadia bahagia, iya kan?” Nenek Mina tersenyum. Garis-garis keriput diwajahnya terlihat dengan jelas.


Nenek mina lalu kembali memejamkan matanya membuat Nadia berteriak histeris memanggil Neneknya.


“Nenek hanya tidur karena pengaruh obat, kamu berdoa saja semoga mabulance nya cepat sampai gar kita dapat segera menolong Nenek kamu,” kata dokter menenangkan Nadia.


Nadia tidak beranjak dari samping Nenenknya, dia terus berada di sisi wanita itu dan menemaninya.

__ADS_1


Keadaan Nenek Mina yang menurun drastis sudah tersebar di seluruh penjuru desa, banyak yang datang memberi semangat pada Nadia, termasuk Anton dan keluarganya.


Nadia menitipkan Nenek Mina kepada Sari, dia inginn mengirimkan pesan kepada Vanesa dan Angel dan menceritakan keadaan Nenek Mina. Pesan itu terkirim karena Nadia mencari tempat yang signalnya bagus. Setelahnya, Nadia lalu kemabli ke rumah dan tidak meninggalkan Neneknya sampai malam menjelang.


__ADS_2