
Bintang yang marah dan kecewa akhirnya memilih menjemput Nadia di tempat kerjanya. Dia berharap dengan melihat Nadia bisa meredakan sedikit amarahnya. Sepanjang perjalanan, bintang terus memikirkan Sarah yang sudah berani mempermainkannya.
“Aku harap kau hanya bercanda, Sarah. Jika kau sampai melakukan sesuatu di belakangku, aku tidak akan mengampunimu” kata Bintang dengan amarha yang membuncah.
Dia masih berfikir kenapa sampai Sarah mengirimkan pesan-pesan rindu dan foto-foto seksinya. Jika untuk memancing Bintang pulang lebih cepat, maka dia berhasil. Tapi di mana dia.
Benar, ada di mana Sarah.
Bintang sampia di restoran tempat Nadia bekerja, restoran itu sudah tutup tapi Bintang melihat masih ada karyawan yang memebrsihkan di dalamnya. Dia juga melihat Nadia sedang menyapu lantai.
Sambil menunggu Nadia, Bintang mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sarah melalui video call. Lama panggilan itu berdering tapi tidak ada jawaban. Bintang mencoba sekali lagi tapi masih juga tidak ada jawaban.
Bintang menggenggam erat ponselnya hingga urat-uratnya terlihat jelas. Entah bagaimana dia bisa menyembunyikan amarahnya di depan Nadia.
Nadia keluar dari restoran bersama teman-teman yang lain. Bintang tidak langsung turun menghampiri Nadia karena pasti akan membuat Nadia menjadi bahan pergunjingan jika dia di jemput lelaki seusia ayahnya malam-malam begini.
Dari dalam mobilya Bintang bisa melihat Nadia dan Angel masuk ke dalam mobil sport yang cukup mahal. Bintang lalu menyalakan lampu mobilnya membuat Nadia dan Angel melihat ke arah mobil itu. nadia yang mengenali mobil Bintang pun meminta pada Vanesa untuk menunggunya sebentar.
“Tuan Bintang” kata Nadia saat menghampiri Bintang.
“Naiklah, aku akan mengantarmu pulang” Nadia yang terkejut tapi tidak mau banyak bertanya melihat Bintang yang tidak seperti biasanya. Nadia tahu dia tidak akan bisa menolak. Nadia lalu menghampiri Vanesa di mobilnya.
“Aku pulang sama Tuan Bintang aja” katanya memberitahu Vanesa.
“Oke, hati-hati yah” kata Vanesa.
“Iya, kalian juga” balas Nadia. Lalu mobil Vanesa melaju sementara Nadia masuk ke dalam mobil Bintang.
Mereka hanya diam saja di dalam mobil, Bintang nampak dingin dengan tatapannya yang fokus pada jalan di depan. Nadia yang tidak berani bertanya ada apa hanya diam saja sambil sesekali dia menoleh melihat Bintang. Setelah hampir lima belas menit, mereka sampai di rumah.
__ADS_1
Bintang memasukkan mobilnya dan memarkirnya di garasi, tidak seperti biasa yang hanya di simpan saja di luar. Mereka masuk kedalam rumah, Nadia masih tidak berani berkata apapun.
“Apa ada makanan?” Bintang akhirnya bersuara, nadanya juga terlihat berat dan serak.
“Aku lihat dulu ya, Tuan” kata Nadia lalu berjalan ke dapur dan melihat ada makanan di atas meja.
“Hanya ada sayur bening dan perkedel, Tuan. Tuan mau saya masakkan seseatu?” tanya Nadia dengan pelan. Entah apa yang terjadi dengan Bintang sampai dia terlihat begitu menyeramkan malam ini.
“Aku makan itu saja, kau pasti juga lelah” Nadia mengangguk-angguk lalu segera menyiapkan piring dan juga membuatkan Bintang segelas kopi.
Dia tidak ke kamar mengganti bajunya melainkan duduk menemani Bintang makan, dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Nadia mencoba bertanya.
“Apa Tuan ada masalah?” tanya Nadia. Walaupun dia dan Bintang memiliki hubungan yang tidak biasa, dia juga tidak pernah melupakan batasnya yang hanya seorang pembantu untuk Bintang. Bahkan ketika Nadia sudah tidak lagi menjadi pembantu di rumah Bintang, dia masih saja tetap menganggap Bintang sebagai majikannya.
“Tidak ada, aku hanya lelah. Aku akan tidur di sini malam ini” mendengar itu Nadia jadi waspada. Dia melihat ke arah kamar Nenek Mina.
“Iya, bolehkan?” Nadia diam sejenak. Dia sekali lagi menengok ke arah kamar Nenek Mina.
“Aku akan pergi sebelum Nenekmu bangun” kata Bintang yang mengerti kecemasan Nadia. Gadis itu lalu mengangguk.
“Kalau begitu saya ganti baju dulu, Tuan silahkan di habiskan makanannya” Nadia yang akan pergi malah di tahan oleh Bintang.
“Duduklah, temani aku makan. Aku akan menunggu di luar nanti sampai kau selesai ganti pakaian” Nadia hanya menghela nafas dan kembali duduk di samping Bintang. Dia yakin ada sesuatu yang sudah terjadi pada mantan majikannya itu.
Laki-laki itu terlihat seperti sangat marah tapi berusaha menyembunyikannya hingga dia tidak pernha memperlihatkan senyumnya pada Nadia malam ini.
‘Padahal tadi siang Tuan Bintang baik-baik aja, kenapa tiba-tiba jadi aneh begini. Apa ada masalah dengan perusahaannya. Aku harap semua baik-baik aja’ bisik Nadia pada dirinya sambil terus memperhatikan Bintang yang makan dengan wajah yang kaku dan dingin.
Setelah selesai makan mereka naik ke kamar Nadia, bintang menunggu di luar sebelum Nadia selesai membersihkan dirinya.
__ADS_1
“Tuan” panggil Nadia dengan berbisik saat dia telah selesai dengan dirinya. Bintang hanya membuka jasnya dan langsung naik ke atas tempat tidur, dia meminta Nadia juga naik bersamnya. Tidak butuh waktu lama, Bintang jatuh tertidur sambil memeluk Nadia. Begitupun dengan Nadia, karena sangat lelah hingga dia juga langsung tertidur begitu kepalanya sandar di bantalnya.
Saat Nadia bangun di pagi hari, dia sudah tidak menemukan Bintang di kamarnya. Dia lalu mebersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk ke kampus.
Nadia terkejut saat melihat sudah ada bintang di ruang tamu, di depnanya juga sudah ada segelas kopi dan cemilan yang Nenek Mina buatkan.
“Kamu sudah mau berangkat?” tanya Nenek Mina melihat Nadia turun dari tangga.
“Oh, Tuan Bintang datang pagi sekali tadi. Katanya dia rindu dengan kopi buatan Nenek” Nadia membulatkan bibrnya mendengarnya.
‘Datang pagi apanya, orang semalam kami tidur sama-sama. Bajunya saja masih baju yang semalam’
“Selamat pagi, Tuan” sapa Nadia seolah-olah Bintang memang datang pagi tadi.
“Pagi, Nad. kamu sudah mau berangkat ke kampus?” tanya Bintang. Laki-laki itu meletakkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
“Iya, Tuan”
“Ayo aku antar”
“saya biasanya tunggu Vanesa di dekat halte. Dia jemput saya disana” kata Nadia.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai halte” Nadia lalu pamit pada Nenek Mina dan pergi bersama Bintang.
Nenek Mina memperhatikan keduanya cukup lama, bahkan sampai mobil itu sudah tidak terjangkau matanya tatapan Nenek Mina masih pada jalanan yang mobil Bintang lewati.
“Kamu sudah besar, Nad. Nenek harap kamu bisa melihat mana yang baik dan yang tidak baik. Nenek harap kau akan baik-baik saja dan segera menyadari kalau apa yang kau lakukan itu salah, Nad. Nenek tidak mau seseuatu yang buruk terjadi padamu.”
Dia lalu menghela nafas dan kembali masuk ke dalam rumahnya sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1