Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 84


__ADS_3

Acara pernikahan yang super mewah dan meriah di gelar di salah satu hotel terbesar di negeri ini. Meskipun ini adalah pernikahan kedua untuk Bintang, tapi dia ingin memberikan yang terbaik untuk Nadia karena ini adalah pernikahan pertama untuk gadis itu.


Bintang hanya bisa diam membeku ketika Vanesa dan Angel mengantar Nadia ke hadapannya. Laki-laki itu meneteskan air mata haru karena akhirnya bisa menikah dengan gadis kecil yang dia cintai. Sama halnya dengan Nadia, gadis itu juga tidak kuasa menahanan air matanya saat dia dan Bintang sudah resmi menjadi suami istri.


“Kau cantik sekali,” puji Bintang. Pujian yang entah sudak keberapa kali Nadia mendengarnya.


“Tuan juga tampan,” kata Nadia yang balik memuji Bintang, laki-laki yang beberapa saat yang lalu sudah resmi menjadi suaminya.


Tamu undangan yang hadir memenuhi ballroom hotel, mereka bergantian memberi selamat kepada pengantin yang tampak sangat serasi meskipun perbedaan usia di antara mereka sangat jauh.


Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam tempat berlangsungnya acara karena penawasan yang berlapis yang sangat ketat sehingga acara berjalan sesuai dengan rencana tanpa kendala apapun.


Banyak di antara tamu undangan yang hadir yang menanyakan perihal istri pertama Bintang, tapi mereka hanya mendengar bahwa tidak ada lagi kecocokan di antara mereka sehingga mereka berdua memilih berpisah dengan cara baik-baik. Kejadian yang sebenarnya di tutup rapat keluarga Bintang. Sarah pun tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena dia juga pasti akan sangat malu sedangkan dia masih ingin terus melanjutkan kariernya.


Vanesa dan Angel juga ikut menikmati pesta meriah itu, meskipun orang tuanya juga hadir, Vanesa memilih duduk bersama Angel dan Tuti menilai berapa harga pakaian orang-orang yang hadir di pesta siang itu.


Tidak lupa mereka juga mencari-cari siapa tahu ada salah satu tamu undangan yang datang seorang diri karena tidak mempunyai pasangan. Tapi sayangnya mereka tidak menemukan satupun. Jika ada yang mereka sukai, pasti datang dengan pasangannya. Jika datang seorang diri, laki-laki itu buka tipe mereka. Tuti hanya bisa menertawakan kedua gadis itu.


Tidak ketinggalan Sita yang juga hadir, bukan sebagai tamu seperti Tuti melainkan untuk membantu Aisyah jika wanita itu membutuhkan sesuatu. Dia sudah mengambil banyak foto dan mengirimkannya pada Sarah seeprti yang di perintahkan Sarah.


Acara masih berlangsung, tamu juga masih datang silih berganti. Sementara pengantin wanita sudah terlihat sangat lelah tapi memaksakan diri demi menghormati tamu yang datang. Nadia masih dengan wajah manisnya yang tersenyum ramah kepada tamu yang datang dan memberi mereka ucapan selamat.


“Kau lelah...?” tanya Bintang dengan sangat lembut. Wanita di sampingnya itu sekarang adalah istrinya sehingga sikap Bintang menjadi sangat lembut pada dan perhatian padanya.


Nadia mengangguk dengan memasang wajah memelasnya membuat Bintang merasa tidak tega melihatnya.

__ADS_1


“Kita duduk saja,” kata Bintang.


“Tidak apa-apa, Tuan. Aku masih bisa,” kata Nadia. Bintang tidak tega tapi juga merasa tidak sopan jika tidak menyambut tamu yang sudah menyempatkan diri untuk mengahdiri pestanya.


“Tahan sebentar lagi, yah sayang,” kata Bintang lagi. Nadia mengangguk. Mereka kembali berdiri saat tamu ingin memberi ucapan selamat pada mereka.


Bukan hanya Nadia dan Bintang yang sudah sangat lelah, Aisyah dan Hidayat juga rupanya sudah mulai merasa lelah saat tidak henti-hentinya mereka menyambut tamu undangan yang juga adalah kerabat dan relasi mereka.


Berbeda halnya dengan kedua gadis yang dari tadi sibuk berjalan kesana kemari mengambil gambar sekaligus mencari perhatian. Mereka tidak merasa lelah sama sekali, mereka justru semangat dan merasa senang melihat banyak orang yang biasanya hanya mereka lihat di sosial media sekarang berada tepat di depan mata mereka.


Yang di tunggu akhirnya datang juga, acara selesai dengan sukses dan lancar tanpa kendala apapun. Nadia ambruk di kursi, dia melepas heels sehingga kakinya terasa lebih rileks. Tuti segera mengambilkan makanan untuk Nadia dan Bintang juga Asiyah dan Hidayat.


Mereka berempat makan di satu meja, masih di dalam ballroom hotel ketika tamu sudah tidak ada dan hanya tersisa keluarga dekat saja.


Setelah makan, bintang membawa Nadia ke kamar pengantin yang sudah di siapkan di hotel itu. Sementara yang lainnya langsung pulang ke rumah masing-masing.


“Tuan mau apa?” tanya Nadia saat melihat Bintang yang tidak juga keluar dari kamar mandi.


“Mandi, mau apa lagi” kata Bintang. Nadia menutup dadanya yang masih menggunakan manset dengan kedua tangannya.


“Tuan, biarkan aku mandi dulu. Setelah aku selesai baru Tuan yang mandi,” kata Nadia protes. Bintang tersenyum.


“Kau lupa, kita sudah menikah, Nadia. Sekaran kau adalah istriku, apa salahnya mandi bersama istriku,” Nadia terdiam. Benar juga, mereka sudah menikah tentu buan hal yang terlarang jka Bintang ingin mandi bersamanya.


“Tuan, nanti saja. Biarkan aku mandi sendiri dulu,” kata Nadia yang sama sekali belum siap jika Bintang harus melihat dirinya tanpa busana.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan membiarkanmu kali ini. Tapi ingat, hanya kali ini saja,” bulu kuduk Nadia merinding mendengar ucapan Bintang. Itu artinya mau tidak mau, siap tidak siap Bintang pasti akan melihhatnya tanpa busana secepatnya.


Nadia hanya bisa menggigit bibirnya. Kata siap yang selalu dia katakan walau bagaimanapun itu hanya di bibirnya saja, faktanya, Nadia belum benar-benar siap sepenuhnya.


Cukup lama Nadia berada di dalam kamar mandi, dia sengaja berlama-lama. Gadis itu mengatur nafasnya berulang kali mencoba menenangkan dirinya.


“Kau yang menginginkannya Nadia, kau bilang kau sudah siap. Semua sudah terlanjur terjadi, kau harus menjalaninya dengan segala ketulusan hatimu. Terima lah Nadia, jalani dengan sangat bahagia pernikahanmu. Kau yang menginginkannya kan?”


Nadia berusaha menguatkan dirinya, walau bagaimanapun jiwanya masih anak-anak. Setelah merasa dirinya sudah siap, Nadia lalu keluar dari kamar mandi. Dia melihat Bintang di atas tempat tidur hanya memakai handuk yang menutupi pinggan sampia pahanya. Nadia segera memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang sangat menarik itu.


“Tu tuan tidak mandi?” tanya Nadia tanpa melihat Bintang.


“Kau sudah selesai?” Bintang balik bertanya. Dia melihat Nadia yang masih menggunakan jubah mandinya. Gadis itu menunggu Bintang masuk ke kamar mandi baru dia akan memakai bajunya.


“Bagaimana kalau mulai sekarang kau tidak lagi memanggilku, Tuan. Aku tidak pernah dengan seorang istri memanggil suaminya seperti itu,” Nadia nampak berfikir, benar juga. Mungkin sekarang sudah waktunya dia memanggil Bintang dengan sebutan....


“Aaaku harus memanggil apa?” tanya Nadia. dia bingung harus memanggil apa pada suaminya.


“Panggil aku, sayang. Sayang yang kau ucapkan dari hatimu, bukan hanya seedar kata di bibir,” kata Bintang yang mendekatkan dirinya pada Nadia.


“Ttaapii”


“Panggil aku sayang,” kata Bintang. Dia sudah merangkul pinggul Nadia. wajahnya juga sudah semakin dekat sehingga Nadia bisa merasakan hangat hembusan nafas Bintang.


“Sayang,” panggil Nadia dengan pelan.

__ADS_1


“Aku tidak dengar, panggil aku sekali lagi,”


“Sa aayang” Bintang tersenyum mendengarnya. Dia mencium bibir Nadia, lalu mencium keningnya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


__ADS_2