Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 42


__ADS_3

Nadia dan Angel sudah berada di restoran, Nadia melihat ada yang aneh di mata Angel. Gadis itu mencoba tersenyum melayani pelanggan tapi seperti ada seseuatu yang dia tahan.


‘Pasti tadi sesuatu terjadi lagi di rumahnya’ batin Nadia menebak apa yang terjadi pada Angel.


Sementara Vanesa dengan berlarian menuruni tangga setelah mendapat pesan dari Angel kalau dia tidak jadi tinggal di rumahnya. Dia dengan senang hati menjemput Angel di restoran.


Saat Vanesa tiba, dia tersenyum meliht mobil Bintang juga sudah terparkir disana.


“Kayaknya bakalan ada yang nginap lagi nih” katanya terkikik.


Saat jam kerja selesai, Angel masuk ke dalam mobil Vanesa sementara Nadia masuk ke dalam mobil Bintang setelah melambaikan tangan pada temannya itu.


“Nyonya memangnya tidak ada di rumah, Tuan?” tanya Nadia melihat Bintang menjemputnya di saat seharusnya dia ada di rumah bersama istrinya.


“Ada” jawab Bintang singkat. Dia saat ini justru ingin menghindari Sarah untuk sementara.


“Sudah, jangan membahasnya. Aku tidak mau mendnegar namanya jika sedang bersamamu” sambung Bintang. Nadia hanya mengangguk saja lalu tidak lagi bertanya apapun sampai mobil masuk ke dalam garasi rumah.


“Tuan mau nginap lagi?” Nadia tidak bisa menahan dirinya untuk bertaya walau sebenarnya haknya Bintang untuk bermalam atau tidak karena itu adalah rumahnya.


“Kenapa, kau melarangku tidur di sini?” tanya Bintang dengan bercanda.


“Tidak, Tuan. Mana mungkin saya larang Tuan tidur di rumah sendiri” kata Nadia sambil memanyunkan bibirnya.


Mereka masuk kedalam rumah, Nenek Mina ternyata belum tidur karena menunggu Nadia.

__ADS_1


“Tuan...” Nenek Mina terkejut melihat Nadia pulang berasama Bintang. Kenapa Bintang bisa bersama Nadia malam-malam begini.


Nadia panik sambil melihat Bintang, dia tidak mau membuat Nenek Mina berfikir yang macam-macam tentang dirinya. Namun terlambat sudah, mereka tertangkap basah.


“Aku kebetulan lewat di depan tempat kerja Nadia, jadi aku sekalian saja mengantarnya pulang. Tidak apa-apa kan, Bi?” Bi Mina terlihat menghela nafasnya. Dia lalu memberi senyum yang sangat terpaksa pada Bintang.


“Tapi bagaimana kalau Nyonya tahu, Tuan. Nyonya pasti akan menyalahkan Nadia” kata Bi Mina yang sangat khawatir akan tindakan Sarah saat mengetahui apa yang kedua orang itu sembunyikan.


“Tidak perlu khawatirkan dia, aku yang akan mengurus itu” kata Bintang dengan tegas. Raut mukanya berubah datar dan dingin saat nama Sarah di sebut.


“Aku juga akan tidur di sini malam ini, aku tidur di lantai atas” tanpa menunggu persetujuan siapapun Bintang lalu naik ke lantai dua.


Saat Bintang sudah masuk ke dalam kamar tamu, Bi Mina memanggil Nadia masuk ke dalam kamarnya saat Nadia juga akan naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


“Nenek tahu semuanya, Nad. Nenek tahu hubungan kamu sama Tuan Bintang” tubuh Nadia gemetar, dia tidak bisa mengimbangi dirinya hingga nyaris tumbang andai saja Nenek Mina tidak memegangnya.


“Nek, Nadia...” Nadia tidak bisa mengatakan apapun di depan Neneknya. Dia menunduk malu karena Nenek Mina mengetahui hubungan terlarangnya dengan Bintang.


“Jangan menyangkalnya karena Nenek sudah lama melihat keanehan kalian” Nadia sungguh sudah tertangkap basah.


“Sudah berepa lama kalian berhubungan, apa sejak Nenek di rumah sakit atau sebelum itu?” Nadia masih diam dan tidak mengatakan apapun. Pikirannya kosong, dia sungguh tidak siap menghadapi situasi seperti ini di mana ada orang lain yang mengetahui hubungannya dengan Bintang. Dan itu adalah Neneknya.


“Jangan menutupinya lagi dari Nenek, Nad. Nenek benar-benar kecewa sama kamu, kamu jelas tahu kalau Tuan Bintang sudah menikah dan istrinya adalah wanita yang sangat dia cintai, kamu juga melihatnya setiap hari sewaktu kita masih tingga di rumahnya kan bagaimana Tuan Bintang memperlakukakn istrinya seperti ratu. Lalu kenapa kamu sampai berani menjalin hubungan yang sangat menakutkan ini, Nad. Bagaimana kalau Nyonya sarah sampai tahu, apa yang akan dia lakukan padamu. Apa kamu sudah berfikir sampai sejauh itu sebelum kamu berani menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri. Kamu masih kecil, Nad. kenapa kamu mau menjadi perusak rumah tangga orang. Itu sama saja dengan pelakor, Nad. Apa pandangan orang-orang kepada kamu kalau sampai hubungan kalian terbongkar,” Nadia belum bisa mengatakan apapun. Hal yang paling dia hindari adalah mengecewakan wanita tua yang sudah merawatnya sejak kecil itu.


Nenek Mina menyadari hubungan Nadia dan Bintang sejak malam saat dimana Bintang dan Nadia tidur di kamar yang sama. Malam itu Nenek Mina melihat dengan sangat jelas kalau Bintang masuk dan tidak keluar sampai pagi dari kamar Nadia. Hingga saat pagi saat dia bangun, dia melihat Bintang sudah duduk di ruang tamu. Nenek Mina pun berpura-pura terkejut sambil bertanya kapan Tuan datang waktu itu.

__ADS_1


Bintang yang merasa rencana berhasil mengatakan kepada Nenek Mina kalau dia baru saja datang, dia langsung masuk karena pintu tidak terkunci. Nenek Mina pun pura-pura percaya pada Bintang.


“Akhiri sekarang juga, Nad. Nenek tidak mau orang-orang memberi cap pelakor padamu, apalagi kamu masih sangat kecil untuk menjadi perusak rumah tangga orang lain”


“Tapi Nadia sayang sama Tuan, Nek” Nadia akhirnya membuak suara. Tapi bukan itu yang Nenek Mina ingin dengar. Dia ingin Nadia berjanji untuk tidak lagi menemui Bintang.


“Kamu mau jadi pelakor, atau yang buruknya kamu akan jadi simpanan, Nad. Kamu hanya akan jadi simpanan. Apa kamu tidak sayang sama diri kamu sendiri” Nenek Mina berusaha setenang mungkin meskipun ada bara yang siap keluar dan membakar suasana malam itu.


Nadia mengerti kekhawatiran Neneknya, dia juga takut kalau seandainya Sarah mengetahui hubungan mereka. Dia juga pernah berusaha untuk menjauhi Bintang, tapi laki-laki itu terus datang dan kembali membuat Nadia luluh padanya. apalagi setelah dia tahu bahwa Sarah memiliki laki-laki lain di belakang Bintan.


“Kita pindah saja, Nad. Kita tinggal di kampung halaman Nenek, yah. Nenek benar-benar tidak mau kamu merusak masa depan kamu” permintaan Nenek Mina tentu tidak mungkin Nadia penuhi.


Bagaiaman dengan kuliahnya, bagaimana dengan pekerjaan dan teman-teman yang sudah seperti saudaranya sendiri.


“Kalau kamu tidak mau pindah ke kampung, tinggalkan Tuan Bintang. Kita juga akan pindah dari rumah ini. tinggal disini pasti akan membuat Tuan Bintang lebih mudah bertemu denganmu”


“Tapi, Nek...”


“Nenek mohon, Nad. dengarkan Nenek!”


Nadia tidak bicara lagi, Nenek Minapun sudah naik ke atas tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya.


Sementara Nadia juga naik ke atas tempat tidur, matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Semua yang Nenek Mina ucapkan terulang kambali di kepalanya. Jauh di lubuk hatinya diapun ingin menyudahi hubungan yang tidak jelas kemana akhirnya ini. Tapi dia sudah terlalu melangkah sejauh ini, perasaannyapun sudah tumbuh semakin dalam hingga dia merasa sulit untuk melepaskan diri dari hubungannya dengan Bintang.


Malam sudah semakin beranjak hingga pagi hampir menjelang Nadia belum juga bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2