Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 70


__ADS_3

“Kau tidak kuliah?” tanya Bintang saat melihat Nadia masih dengan pakaian rumahannya sedan membersihkan teras rumah.


“Tidak, Tuan,” jawabnya.


“Kenapa, kau sudah terlalu banyak bolos. Bagaimana kau bisa mengerti pelajaranmu kalau kau sering absen mata kulaih,” bukannya merasa bersalah dan berfikir bahwa Bintang benar, Nadia malah tertawa di omelin Bintang.


“Apa yang lucu?”


“Tidak, kalau aku punya Papa, pasti aku akan di omeli seperti yang Tuan katakan sekarang,” Bintang hana meliriknya kesal lalu berjalan menuju mobilnya.


“Aku akan menagih janji mu nanti malam,” kata Bintang sebelum masuk ke mobilnya. Senyumnya seperti memberi peringatan keras pada Nadia.


“Ihh, kenapa aku jadi takut lihat senyumnya Tuan Bintang. Dia kan hanya minta di cium, hanya di cium saja tapi kenapa wajahnya menakutkan begitu.”


Tiga sekawan itu kembali bertemu, mereka bertemu di rumah Vaensa karena Vanesa saat ini masih trauma untuk keluar rumah. Vanesa hanya merasa aman jika ada di rumahnya di mana banyak orang yang akan menjaganya sehingga tidak akan ada yang berani menyakitinya.


Mereka sedang membicarakan tentang masa depan mereka sebagai mahasiswi di kampus milik keluarga Alex itu. Mereka akan mencari kampus yang baru agar mereka tidak akan lagi berhubungan apapun dengan Alex.


“Biar aku sama Angel yang cari kampusnya, kamu di rumah aja,” kata Nadia yang tahu kalau Vanesa pasti masih tidak mau keluar rumah.


“Iya, aku nggak mau keluar rumah dulu,” kata Vanesa. “Aku masih takut banget kalau nanti ketemu sama bajingan itu lagi,” tambahnya. Vanesa tentu masih sangat trauma.


“Adrian bagaimana?” tanya Vanesa. Kemarin dia hampir pingsan melihat darah segar keluar dari mulut Adrian.


“Dia sudah baik-baik aja tapi orang tuanya melarang dia buat kuliah dulu. Masih di suruh istirahat,” jawab Angel yang terus berkabar dengan Adrian lewat pesan singkat.


“Kamu di rumah baik-baik aja?” Vanesa bertanya pada Angel. Dia sebenarnya merasa sedih membiarkan Angel kembali ke rumahnya. Dia tahu kalau Angel sangat tidak nyaman berada di rumahnya. Tapi reaksi Angel sangat di luar dugaan, gadis itu tersenyum dan itu sebuah senyuman kebahaiaan.

__ADS_1


Vanesa dan Nadia saling pandang mencoba menebak apa yang terjadi. Angel lalu menceritakan pada kedua temannya tentang orang tuanya yang sudah menyadari bahwa mereka telah memperlakukan kedua anaknya dengan berbeda. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Angel dan itu tentu membuat Nadia dan Vanesa ikut merasakan kebahagiannya.


“Selamat yah, akhirnya kamu mendapat keadilan di rumah kamu,” mereka lalu berpelukan merasakan bahagia yang sama seperti yang Angel rasakan.


“Semoga semuanya bisa cepat selesai dan kita benar-benar bisa memulai semuanya dari awal lagi dan tidak ada lagi yan akan membuat kita sedih,” kata Nadia yang di angguki teman-temannya.


Nadia dan Angel lalu mendatangi restoran tempat mereka bekerja, kedatangan Angel kali ini bermaksud pamit pada semua orang terutama pada managernya yang selalu baik padanya dan Nadia. Ini juga pertama kalinya Nadia datang ke restoran ini sejak kemarin dia kembali ke kota.


Manager cantik itu menghela nafas.


“Kalian tidak tahu kan siapa pemilik restoran ini?” tanya manager, Angel dan Nadia menggeleng karena mereka memang hanya langsung berhubungan dengan manager dan belum pernah melihat langsung siapa pemilik restoran ini. Karyawan yang lain juga tidak ada yang pernah bertemu dengan pemiliknya karena katanya sedang berada di luar negeri.


“Kalian kenal kok, apalagi kamu Angel,” Angel dan Nadia saling memandang dengan ekpresi yang sama.


“Tuan Bryan,” Angel mengkerutkan keningna lalu ekpresinya berubah ketika menyadari Bryan siapa yang di maksud.


Sekarang Angel dan Nadia baru menyadari kenapa mereka mendapat perlakuan yang begitu spesial dari manager padahal mereka hanya anak baru yang juga kerja setengah hari. Bukan hanya itu, gaji mereka juga sedikit lebih banyak dari karyawan bahkan yang sudah kerja sejak lama.


Ternyata sebelum pergi, Bryan meminta seseorang mengikuti Angel dan melihat apa yang gadis itu butuhkan karena Angel menolak pemberiannya secara langsung. Lalu restoran itu sengaja memasang lowongan di depan pintu mereka hingga akhirnya Angel dan Nadia melamar kerja di restoran itu dan langsung di terima. Semua itu bukanlah sebuah keberuntungan semata, Bryan sudah mengatur semua itu untuk Angel.


Bahkan sampai sekarang dari kejauhan, Bryan masih selalu menanyakan keadaan Angel dari managernya. Dia sudah mengatakan pada managernya untyk selalu membantu kalau gadis itu memerlukan sesuatu.


Bahkan Bryan juga mendukung hubungan Angel dengan pacar barunya, dari mana dia tahu? Tentu saja manager yang mengatakan padanya kalau ada seorang laki-laki yang selalu menjemput Angel setiap malam.


Angel terharu, dia bahkan tidak bisa menahan ketika buliran benig mengalir membasahi pipinya. Berbeda dengan Alex yang brengsek, ternyata Bryan benar-benar menyayanginya dengan tulus.


“Apa aku bisa telepon Om Bryan?” tanyanya kepada manager.

__ADS_1


“Tentu saja,”


Wajah Bryan sudah terpampang dengan kerutan di dahinya, tidak pernah sebelumnya managernya itu menghubunginya lewat panggilan video call. Tapi Bryan tetap menjawab video call itu. Setelah memastikan bahwa di ada orang lain di sekitar Bryan, manager pun memberikan ponselna pada Angel.


“Om Bryan,” kata Angel yang pipinya sudah basah karena air mata haru.


“Angel,” Bryan terkejut sekaligus senang melihat ternyata Angel yang ingin bicara dengannya.


“Apa kabar?” tanya Bryan.


“Aku baik, berkat Om Bryan. Makasih ya Om untuk semuanya, Om benar-benar baik banget sama aku,” kata Angel. Bryan tersenyum, senyuman yang terlihat begitu tulus.


“Jangan malu atau sungkan untuk bilang sama Om kalau kamu butuh sesuatu, sekarang Om benar-benar sudah menganggap kamu seperti anak Om sendiri,” kata Bryan yang membuat Angel semakin terharu.


“Iya, Om. Makasih.”


Angel menceritakan pada Bryan tentang orang tuanya yang sudah menyadari kesalahan mereka, dan Papa nya yang meminta dirinya untuk berhenti bekerja. Bryan terlihat kecewa tapi tetap mendukung apapun keputusan Angel.


Bryan mengatakan kepada Angel kalau Angel bisa selalu mengandalkannya karena Bryan tulus membantu dirinya tanpa ada maksud alain atau mengharapkan apapun.


Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dengan perasaan yang bahagia. Angel bisa melihat Bryan lagi setelah sekian lama begitupun dengang Bryan yang akhirnya bisa mendengar suara gadis kecilnya lagi.


Nadia dan Angel lalu pamit pada semua karyawan restoran karena mereka tidak akan lagi bekerja di sana sebagai pelayan.


Sejak awal mereka datang, semua orang menyambut mereka dengan ramah. Tidak ada yang iri pada semua keistimewaan yang mereka dapatkan meskipun mereka adalah karyawan baru.itu semua karena manager sudah mengatakan kepada mereka bahwa Nadia dan Angel adlah keponakan pemilik restoran yang hanya sekedar mencari kesibukan.


Tidak ada yang tahu, bahkan manager pun tidak tahu apa sebenarnya hubungan Angel dan Bryan di masa lalu. Biarlah itu hanya tetap menjadi masa lalu mereka yang menyenangkan untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2