Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 50


__ADS_3

Bintang mengakui kesalahannya, tapi dia juga tidak bisa mengontrol perasaannya. Siapa yang bisa menghentikan ketika rasa sudah tumbuh semakin dalam.


“Karena kau yang memberikan contoh pada istrimu, Bintang. Dia hanya mengikuti apa yang kau lakukan,” kata Hidayat. Suaranya kembali datar tapi raut wajahnya tetap sama, ada amarah yang bercampur kecewa.


“Dia tidak tahu, Pa. Tapi aku berusaha jujur padanya berharap dia juga mengakuinya, tapi dia tetap menyembunyikannya dariku. Dia bahkan sering menemui mantan pacarnya itu di luar negeri. Dia membohongiku selama ini.”


“Apa kau sudah pernah tidur dengan wanita itu?” pertanyaan yang sama jika itu tentang wanita yang menjalin hubungan dengannya.


“Tidak, Pa. Aku tidak pernah melakukan itu, aku hanya bercinta dengan wanita yang aku nikahi,” kata Bintang dengan tegas.


“Sara tahu kau memiliki wanita lain?” Bintang mengangguk.


“Dan apa reaksinya?” Hidayat dan Aisyah menunggu jawaban Bintang.


“Dia marah dan tidak terima, tapi saat aku mengatakan aku tidak lagi berhubungan dengannya dia lalu memelukku dan memaafkan ku” cerita Bintang sesuai dengan kejadia sebenarnya.


Bintang bukan ingin mengadu pada orang tuanya tentang kelakuan istrinya, dia hanya ingin memberitahukan kebenaran kepada orang tuanya. Kebenaran yang mereka dengar langsung dari mulutnya, bukan dari orang lain ataupun dari media.


Bintang juga menyembunyikan fakta bahwa Sarah telah merekayasa hasil pemeriksaan kesehatannya agar bisa menghindar dari tanggu jawabnya sebagai seorang istri. Agar dia punya alasan untuk terus menunda memiliki anak. Biarlah masalah itu hanya dia Sarah yang tahu. Bintang akan menyeesaikannya dengan Sarah masalah itu.


“Lalu apa kau akan menikahi wanita itu saat bercerai dari Sarah?” Bintang menghela nafasnya kembali mengingat Nadia yang entah sekarang ada di mana.


“Aku ingin, Pa. Tapi dia pergi dan meninggalkan aku,” jawabnya dengan lesu. Melihat reaksi Bintang, Hidayat dan Aisyah pun yakin kalau Bintang memang jatuh cinta pada wanita itu.

__ADS_1


“Siapa dia, siapa keluarganya?” tanya hidayat lagi.


Bintang tidak langsung menjawab, dia melihat orang tuanya bergantian. Dia tidak bisa memprediksi bagaimana reaksi kedua orang tuanya mendengar nama wanita yang akan dia sebutkan.


“Dia, dia hanya gadis biasa, Pa. Bukan dari kalangan atas, dia hanya seorang gadis biasa yang bekerja keras melanjutkan hidupnya,” jawab Bintang. Dia kembali melihat orang tuanya bergantian.


“Kau jatuh cinta padanya? Pada gadis biasa itu?” tanya Aisyah. Dia sangat penasaran seperti apa gadis biasa itu yang sudah membuat rumah tangga anaknya berantakan.


“Aku akan mengatakannya nanti, saat aku sudah menemukannya. Aku sedang mencarinya dan akan aku bawa bertemu dengan kalian. Aku harap kalian tidak akan menolaknya,” Bintang masih berani berharap orang tuanya menerima gadis yang sudah membuatnya menduakan istrinya.


 


Aisyah lagi-lagi menghela nafas, berita yang di bawa Bintang benar-benar membuatnya tergucang. Dia tidak menyangka akan ada perselingkuhan dalam rumah tangga anaknya meliht mereka berdua begitu saling mencintai.


Dia tidak mungkin memaksa Bintang untuk melanjutkan rumah tangganya dengan Sarah yang juga sudah mengkhianatinya. Jalan terbaik adalah berpisah karena bukan tidak mungkin suatu hari Sarah akan kembali menemui mantan kekasihnya itu.


“Apa kalian akan menerimanya, dia tidak sama seperti kita. Dia hanya gadis yatim piatu yang hidup bersama Neneknya,” Bintang mencoba memperjelas apakah orang tuanya akan menerima kehadiran wanita itu walaupun mereka berbeda status sosial.


“Jika kami menolak apa yang akan kau lakukan, kau tetap akan bersamanya kan? Jadi untuk apa kami menolaknya. Selama dia berperilaku baik dan tidak mempermalukan keluarga, kenapa kami harus tidak merestuinya?”


Jawaban Hidayat benar-benar membuat Bintang lega, dia pikir orang tuanya mungkin akan menolak Nadia karena gadis itu hanya gadis biasa dan bukan dari kalangan yang sama dengan mereka.


Aisyah tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak sanggup membayangkan gadis seperti apa yang akan Bintang bawa nanti. Tentu dia akan merasa malu jika gadis itu tidak punya latar belakang keluarga yang baik atau pendidikan yang bisa di banggakan.

__ADS_1


“Mama nggak bisa bilang apa-apa, Mama kecewa banget sama kalian berdua”, Aisyah lalu pergi meninggalkan anak dan suaminya.  Melihat Mamanya yang begitu kecewa, Bintang merasa benar-benar bersalah. Ini adalah pertama kalinya dia mengecewakan orang tuanya.


“Tidur saja di sini, ini sudah malam jangan membawa mobil sendirian” Hidayat lalu menyusul istrinya ke kamar sementara Bintang masih diam di tempatnya. Dia juga sebenarnya tidak punya kekuatan untuk kembali ke rumahnya malam ini.


Di lain tempat di sebuah desa, Nadia mulai terbiasa dengan kehidupan di sana. Tidak terlalu buruk hidup di desa menurutnya. Semua serba natural dan alami. Nadia yang tidak pernah melihat pemandangan alam tentu sangat terpesona, belum lagi semua orang sangat ramah padanya.


Pagi ini Nadia akan menemani Sari menanam coklat di kebun, Nadia sangat antusias. Dia membawa ponselnya dan merekam setiap sudut desa dan mengirimkannya di grup obrolannya bersama Vanesa dan Angel. Dia juga mengirim gambar dirinya yang sedang memetik buah durian di kebun Sari membuat Vanesa dan Angel tidak sabar untuk mengunjungi Nadia di desa.


Meski senang berada di desa yang semuanya tidak perlu di beli, Nadia tetap merindukan kehidupannya di kota. Sesekali saat dia mencoba memejamkan matanya, bayangan Bintang yang dengan wajah sedihnya selalu terlintas di kepalanya hingga membuat Nadia memikirkannya sepanjang malam sampai tidak bisa tidur.


Dia ingin sekali bertanya bagaimana kabar laki-laki itu, apakah dia baik-baik saja, apakah hubungannya dengan Sarah sudah kembali seperti dulu. Ah, Nadia sangat inign tahu tentang Bintang. Tapi Nadia berusaha sekuat hatinya untuk menahan rasa penasarannya, dia mencoba sebisa mungkin untuk melupakan Bintang dan semua yang sudah dia tinggalkan. Tapi tidak dengan kedua temannya pastinya.


Saat berjalan menuju kebun, Nadia berpapasan dengan Anton. Anak saudagar terkaya di desa itu. Anton juga baru pulang dari kota setelah menyelesaikan pendidikannya dan memilih pulang ke desa untuk membantu kedua orang tuanya mengurus sawah dan kebun mereka.


“Pagi, Nad” sapa Anton. Mereka sudah beberapa kali bertemu sebelumnya hingga mereka sudah terlihat cukup akrab.


“Pagi, Kak” balas Nadia.


“Mau ke kebun?” tanya Anton lagi melihat Nadia mengekor di belakang sari dengan membawa bekal untuk makan siang mereka.


“Iya, mau tanam coklat” jawab Nadia.


“Kak Anton juga mau ke kebun?” tanya Nadia melihat Anton berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Anton mengangguk yang di iringi dengan senyuman, mereka lalu jalan bersama karena Anton juga akan ke kebunnya untuk membersihkan sampah dari daun yang berguguran.


__ADS_2