
Sepulang kuliah Angel menemani Nadia di rumah sakit, mereka juga melakukan panggilan video call dengan Vanesa. Vanesa merasa sedih melihat Nadia sakit dan dia tidak berada di sana untuk menemaninya.
Tapi Nadia mengatakan kalau dia baik-baik saja dan sakitnya juga tidak parah, mungkin besok dia sudah akan keluar dari rumah sakit.
“Aku pulang yah, sudah sore,” kata Angel. Nadia sebenarnya tidak mau Angel pergi karena dia masih marah pada Bintang dan tidak mau bicara pada laki-laki itu untuk sementara. Kali ini, Nadia menyembunyikannya dari teman-temannya tentang dia dan Bintang yang sedang marahan.
Nadia ingin menjadi lebih dewasa dengan tidak menceritakan apa pun dalam rumah tangganya yang bersifat pribadi pada teman-temannya. Jika dulu Nadia selalu cerita tentang apa saja, itu karena dia masih menjalin hubungan terlarang dengan Bintang. Tapi sekrang dia sudah resmi menjadi seorang istri, dia tentu harus menjaga nama baik suaminya di dpena semua orang.
Sepeninggal Angel, Nadia hanya memainkan ponselnya melihat video-video lucu yang mungkin bisa menghiburnya karena mood nya benar-benar tidak baik. Jika tadi Angel tidak datang mungkin Nadia aan keluar jalan-jalan sendirian. Bintang datang tidak lama kemudian. Nadia tahu Bintang datang tapi menggabaikan suaminya itu.
“Aku bawa makanan dan buah untukmu, kau mau makan yang mana dulu?” tanya Bintang. Tapi Nadia masih tidak menghiraukannya. Dia maish fokus melihat video walau. Matanya menatap layarponselnya tapi telinga dan pikirannya tertuju pada laki-laki yangsedang mengeluarkan makanan dan buah-buahan dari tempatnya.
“Kau masih marah?” Bintang melihat Nadia diam saja dan wajahnya juga cemberut. Bintang baru ingat kalau yang dia nikahi adalah seorang anak kecil yang masih beranjak dewasa.
“Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud apapun dengan menanyakan hal itu padamu. Aku tahu kau siap melahirkan anak untukku,”
“Lalu kenapa Tuan bertanya seperti itu?” Bintang menghela nafas. Dia lalu menceritakan apa yang terjadi, hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Nadia tidak lagi marah padanya.
“Apa Sita sering membuatkan makanan atau minuman untukmu?” Nadia mengangguk cepat, dia sangat shock mengdengar cerita Bintang.
“Kenapa Mbak Sita setega itu, padahal aku tidak pernah berbuat jahat padanya. Aku merasa tidak pernah mengatakan apapun yang membuatnya tersinggung,” Nadia benar-benar tidak percayaseandainya Bintangtidak mengatakan kalau dia meliha tSita memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.
“Aku jadi takut,” Nadia menyandarkan kepalanya di dada Bintang. Bukanya hanya terkejut, Nadia juga menjadi takut.
__ADS_1
“Apa aku masih bisa hamil?” Nadia menarik diri dari pelikan Bintang dengan cepat mengingat tadi Bintang mengatakan kalau yang dia minum itu adalah obat pencegah kehamilan dalam dosis tinggi.
“Untung saja tubuhmu menolak obat itu dengan cepat, jadi dokter masih bisa mengatasinya. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau meminumnya lebih lama lagi,” Nadia kembali bersandar di dada Bintang.
“Mulai sekarang aku sendiri yang akan membuat makanan dan minuman untukku,” kata Nadia yang jelas trauma dengan kejadian ini.
“Kau tidakperlu khawatir, besok saat kau pulang kau tidak akan melihat Sita.”
Bintang sudah melaporkan hal ini kepada pengacaranya dan tim pengacaranya bergerak cepat melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib. Tidak akan ada ampun bagi sapapun dalan di balik semua ini.
Sementara itu, Sita yang sebelumnya melaporkan kepada Sarah tentang NAdia yang tiba-tiba sakit langsung mendapat ide untuk menjebak Nadia. Mereka mengubah rencana sebelumnya untuk membuat Nadia mandul menjadi membuat Bintang marah dan kecewa pada Nadia karena mengkomsumsi obat pencegah kehamilan.
Saat Sita menceritakan tentang ciri-ciri sakit yang di alami Nadia, Sarah tahu kalau mungkin obat yang dia berikan tidak cocok di tubuh Nadia karena dia juga mengalaminya di awal-awal. Dia dengan cepat menyuruh Sita menyimpan obat itu di tas Nadia karena Bintang pasti akan memeriksanya. Tapi sayangnya Sita kurang hati-hati sehingga Bintang melihat apa yang dia lakukan.
Sementara Sarah berpesta, Sita yang sudah bersiap-siap meninggalkan rumah itu atas perintah Sarah malah di jemput dengan paksa oleh pihak kepolisian dengan tuduhan percobaan pembunuhan meskipun Sita tidak mencoba membunuh Nadia.
“Ada apa ini, Pak,” kata Sita yang mencoba memberontak saat dua anggota polisi mencoba menangkapnya.
Tuti yang melihat hanya bisa melongo saja, dia juga tidak tahu apa masalahnya sehingga Sita di tangkap polisi.
Sebelum pulag ke rumah, Nadia menyempatkan diri untuk menjenguk Sita yang sejak semalam sudah berada di balik jeruji besi.
“Kenapa Mbak melakukan itu sama aku, aku salah apa?” kata Nadia. Dia tidak terima Sita melakukan itu padanya.
__ADS_1
“Maafkan, Mbak, Nad. Mbak terpaksa melakukannya” kata Sita dengan memelas. Sudah terlambat, Nadia pun tidak akan meminta Bintang untuk melepaskannya. Nadia tentu smarah dan sakit hati Sita hampir saja membuatnya mandul bahkan lebih parahnya Sita hampir menghancurkan rumah tangganya dengan Bintang kalau saja Bintang tidak melihat Sita memasukkan obat ke dalam tasnya.
“Apa Mbak di suruh orang?” dari semalam Sita belum mau memberitahu siapa dalangnya. Bintang yakin Sita hanya suruhan seseorang. Bintang juga sudah bisa menebak siapa yang memberi perintah pada Sita.
“Sudahlah, Nad. Jangan buang waktumu bicara dengannya. Sebentar lagi kita akan tahu siapa tanpa dia bicara sekalipun,” Bintang menarik tangan Nadia yang masih ingin bicara pada Sita.
“Siapa Tuan?” tanya Nadia tidak sabaran.
Bintang menghela nafas saat mengetahui siapa dalangnya, mereka mengetahuinya dari ponsel Sita yang berhasil di amankan. Ponsel itu menjadi bukti kuat bahwa Sita dan Sarah telah senggaja merencanakan untuk meracuni Nadia.
“Sarah...” Nadia terpaku mendengar nama yang suaminya sebutkan.
Wanita itu mungkin ingin balas dendam pada Nadia karena sudah merebut suaminya.
“Jangan pikirkan, fokus saja pada kesehatanmu. Aku yang akan mengurus Sarah,” Bintang lalu membawa Nadia pulang.
Di rumah Nadia menjadi parno, akibat ulah Sita Nadia sekarang takut di buatkan makanan atau minuman oleh siapapun bahkan oleh Tuti sekalipun. Dia membuat minuman sendiri lalu membawanya naik ke kamar. Tuti yang tidak mengerti apa-apa malah bingung di buat sikap Nadia yang tiba-tiba tidak mau bicara padanya.
“Kau sangat dekat denga Tuti kan, tidak mungkin Tuti melakukan hal yang sama padamu,” kata Bintangsetelah Nadia mengatakan kalau dia tidak mau percaya siapapun sekarang.
“Aku kan harus tetap waspada, siapaun bisa berubah dalam sekejap,” kata Nadia.
Bintang mengerti kekhawatiran Nadia, istrinya itu pasti masih sanat trauma dengan kejadian ini. Bintang akan coba bicarapada Nadia nanti mengenai Tuti. Kalau Nadia keberatan, dia juga akan memberhentikan Tuti dan mencari pembantu baru tentu setelah memastikan latar belakangnya.
__ADS_1