Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 74


__ADS_3

Bintang yang melihat Nadia kebingungan berusaha untuk menolong gadis itu walaupun dia juga tidak mengerti kenapa orang tuanya menanyakan hal itu pada Nadia.


“Kenapa bertanya seperti itu, Ma?” Aisyah melirik Bintang dengan kesal.


“Memangnya sampai kapan kamu mau menyembunyikannya dari Mama?” sekarang giliran Bintang yang mendapat pertanyaan yang membuatnya tidak mengerti. Bintang menatap Aisyah dan Hidayat dengan pandangan penuh tanda tanya. Apa sebenarnya maksud kedua orang tuanya sebenarnya.


“Sudahlah, Mama dan Papa sudah tahu tentang hubungan kalian. Jadi jangan sembunyikan lagi dari kami.”


Bintang terlihat santai saja meskipun hubungannya dengan Nadia telah tertangkap basah oleh orang tuanya. Berbeda dengan Nadia yang terlihat salah tingkah. Entah bagaimana dia harus menunjukkan sikap di depan Asiyah dan Hidayat.


Nadia memainkan tangannya yang sudah basah oleh keringat. Dia merasa seperti pencuri yang tertankap basah. Bintang merapatkan duduknya, sekarang dia sudah duduk tepat di samping Nadia. Dia menggenggam tangan gadis itu di depan kedua orang tuanya. Nadia yang merasa tangannya di sentuh Bintang langsung melepas tangan Bintang dan menjauhkan dirinya dari Bintang.


“Maafkan saya, Nyonya, Tuan. Saya sudah berani jatuh cinta pada Tuan yang jelas berbeda dengan saya. Maafkan saya.”


Nadia merasa bersalah sudah berani jatuh cinta pada majikannya, dia tidak sadar akan perbedaan luar biasa yang terbentang luas di depannya.


“Saya akan pergi, Nyonya. Saya tidak akan lagi mengganggu Tuan Bintang, saya akan melupakan Tuan dan akan pergi sejauh mungkin,” kata Nadia dengan menundukkan wajahnya. Sekarang dia sudah duduk di lantai.


“Tidak, kau tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap di sini.” Bintang memegang tangan Nadia dan membawa gadis itu kembali duduk di sofa. Kali ini dia tidak membiarkan gadis itu melepasnya.


“Tuan, saya  mohon,” pinta Nadia pada Bintang. Dia merasa ingin segera pergi dari hadapan Aisyah sebelum wanita itu mengatakan hal-hal yang tidak mau dia dengar.


Sementara Asiyah dan Hidayat hanya saling tatap dan menikmati pertunjukan yang Bintang dan Nadia berikan. Mereka ingin melihat sampai di mana mereka akan saling memperjuangkan


“Ma, Pa. Bintang mau meminta restu Papa dan Mama, tolong restui hubungan kami,” pinta Bintang dengan tulus kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Melihat reaksi Aisyah dan Hidayat yang diam saja dengan pandangan yang tidak terbaca membuat Nadia merasa bahwa tidak akan ada harapan lagi. Dia harus merelakan hubungannya dengan Bintang berakhir.


Tapi tidak dengan Bintang, dia yakin bahwa orang tuanya akan memberi restu jika melihat reaksi mereka walau mereka hanya diam saja. Jika mereka menolak, sudah sejak tadi mereka mengusir Nadia.


“Kami akan memberi restu, tapi dengan satu syarat.” Nadia mengangkat wajahnya, mencoba memperjelas pendengarannya.


Orang tua Bintang memberi restu? Mereka tidak keberatan Bintang dan dia bersama? Apa dia tidak salah dengar. Tapi tunggu dulu,ornag tua Bintang mengatakan sebuah syarat, syarat apa itu?


“Syarat? Syarat apa?” tanya Bintang tidak sabaran.


Aisyah dan Hidayat saling pandang, mereka sangat menikmati mempermainkan Bintang dan Nadia.


“Kami ingin segera punya cucu. Jika kau berjanji akan memberi kamu cucu maka tidak ada alasan untuk menolak kalian.”


Bintang dan Nadia tentu terkejut dengan syarat yang orang tuanya ajukan. Cucu?


“Iya, cucu? Apa kau tidak sanggup dengan syaratnya. Kalau kau tidak sanggup, maka Mama akan mencarikan calon istri yang lain untukmu,”


“Tidak, Ma. Aku sanggup. Aku dan Nadia akan segera menikah,” kata Bintang dengan yakin. Tentu Bintang tidak akan menyiak-nyiakan kesempatan ini.


Nadia jatuh terduduk di sofa, jantungnya seperti di serang habis-habisan oleh Aisyah yang berturut-turut mengeluarkan kata-kata yang membuat jantung Nadia berdegup dengan kencang. Pertama saat dia mengatakan sudah tahu tentang hubungannya dan Bintang, lalu merestui mereka, dan sekarang mengatakan kalau mereka akan menerima dirinya asalakan dia dan Bintang segera menikah dan melahirkan cucu.


Sungguh Nadia tidak siap dengan keadaan yang tidak terduga ini. Dalam semalam dia mendapatkan berkali-kali serangan jantung. Dan yang terkahir membuatnya jantungnya hampir meledak adalah saat Bintang mengatakan setuju dengan syarat yang orang tuanya ajukan. Apa itu artinya dia akan segera menikah.


Nadia merasa seperti dejavu.

__ADS_1


“Baiklah, karena kalian sudah setuju Mama dan Papa akan istirahat kalau begitu. Besok siang kami ada undanan jadi Mama harus bangun pagi untuk bersiap-siap,” dengan santainya Aisyah dan Hidayat kembali ke kamar. Mereka tidak perduli dengan reaksi Nadia yang sudah seperti orang linglung yan baru saja sadar dari koma yang panjang.


Sepeninggal orang tuanya, Bintang menenangkan Nadia yang benar-benar tidak percaya dengan semua yang Aisyah katakan malam ini.


“Tuan...” kata Nadia melihat Bintang.


“Ada apa, harusnya kau senang Mama dan Papa ku merestui kita. Jadi mulai sekarang kita tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan kita dari siapapun,” kata Bintang


“Tapi...”


“Tapi apa...? kau tidak serisu dengan hubungan ini? Kau ingin mencari pasangan yang seusia dengan mu?” Nadia melirik Bintang dengan kesal. Laki-laki itu tdak mengerti, diantara semua kalimat Asiyah, dia paling shcok saat Aisyah meminta mereka segera menikah.


Bintang tahu apa yang ingin Nadia katakan, tapi dia hanya pura-pura tidak mengerti saja.


“Tidurlah, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”


Bintang menarik tangan Nadia naik ke atas, dia membuka pintu kamar Nadia dan membawa gadis itu masuk, setelahnya Bintang mencuium kening gadis itu lalu meninggalkannya setelah melihat Nadia sudah berada di atas tempat tidurnya. Nadia hanya sibuk dengan pikirannya sehingga dia tidak meihat bagaimana reaksi Bintang melihatnya seperti itu. Bintang tersnyum, dia bahagia karena sebentar lagi Nadia akan benar-benar menjadi wanitanya.


Sementara Nadia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Menikah? Bintang memang tidak memintanya secara langsung untuk menikah, tapi dengan mengatakan pada orang tuanya bahwa dia setuju sudah secara tidak langsung mengatakan kalau dia akan menikah Nadia.


Nadia belum sepenuhnya melupakan kejadian di desa saat Anton memintanya untuk menikah dan dia menolaknya hingga secara tidak langsung membuat Neneknya sakit dan meninggal. Nadia saat itu benar-benar tidak siap untuk menikah, apalagi dengan Anton.


Bukan hanya tidak siap secara mental, tapi Nadia tidak memiliki perasaan apapun pada Anton. Jika dia memaksa untuk menikah saat itu, mungkin saat ini dia akan berakhir di rumah sakit jiwa.


Tapi sekarang perasaannya berbeda. Dia terkejut karena orang tua Bintang tiba-tiba memintanya menikah dan... cucu...

__ADS_1


Nadia menutup kepalanya dengan bantal, dia merasa malu sendiri jika mengingat orang tua Bintang memintanya melahirkan cucu untuk mereka. Itu artinya dia dan Bintang harus....


“Arggghhhh.... aku belum mau menikah, aku belum mau punya anak, aku kan masih kecil masak bisa melahirkan anak.”


__ADS_2