Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 87


__ADS_3

Hari ini Asiyah dan Hidayat kembali ke rumah mereka yan berada di luar kota setelah sarapan. Bintang dan Nadia hanya mengantar mereka sampai di depan pintu karena mereka tidak ingin anak dan menantunya mengantar mereka sampai di rumah. Mereka tidak mau sampai Nadia kelelahan.


“Jaga tingkah lakumu, Nadia. Kau bukan anak gadis lagi. Sekarang kau sudah punya suami yang harus kau jaga dan rawat. Jangan terlalu sering bermain di luar nanti kau bisa lelah dan akan sulit untuk bisa hamil. Kau juga harus menjaga nama baik suami dan keluargamu. Sekrang kau bagian dari keluarga besar Aditama,” pesan Aisyah sebelum wanita paruh baya itu masuk ke dalam mobil.


“Ingat Bintang, perhatikan pola makan istrimu, pastikan dia makan makanan yang sehatdan bergizi. Berika vitamin penyubur kandungan bila perlu,” kali ini pesan itu di tujukan untuk Bintang.


“Iya, Ma. Aku dan Nadia pasti akan memberi Mama dan Pap kabar baik,” mereka lalu berpelukan, setelahnya Asiyah masuk ke dalam mobil. Nadia melambaikan tangannya sambil tersenyum mengiringi kepergian mertuanya.


“Kau dengar pesan Mama, jangan terlalu banyak main,” kata Bintang mengulang apa yangAsiyah katakan. Nadia hanya memanyunkan bibirnya dan masuk ke dalam rumah. Dia sudah bersiap untuk bertemu dengan kedua temannya itu.


Bintang mengantar Nadia ke kampus sebelum dia berangkat ke kantor. Ini adalah hari pertama Nadia kembali kuliah setelah dia menikah. Di depan kampus Nadia sudah melihat Vanesa dan Angel sedang menunggunya untuk masuk ke dalam bersama-sama.


“Ingat, kau sudah harus ada di rumah saat aku pulang,” kata Bintang sebelum Nadia keluar dari mobilnya.


“Iya, sayang” jawab Nadia. Gadis itu mencium mesra bibir suaminya lalu kekuar dari mobil. Setelah memastikan istrinya sudah masuk ke dalam area kampus bersama kedua temannya, Bintang lalu kembali melajukan mobilnya.


Vanesa dan Angel sudah tidak sabar mendenar cerita Nadia tentang malam pertamanya. Saking tidak sabarnya, mereka langsung menarik Nadia keluar ruangan begitu dosen selesai memberikan mata kulaih.


“Jadi bagaimana? Sakit nggak? Seru?” tanya Vanesa tidka sabaran.


“Sakit, tapi biasa aja, nggak seru” jawaban yang sangat di luar duagaan. Vanesa dan Angel sudah membayangkan seperti apa malam pertama itu. Pasti akan sangat seru dan...


Tapi bagaimana Nadia bisa bilang kalau malam pertamanya biasa saja.


“Apa Tuan Bintang loyo, dia tidak kuat seperti bodynya itu?” kali ini pertanyaan Angel benar-benar membuat Nadia geleng-geleng kepala. Bagaimana anak gadis sampai bisa berfikir seprti itu.


“Kuat kok, aku sampai ketiduran karena keenakan,” kedua gadis itu langsung heboh.

__ADS_1


“Enak kan, tadi kamu bilang biasa aja,” protes Vanesa.


“Iya, biasa aja. Setelah aku mandi, Tuan Bintang langsung naik ke tempat tidur...” Nadia mengehentikan ceritanya melihat reaksi kedua temannya yan sudah tidak sabar mendengar kelanjuta ceritanya.


“Dia buka selimut aku, terus...”


“Terus..teruss”


“Terus pijatin kaku aku yang pegal,” sambung Nadia.


“Terus... setelah pijat kaki kamu. Dia bikin apa lagi? Cium kamu atau...” mata nakal Vanesa melihat dada Nadia.


“Itu aja, saking nyaman dan enaknya saat di pijit aku jadi ketidura. Gitu aja sih malam pertamanya,”


“Nadiaaaa....” kata Vanesa dan Angel kecewa. Bukan cerita seperti itu yang mereka ingin dengar dari Nadia di malam pertamanya. Tapi memang itulah yang terjadi pada malam pertama mereka resmi menjadi suami istri.


“Kalian masih di bawah umur, aku nggak mau cerita tentang halphal dewasa sama anak kecil,” Angel mengalungkan lengannya di leher Nadia aak keras membuat gadis itu sampai mengaduh minta ampun.


Pulang kuliah, Nadia mentraktir kedua temannya makan dan nonton. Sekarang dia sudah menjadi seorang istri dan pebgusaha kaya raya, jadi sekarang dia sudah bisa mentarktir teman-temannya juga.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di dalam mall, makan belanja dan bermain seperti anak-anak. Lupa sudah Nadia dengan pesan Asiyah bahwa dia sekarang adalah seorang istri yang harus menjaga nama baik suami dan keluarga.


Hari menjelang sore. Ketiga gadis itu juga sudah lelah dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Vanesa masih tidak mau memakai mobil sendiri jadi dia meminta sopirnya untuk mengantar teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.


Orang tua Vanesa sudah menunggunya di ruang keluarga sejak tadi, mereka tidak menyuruhnya segera pulang tapi membiarkan dirinya bermain sepuasnya bersama teman-temannya meskipun ada hal penting yang harus dia sampaikan padanya.


“Pa, Ma” sapa Vanesa pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Sayang, duduklah. Ada hal penting yang harus kami bicarakan denganmu,” kata Vincent. Dia lalu ikut bergabung bersama mereka.


“Ada apa?” tanya Vanesa melihat wajah serius orang tuanya.


“Kami harus kembali minggu depan, perusahaan di sana membutuhkan kami. Di sini orang-orang kami melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga kami tidak perlu mengawasinya setiap waktu. Sedangkan di sana ada proyek besar yang membutuhkan kami,” kata Vincent.


Vanesa tentu merasa tidak merasa keberatan jika orang tuanya pergi lagi. Dia sudah biasa di tinggal sendiri kan.


“Kami tidak ingin meninggalkan kamu sendiri di sini sayang, kami mau kau ikut bersama kami,”


Vanesa diam, dia mencoba mencerna apa yang orang tuanya katakan walupun itu sudah sangat jelas. Mereka ingin Vanesa ikut bersama mereka tapi Vanesa merasa dia salah dengar sehingga meminta Laura mengulang apa yang tadi sia katakan.


“Kami tidak mungkin bisa tenang di sana jika kau sendirian di sini. Mungkin saja kejadian yang kemarin bisa terulang. Dan kami tidak ada di sini bersamamu,” kata Laura sekali lagi. Vanesa masih diam, dia masih tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


“Kau mau kan ikut bersama kami. Kami akan mencarikan universitas terbaik untumu, atau kau boleh memlilih sendiri kau ingin kuliah di mana. Kami bisa mengurus semuanya,” lanjut Laura lagi.


“Terlalu berbahaya meninggalkanmu sendirian di sini sayang, banyak orang yang akan mengincarmu dan memanfaatkamu,” tambah Vincent.


Vanesa benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak mau meninggalkan teman-temannya di sini, tapi apa yang orang tuanya katakan juga benar bahwa dia tidak aman berada di sini sendirian. Dia juga sudah mulai nyaman merasakan pelukan hangat dari kedua orang tuanya setiap hari, jika orang tuanya pergi Vanesa pasti akan merindukan mereka setiap hari lebih dari biasanya.


“Aku pikir dulu, yah,” kata Vanesa.


Vincent dan Laura menangguk memberi waktu pada Vanesa untuk berfikir walaupun sudah jelas mereka menginginkan Vanesa ikut bersama mereka.


“Tentu sayang, pikirkan baik-baik. Kami tentu ingin kau ikut bersama kami agar kami bisa menjagamu sepanjang waktu,” kata Laura.


“Putuskan secepatnya, kita sudah harus menyiapkan semuanya,” tambah Vincent. Vanesa mengangguk patuh, dia lalu kembali ke kamarnya untuk bersemedi memikirkan apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2