
Nadia melakukan panggilan video call dengan teman-temannya. Dia belum mengganti baju dan mencuci muka karena ingin memamerkan pada Vanesa dan Angel bahwa Bintang sudah melamarnya. Tapi saat panggilan video callnya tersambung, Nadia dengan cepat memutuskan panggilannya. Dia ingin mengatakan langsung saja pada teman-temannya.
Dengan cepat Nadia mengirim pesan bahwa dia akan memberitahukan pada teman-temannya kabar gembira.
Setelah membuka baju dan semua perhiasan milik Aisyah, Nadia tidur siang dengan perasaan yang sangat bahagia. Dia bukan membayangkan bahwa sebentar lagi dia yang akan menjadi Nyonya, tapi karena dia dan Bintang akan bersama selamanya.
Matahari sudah hampir tenggelam saat Nadia bangun, dia terlonjak melihat jam dan langsung bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat dia turun, dia melihat Bintang dan Hidayat sedang berbincang di ruang tengah.
“Maaf, saya ketiduran,” kata Nadia walaupun tidak ada yang bertanya padanya.
“Tuan butuh sesuatu?” tanya Nadia. Hidayat dan Bintang menghela nafas bersamaan.
“Sampai kapan kau akan terus memanggil Tuan dan Nyonya Nadia, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga kenapa kau tidak bisa mengubah caramu memanggil kami,” Hidayat mulai kesal mendengar Nadia yang masih selalu memanggil Tuan dan Nyonya.
“Maaf, Pa” katanya kemudian dengan menunduk.
“Sudahlah, lihat Mama di dapur. Dia mungkin sedang membuat cemilan untuk kalian,” tanpa mengucapkan sepatah kata, Nadia bergegas ke dapur menyusul Aisyah. Bisa-bisanya dia enak-enak tidur sementara calon mertuanya sedang ada di dapur.
Sudah ada Tuti dan Sita yang membantu Aisyah di dapur. Dia merasa sangat malu pada semua orang karena tidur sampai sore. Aisyah mungkin akan mencabut semua kata-katanya dan mengusir Nadia dari rumah.
‘Bodoh, maki Nadia pada dirinya sendiri.
“Maaf, Nyonya. Saya ketiduran,” Nadia menunduk tidak berani menatap Aisyah. Dia mendongak sedikit dan mendapati Asiyah menatapnya dengan kesal. Habislah sudah, dia dan Bintang pasti akan segera berpisah.
“Siapa yang kau panggil Nyonya?” Nadia mendongak dengan cepat sambil membulat kan matanya.
__ADS_1
“Mama kan sudah bilang Nadia, berhenti panggil Nyonya. Kau akan jadi istri anakku sebentar lagi,kenapa kau masih memanggilku Nyonya,”
Nadia bernafas dengan lega, ternyata Asiyah kesal padanya hanya karena dia memanggilnya dengan sebutan Nyonya dan bukan karena dia tidur saat semua orang sednag bekerja.
“Maaf, Ma,” kata Nadia lalu membantu Aisyah membuat kue kering kesukaan Bintang.
Aisyah meninggalkan dapur saat dia sudah merasa lelah, usia yang semakin tua membuatnya mudah lelah bahkan jika hanya beraktifitas sedikit. Dia lalu meminta Nadia dan Tuti menyelesaikan kuenya.
“Aku pikir Nyonya marah karena aku ketiduran,” kata Nadia pada Tuti.
“Dia tidak marah, dia bahkan melaranku saat akan membangunkanmu,” kata Tuti yang semakin membuat Nadia lega.
Kue yang sudah matang di bawa ke ruang keluarga untuk di nikmati seraya mengobrol bersama. Bintang sudah mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia sudah melamar Nadia dan gadis itu menerima lamarannya. Asiyah dan Hidayat bernafas lega, mereka pikir Nadia belum mau menikah karena masih ingin bebas menikmati masa remajanya.
“Tapi bagaimana Mama dan Papa tahu tentang hubunganku dengan Nadia?” Bintang sejak kemarin sudah penasaran bagaimana sampai orang tuanya bsa tahu hubungan mereka sedangkan mereka tinggal di luar kota.
Bintang lalu berfikir kalau mungkin Nadia sudah bertemu dengan Sarah. Bintang jadi gelisah, dia takut Sarah menyakiti Nadia karena marah dan dendam pada gadis itu.
Setelah makan malam, Bintang memanggil Nadia ke ruang kerjanya. Dia ingin menanyakan perihal Sarah yang sudah mengetahui hubungan mereka.
“Apa kau sudah bertemu Sarah?” tanya Bintang. Nadia menunduk, dia sadar apa yang sudah dia katakan pada Sarah adalah kata-kata kasar yang seharusnya tidak dia katakan pada orang dewasa. Tapi hari itu Sarah sudah membuat kesabarannya habis hingga dia mengatakan kata yang seharusnya tidak dia ucapkan hingga membuat Sarah marah.
“Iya, Tuan,” jawan Nadia.
“Apa kau yang mengatakan padanya tentang hubungan kita?” jujur Bintang akan kecewa kalau Nadia mengatakan langsung kepada Sarah. Itu artinya Nadia tidak sepolos yang dia bayangkan. Walaupun memang Nadia bukan gadis polos seperti bayangan Bintang.
__ADS_1
Nadia lalu menceritakan pada Bintang semua kejadiannya tanpa mengurangi satu adegan dan satu ceritapun. Bintang yang tadinya akan kecewa menjadi sangat marah pada Sarah. Dia ingat dengan jelas luka di bibir Nadia lalu esoknya ada luka lagi di kedua pipinya. Amarah Bintang[un sampai di ubun-uubunya.
“Kenapa kau baru cerita, aku tidak akan membiarkan di menyentuhmu untuk kedua kali kalau kau mengatakannya lebih awal padaku,” kata Bintang. Dia sudah menduga Sarah akan melakukan hal-hal gila jika mengetahui siapa wanita yang menjalin hubungan dengannya saat mereka masih menjadi suami istri.
“Aku bukan tukang ngadu, aku bisa menyelesaikannya sendiri,” kata Nadia. Bintang menarik nafas kasar, dai merasa frustasi mengetahui Sarah sudah berani menyakiti Nadia.
“Jiak kau bertemu dengannya lagi segera hubungi aku, tidak aku yang akan mengatakan padanya agar tidak mengganggumu lagi. Kau tahu Sarah kan, kau tahu bagaimana tempramennya dia. Aku tidak mau dia melakukan yang lebih gila dari hanya sekedar menamparmu, Nadia. Kau mengerti, kan.”
Nadia bangun dari duduknya, dia mengangguk dan tersenyum lalu mendekati Bintang.
“Aku mengeti,” katanya dengan suara manja dan senyum nakal yang tidak pernah Bintang dengar dan lihat sebelumnya. Lalu di luar dugaan Bintang, gadis kecil itu memeluknya membuat sekujur tubuh Bintang seperti terkena sengatan listrik.
“Maafkan aku sudah membuat Tuan khawatir,” katanya sambil menggosokkan wajahnya di dada Bintang. Bintang merasa kehabisan oksigen di dalam ruang kerjanya. Seperti ada yang terbakar di dalam tubuhnya.
Dia segera menjauhkan Nadia dari tubuhnya, jika tidak mungkin dia akan melahap gadis itu sekarang juga tidak perduli jka mereka belum sah sebagai suami istri atau orang tuanya yang sedang berada di rumahnya sekarang.
“Apa yang kau lakukan, kau mencoba memprovokasi aku. Kau tidak takut aku memakanmu dan membuatmu menjerit di sini,” kata Bintang.
Nadia tertawa mengejek, dia berani melakukannya karena tahu Bintang tidak akan macam-macam padanya karena di rumahnya sedang ada Aisyah dan Hidayat.
“Tuan tidak akan melakukannya,” kata Nadia masih tersenyum. Wajahnya sangat manis membuat Bintang tidak sabar segera melahap wajah manis itu.
“Siapa bilang, aku akan membuatmu tidak berdaya kalau kau terus-terusan memprovokasiku. Aku tidak perduli jika ada Mama dan Papa di rumah. Semua salahmu karena sudah berani menggodaku, jadi bukan aku yang akan kena omelan.”
Nadia berfikir dengan cepat, bisa jadi Aiysyah dan Hidayat akan benar-benar mengubah keputusa mereka jika saja terjadi seperti apa yang Bintang katakan.
__ADS_1
Gadis itu segera merapikan rambut dan pakaiannya lalu berlari keluar dari ruangan Bintang sebelum laki-laki itu benar-benar memakannya hidup-hidup.