Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 86


__ADS_3

Bintang dan Nadia kembali ke rumah hari ini, mereka sudah di sambut oleh semua penghuni rumah. Aisyah memeluk gadis itu saat melihatnya, dia tersenyum senang saat melihat wajah berseri mennatunya itu.


“Terimakasih ya sayang karena kamu mau menikah dengan anak Mama,” kata Asiyah. Dia mengurai pelukannya dan mengajak Nadia masuk ke dala rumah.


“Nadia yang harusnya terima kasih karena Mama sudah mau menerima Nadia menjadi menantu Mama,” kata Nadia. Mereka lalu di do sofa di ruan keluarga. Setelah bercerita singkat, Nadia dan Bintang naik ke atas.


“Kau mau ke mana?” tanya Bintang melihat Nadia akan masuk ke dalam kamarnya.


“Ke kamar” jawab Nadia dengan polos.


“Kau akan membiarkan aku tidur sendirian” Nadia membulatkan bibirnya setelah mengerti maksud Bintang.


“Kalau begitu aku mau membereskan barnag-barangku dulu,”


“Tuti dan Sita sudah memindahkan semua barangmu kemarin,” Nadia mengendikkan bahunya lalu mengikuti Bintang masuk ke dalam kamarnya.


“Sekarang ini adalah kamarmu, ubahlah seperti apapun mau mu aku tidak akan keberatan,” kata Bintang dia merasa Nadia mungkin akan mengingat Sarah jika dia melihat suasana kamarnya sekarang ini karena dia belum pernah merubah apapun sejak Sarah pergi.


“Aku mau mengganti semua seprei dan gordennya,” kata Nadia.


“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan,” Bintang mencium keninganya lalu meninggalkannya. Dia pergi ke ruang kerjanya karena banyak pekerjaan tertunda yang harus segera dia kerjakan. Nadia juga keluar kamar, dia ke dapur ingin mencari Tuti.


“Nyonya, apa ada yang anda butuhkan,” Nadia hanya menemukan Sita di dapur.


“Mbak Tuti mana?” tanya Nadia.


“Tuti sedang menemani Nyonya besar ke supermaket,”


“Ohh” Nadia lalu meninggalkan dapur karena ternyata Tuti tidak ada di rumah.


“Apa anda butuh sesuatu?” tanya Sita sebelum Nadia pergi. Awalnya Nadia sungkan karena merasa tidak pantas memerintah siapapun di rumah itu. Tapi karena sekarang dia adalah istri dari pemilik rumah, Nadia merasa tidak apa-apa jika dia meminta tolong.

__ADS_1


“Tolong bawakan aku makanan kecil ya, Mbak. Aku lapar,” katanya.


“Tentu, silahkan kembali ke kamar anda, saya akan mengantarnya,” kata Sita.


“Mbak, bicara sama aku biasa aja. Seperti biasa, jangan bicara seperti itu,” kata Nadia dengan sopan pada Sita.


“Anda kan Nyonya rumah sekarang, mana mungkin saya bicara tidak sopan dengan anda,” jawab Sita. Walau bagaimanapun Sita jauh lebih tua dari Nadia, dan dia merasa tidak enak mendengar Sita bicara begitu sopan padanya.


“Mbak boleh bicara santai sama aku kalau hanya ada kita berdua, oke” Nadia tidak mendengar jawaban Sita, dia langsung pergi dengan wajah yang riang gembira.


Sita terus melihat Nadia yang jalan sambil melompat seperti anak kecil, dia merasa tidak tega jika harus menuruti perintah Sarah. Tapi dia sudah menerima uang yang Sarah berikan jadi mau tidak mau dia harus tetap melakukan tugasnya. Setelah itu dia akan pergi dari rumah Bintang dan menghilang.


“Mbak, bantu aku dong” kata Nadia saat Sita masuk ke dalam kamarnya membawakan cemilan seperti yang Nadia minta.


Sita lalu dengan senang hati membantu Nadia mengatur semua barang-barangnya di lemari. Dia membuang semua barang Sarah yang masih tersisa di rumah itu.


“Mbak kalau mau ambil aja” kata Nadia yang menawarkan beberapa baju dan sepatu Sarah yan tidak sempat dia ambil. Nadia tidak mau ambil pusing jika suatu hari Sarah mencari barang-barangnya itu.


“Iya, ambil aja” kata Nadia. Sita tentu denan senang hati mengabilnya. Dia juga tidak akan mengembalikannya pada Sarah meski dia tahu itu adalah barang milik Sarah.


Nadia menawarkan pada Sita cemilan yang dia bawa tadi, Sita menolak tapi akhirnya dia makan juga ketika Nadia tidak berhenti menawarinya.


“Mbak sih, buat minumannya hanya satu. Jadinya kan aku yang minum sendiri,” kata Nadia meminum jus segar yang Tuti buatkan.


“Nggak apa-apa, Nad. Kamu minum aja” kata Sita.


Nadia dan Sita melanjutkan membereskan kamar itu, Nadia membuang semua seprai dan gorden yang pasti akan mengingatkannya pada Sarah. Nadia juga meminta Sita membawa foto-foto Sarah yang masih ada di kamar itu. Bintang bukan sengaja menyimpannya, hanya saja dia tidak punya waktu membereskan semua peninggalan mantan istrinya.


Diam-diam Sita mengambil gambar foto-foto Sarah dan mengirimkannya pada Sarah. Tidak lama Sita mendapat balasan Sarah tidak ingin semua foto itu, buang saja, katanya.


“Selesai deh” kamar itu sekarang sudah berubah menjadi lebih indah dan cantik. Semua tentang Sarah benar-benar sudah hilang dari kamar itu. Sekarang kamar utama menjadi milik Nadia dan Bintang.

__ADS_1


Sita keluar tepat saat Bintang masuk ke kamar.


“Apa itu yang Sita bawa?” tanya Bintang melihat Sita membawa sesuatu dari kamarnya.


 “Oh, itu barang-barang Nyonya Sarah. Aku kasih ke Mbak Sita dari pada aku buang,” jawab Nadia. Bintang hanya mengangguk tidak perduli.


“Sayang, besok sepulang kuliah aku mau jalan-jalan yah sama teman-temanku,” Nadia sudah mulai nakal dan berani. Dia juga sudah lancar memanggil Bintang dengan sebutan sayang.


“Tentu, pergilah. Tapi ingat kau sudah harus ada di rumah saat aku pulang,”


“Siap bos” Bintang gemas sehingga ******* bibirnya.


“Sayang, ini masih sore” katanya. Bukan apa, ciuman liar Bintang bisa saja akan berakhir di tempat tidur jika Nadia tidak mengingatkannya.


“Siapa yang menggodaku duluan” Bintang mengingatkan Nadia kalau tadi gadis itu yang lebih dulu mengelus dadanya dan memeluknya hingga membuat Bintang terpancing.


“Aku kan hanya mau membujuk supaya Tuan mengizinkan aku,” elak Nadia membela dirinya. Bintang pun melepaskan gadis itu setelah mengecup bibirnya sekilas.


“Kau tidak mau mandi bersama?” tanya Bintang. Nadia langsung menggeleng menolak ajakan Bintang dan berlari keluar untuk melihat apa yang di lakukan orang-orang di dapur.


Nadia turun ke bawah dan langsung ke dapur. Sudah ada Tuti dan Sita yang sedang memasak, Tuti yang melihat Nadia datang langsung menghampiri gadis itu.


“Kayanya tadi kamu nyariin Mbak yah?” tanya Tuti.


“Iya, tadi aku mau minta tolong bantuin buat beres-beres kamar, tapi tadi sudah kok sama Mbak Sita,” jawab Nadia.


“Mbak mau masak apa?” Sita sedang mencuci daging segar dan sayurannya. Sementara Tuti menyiapkan bumbu-bumbu. Nadia tidak mau tinggal diam dan melihat seperti Nyonya meskipun sekarang dia adalah Nyonya rumah.


Nadia lalu membantu memotong-motong sayur karena Tuti hanya memberinya pekerjaan yang ringan karena Nadia tetap ingin membantu meski sudah berulang kali Tuti dan Sita melarangnya.


Setelah semua masak, Nadia lalu kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengajak suami serta mertuanya untuk makan malam.

__ADS_1


__ADS_2