Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 40


__ADS_3

Malam ini Vanesa sedang bersama dengan Alex. Mereka makan malam di restoran tempat biasanya mereka bertemu. Hari ini Vanesa berdandan agak lain dari biasanya. Dia memakai celana jenas dan juga kaos kemudia jaket denimnya. Tidak lupa masker dan topi, hal itu membuat Alex menertawakannya karena tidak biasanya Vanesa terlihat tomboy seperti itu.


“Apa yang kamu takutkan, sayang. Istriku sedang tidak berada di negeri ini. Dia sedang liburan bersama anak-anak di luar negeri” kata Alex setelah mendengar cerita Vanesa tentang apa yang dia lihat di restoran waktu itu.


“Jujur aku takur banget, Om. Kalau sampai hal itu terjadi aku pasti bakalan malu banget dan nggak berani lagi menampakkan diriku di mana-mana” cerita Vanesa sambil menyandarka kepalanya di bahu Alex.


“Tidak akan, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Kamu tidak perlu khawatir” walaupun Aelx mengatak hal yang menenagkannya, tetap saja Vaensa merasa khawatir dan takut.


“Vanesa, kamu harus hati-hati saat berteman dengan laki-laki. Jangan sembarangan menerima ajakan orang sekalipun kau pergi bersama teman-temanmu. Aku tida bisa selalu mengawasiu jadi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.”


Vanesa membulatkan matanya, mungkinkah Alex tahu apa yang sudah terjadi kemarin. Apa laki-laki itu tahu kalau Vanesa dan teman-temannya hampir saja terkena jebakan Aaron dan Arka. Vanesa membatin.


Gadis itu hanya mengangguk saja dan tidak mengatakan apapun. Kalau sampai dia bicara maka urusannya dengan Alex akan sangat panjang.


Malam sudah larut saat Alex mengantar Vanesa kembali ke apartemen, di loby ternyata ada Angel yang sudah menunggunya. Sebelum pulang, Vanesa sudah mengabari Angel agar menunggunya di loby. Alex lalu memutar mobilnya dan kembali ke rumahnya saat melihat Vanesa sudah masuk ke dalam lift bersama Angel.


Sementara itu, malam ini Bintang sudah kembali ke rumahnya setelah mengabari pada Sarah bahwa dia akan pulang hari ini. Saat sampai di rumah tadi, Bintang sudah melihat Sarah di dalam kamar. Dia tidak menampakan bahwa dia sudah tahu kebohongan sarah agar wanita itu tidak waspada dengan tindakannya sehingga Jony bisa dengan cepat membuka semua kobohongannya.


Sarah memakai baju tidur yang terkahir kali di pakai saat mengirimkan foto seksinya pada Bintang. Raut wajah Bintang berubah melihat baju itu, tangannya terkepal erat. Ingin rasanya dia mencekik sarah dan mengatakan mengapa dia sampai berbohong dengan mengirim gambar seksinya dan mengatakan dia berada di rumah.


Toh selama ini Bintang tidak pernah melarangnya kemanapun, jika dia ingin tinggal di hotel selama Bintang pergi, tentu Bintang tidak aakn melarangnya. Kenapa sampai harus membohonginya.


“Sayang...” Sarah mulai menjalankan aksinya, dia mulai menggoda dan merayu suaminya. Tapi bintang sudah kehilangan separuh hasratnya bersama Sarah. Serasa ada bagian tubuhnya yang mati dan sudah tidak tergoda dengan sentuhan Sarah.

__ADS_1


“Aku lelah” katanya menolah dengan halus saat Sarah akan menciumnya. Sarah tidak curiga apapun, suaminya itu mungkin memang sedang lelah.


“Selama malam” katanya lalu menarik selimut dan tidur di bawah selimut yang sama.


Saat tengah malam saat Bintang memastikan bahwa Sarah sudah benar-benar tertidur, dia bangun dan memeriksa tas yang tadi di pakai istrinya. Saat memeriksa tas itu dengan sangat hati-hati, Bintang menemukan sebuah obat dalam botol kaca. Bintang tidak tahu obat apa itu karena dia sama sekali tidak mengerti dengan obat-obatan. Dia memanggil satu butir obat itu dan menyimpannya di laci mejanya.


Tidak hanya obat, Bintang juga menemukan sebuah kartu yang Bintang tahu bahwa itu adalah kartu untuk akses keluar masuk apartemen. Bintang mengambil ponselnya dan mengambil  gambar kartu itu dengan kamera ponselnya. Bintang menyimpan tas itu kembali ke tempat semula saat melihat Sarah menggeliat di atas tempat tidur.


Bintang tidak bisa lagi memejamkan matanya, dia menatap tajam pada sarah yang berbaring di sampingnya. Sebisa mungkin Bintang menahan dirinya untuk tidak melakukan apapun malam ini. dia lalu bangkit dan pindah tidur di kamar tamu, dia sudah tidak bisa lagi berada di kamar yang sama dengan Sarah.


Besok paginya, Sarah sudah tidak menemukan Bintang saat dia bangun. Bintang meninggalkan sepucuk surat di bawah secangkit kopi keuskaannya agar Sarah masih yakin bahwa Bintang belum tahu apappun.


“Sayang, aku harus menjemput seorang klien di bandara pagi ini. Aku tidak tega membangunkanmu jadi aku pergi saat kau masih tidur, maafkan aku. Aku mencintaimu.”


“Ahh, aku sudah banyak membuang waktuku. Sekarang waktunya untuk kembali fokus pada pekerjaanku” katanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu Bintang menemui dokter yng juga teman baiknya, dia menyerahkan sebutir obat yang dia ambil dari dalam tas istrinya. Dia ingint tahu obat apa itu sehingga sarah menyimpannya di dalam tas, apakah dia sakit atau apa.


Dokter mengambil obat itu dan melihatnya dengan teliti.


“Ini pil KB, opil penunda kehamilan” kata dokter yang membuat Bintang terkejut luar biasa.


“Pil penunda kehamilan?” ulangnya seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


“Iya, di mana kau menemukan obat ini?” tanya dokter, “apa kau berhubungan dengan seseorang di luar sana dan mendapatkan obat ini” tebak dokter. Memang Bintang menjalin hubungan dengan orang lain, tapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hubungan dengannya apalagi memintanya minum pil itu.


Bintang lalu teringat dengan hasil pemeriksaan kesehatannya beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saja dia ragu dengan hasil itu.


Bintang lalu mnceritakan semuanya pada temannya itu, bagaimana hasil pemeriksaan kesehatannya yang mengatakan bahwa dia harus berobat dengan rutin jika ingin segera punya keturunan.


“Benarkah, kenapa kau tidak datang padaku dan malah pergi ke tempat lain” katany dengan wajah kesalnya mengetahui temannya periksa kesehatan di rumah sakit lain.


“Sarah yang mengaturnya” dokter yang bernama Vino itu pun hanya memasang wajah masamnya.


“Baiklah, ayo. Aku akan mengantarmu untuk melakukan pemeriksaan ulang. Mungkin saja dokter itu tidak memeriksa dengan benar” kata Vino.


“Apakah hasil itu bisa di rekayasa?” Bintang sudah mulai curiga bahwa hasil pemeriksaannya hari itu palsu.


“Tentu, hasilnya bisa di rekayasa. Tapi itu sangat berbahaya kalau sampai ada dokter yang berani melakukannya” terang Vino. Bintang sudah mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tidak menyangka sarah akan melakukan hal sejauh itu.


“Tapi apa untungnya istrimu melakukannya, apakah pil juga miliknya” Bintang tidak menjawab, tapi melihat wajahnya sepertinya pertanyaan Vino sudah terjawab.


Bintang masih berharap bahwa apa yang dia curigai tidak benar, bahwa memang dia bermasalah dengan kesehatannya. Dia tidak akan bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika benar-benar Sarah memanipulasi hasil pemerikasaannya.


“Aku harap Jony tidak menemukan apapun Sarah, kau hanya sedang bersenang-senang dengan teman-temanmu di suatu tempat. Dan juga aku harap kau tidak ada hubungannya sama sekali dengan hasil pemeriksaan hari itu”, batin Bintang.


Masih ada sedikit harapan dalam hatinya bahwa semua kecurigaannya pada Sarah hanyalah sebatas kecurigaan dan Sarah tidak melakukan apapun yang mengecewakannya apalagi sampai membuatnya membenci wanita yang sudah menjadi istrinya bertahun-tahun itu.

__ADS_1


__ADS_2