Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 59


__ADS_3

Sudah dua hari sejak Nenek Mina meninggal, Vanesa dan Angel masih setia menemani Nadia di desa meskipun mereka merasa sangat tersiksa karena tidak ada tempat tidur dan juga kamar mandi yang memprihatinkan.


“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Angel saat mereka baru saja kembali dari makam Nenek Mina.


“Balik ke kota aja, yah. Kamu bisa tinggal sama kita,” kata Vanesa menawarkan Andia untuk tinggal bersama mereka di apartemennya.


“Iya, aku mau balik ke kota. Mau lanjut kuliah,” jawab Nadia. Masih terlihat jelas awan mendung menyelimutinya, wajahnya masih selalu murung dan sesekali Nadia masih menangis mengingat Nenek nya yang sudah pergi meninggalkannya.


Lankah ketiga adis itu terhenti saat seseorang tiba-tiba berdiri di depan mereka, Vanesa menoleh mencari sopirnya yang selalu mengikuti mereka karena beberapa kali dia melihat orang itu selalu memperhatikan mereka.


“Maaf, kamu siapa yah?” tanya Angel dengan ramah. Dia sadar kalau dia sedang berada di desa orang, dia tidak boleh sembarangan berlaku kasar pada sembarang orang. Angel juga sering melihat orang itu memperatikan mereka dari jauh.


“Maaf, boleh saya bicara dengan Nadia?” tanya orang itu. Vanesa dan Angel melihat Nadia, seolah bertanya siapa orang ini. Vanesa dan Angel lalu menunjukka ekpresi yang sama saat mereka menebak satu nama dalam hatinya.


“Anton... kamu Anton?” tebak Vanesa dan Angel bersmaan.


“Iya, saya Anton. Boleh saya bicara sama Nadia, sebentar aja?” ulangnya sekali lagi.


“Nanti sampai di rumah aja, yah. Biar bicaranya di rumah aja,” kata Angel yang mempersilahkan Anton mengikuti mereka sampai di rumah tanpa meminta persetujuan Nadia. Anton lalu mengikuti ketiga gadis itu dari belakang.


Saat sampai di rumah, Vanesa dan Angel meninggalkan Nadia bersama Anton sementara mereka duduk di kursi bambu yang ada di depan rumah sambil menguping.


“Maafin aku yah, Nad. Kalau saja aku tidak memaksa orang tuaku untuk datang mungkin saja...” Anton tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia takut membuat Nadia kembali sedih mengingat Neneknya.


“Sudahlah, semua sudah terjadi juga,” kata Nadia yang mengerti apa yang akan Anton katakan.


“Aku juga mau minta maaf, aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku belum siap untuk menikah. Harusnya juga aku bilang dari awal sama kamu, tapi aku tidka mau menyakiti hati kamu,” kata Nadia yang akhirnya menolak secara langsung lamaran Anton. Laki-laki itu menganguk mengerti.

__ADS_1


“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Anton.


“Aku akan kembali ke kota, aku akan melanjutkan kuliahku,” jawab Nadia. Sekali lai Anton mengangguk.


“Aku harap kamu bahagia, Nad. Apapun keputusan kamu aku akan selalu mendukung kamu. Kalau suatu hari nanti kamu butuh sesuatu atau pertolongan aku, kamu jangan sungkan untyk datan kemari karena aku akan selalu melakukan appaun untuk kamu,”


“Terimakasih,” pembicaraan mereka pun selesai. Semua rasa canggung sudah hilang di antara mereka, sekarang mereka kembali menjadi teman seperti saat pertama mereka bertemu.


Anton menunduk dan tersenyum sopan saat melihat bertemu Vanesa dan Angel di depan pintu, setelah dia lalu pergi meninggalkan rumah Nenek Mina.


“Ganteng, Nad,” kata Vanesa saat mereka masuk dan melihat Nadia masih duduk di kursi.


“Iya, lumayan,” tambah Angel. Nadia tersenyum, senyum yang pertama kali dia perlihatkan sejak Neneknya meninggal. Vanesa dan Angel lalu duduk di samping Nadia dan kembali memeluknya.


“Kalian itu, kalau lihat cowok ganteng aja,”


“Kita kan punya mata untyk menilai, Nad,” kata Vanesa. Masalah coeok ganteng, Vanesa memang tidak pernah mau ketinggalan.


“Maaf yah, kalian jadi tersiksa gara-gara aku,” Nadia merasa tidak enak. Vanesa dan Angelkan biasanya tidur di tempat tidur yan besar dan empuk.


“Makanya, kita cepat balik aja,” sambung Angel. Dia masih bisa tahan dengan tikar, tapi tidak tahan dengan kamar mandi yan sangat memprihatinkan itu.


“Besok, bagaimana?” kata Vanesa. Nadia mengangguk.


“Boleh,” jawabnya kemudian.


Saat makan malam, Sari mengajak memberikan sebuah surat kepemilikan sawah dan kebun kepada Nadia.

__ADS_1


“Semua itu punya Nenek Mina, Nad. Karena Nenek Mina sudah tidak ada, berarti semuanya itu sekarang menjadi milik kamu,” Nadia yang tidak mengerti apa-apa tentang surat itu memberikan semuanya pada Sari.


“Selama ini kan Tante yang mengurus semuanya, dan Nenek Mina juga Bibi nya Tante, jadi semua ini juga punya Tante,” kata Nadia.


“Tolong rawat rumah ini aja, aku akan datang sesekali untuk berziarah di makam Nenek. Dan kalau aku datang, aku akan tinggal di rumah ini,”


“Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan mengurus semua peninggalan Nenek Mina,” kata Sari menyimpan kembali surat-surat yang tadi dia berikan pada Nadia. Ketiga gadis itu makan, mereka makan masakan spesial yang di masak Sari khusus untuk mereka.


Sementara itu Bintang yang sudah mendapatkan alamat lengkap Nadia di desa sudah bersiap-siap untuk menjemput gadis itu. Dia tidak mau lagi menunda-nunda waktu, setelah mengecek semua perlengkapannya, Bintang membawa mengemudikan mobilnya seorang diri menuju kampung halaman Nenek Mina.


Bintang beristirahat sejenak karena hari sudah malam, dia juga tidak mungkin mencari rumah Nadia malam-malam begini karena kondisi desa itu sangat gelap.


Saat matahari akan terbit, Bintang kembali melanjutkan perjalanannya dan mencari rumah Nadia. Dia hanya tahu alamat desanya tapi tidak tahu di mana rumah rumah Nadia.


“Maaf, apa aku boleh tahu di mana rumah Bi Mina?” tanya Bintang kepada salah satu warga. Dia yakin warga sekitar hanya mengenal Bi Mina karena Nadia baru pertama kali datan ke desa itu.


“Bi Mina, Neneknya Nadia?” warga desa itu bertanya kembali. Bintang mengangguk dengan antusias, sebentar lagi dia akan benar-benar bertemu kembali dengan Nadia.


“Iya, cucunya memang bernama Nadia,” jawab Bintang.


“Tapi Bi Mina sudah meninggal tia hari yang lalu, dan mungkin Nadia sedang bersiap-siap untyk kembali ke kota.”


Bintang terdiam beberapa saat. Bi Mina meningal, benarkah, lalu bagaimana dengan Nadia, gadis itu pasti sangat terluka. Dia merasa sangat menyesal karena datang terlambat. Harusnya dia sudah menemukan Nadia sejak awal, setidaknya dia ada di saat Nadia membutuhkannya.


Seorang warga lalu mengantar Bintang menuju rumah Nenek Mina, perasaan Bintang yang tadinya begitu senang tiba-tiba menjadi kacau. Apayang akan dia lakukan saat bertemu gadis itu lagi, bagaimana dia akan menghadapi Nadia yang pasti masih sedih di tinggal satu-satunya keluarganya.


“ini, Pak. Ini rumah Nenek Mina,” kata warga yang tadi mengantar Bintang

__ADS_1


“Terimakasih, Pak,” kata Bintang. Bintang melihat sebuah mobil yan terparkir di depan rumah itu. Dia yakin kalau itu mobil teman Nadia yang kaya itu.


Bintang bernafas lega, setidaknya masih ada teman-temannya yang menemaninya di saat-saat terburuknya.


__ADS_2