Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 44


__ADS_3

Bintang yang sangat khawatir karena Nadia tidak juga menjawab teleponnya ataupun membalas pesannya langsung menuju rumah Nadia saat pulang kantor. Dia takut Nadia sakit sehingga tidak bisa memegang ponselnya walaupun kemarin Bintang tidak melihat tanda-tanda gadis itu akan sakit.


Saat sampai di rumah, Bintang sedikit heran melihat keadaan rumah yang sepi. Semua perabotan yang dia sediakan seperti kembali ke tempatnya semula saat pertama kali dia memberikan rumah itu apada Nadia. Bintang yang curiga lalu menuju dapur, lagi-lagi dia heran karena tidak ada apapun di sana. Biasanya selalu ada makanan yang tertutup tudung saji, sekarang meja itu bersih dan tidak ada apapun di atasnya.


Bintang segera naik ke kamar Nadia karena takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Namun Bintang kembali terkejut saat melihat kamar itu sudah rapi dan kosong. Bintang membuka lemari pakaian Nadia dan melihat hanya ada baju-baju yang memang dia belikan untuk Nadia, lalu memeriksa kamar mandi dan juga ternyata semua barang-barang Nadia sudah tidak ada lagi di tempatnya.


“Ada apa ini, kenapa kamu meninggalkan rumah ini,” Bintang memejamkan matanya lalu menarik nafas. Dia duduk di pinggir tempat tidur sambil menutup wajah dengan kedua tangannya memikirkan segala alasan sampai Nadia pergi tanpa memberitahunya lebih dulu.


Saat berdiri, Bintang melihat ada secarik kertas di bawah lampu tidur. Bintang mengambil kertas yang terlipat itu lalu melihat ada tulisan di dalamnya.


“Tuan, maafkan aku yang pergi nanti memberitahukan pada Tuan sebelumnya” Bintang mengehla nafasnya, gadis itu benar-benar pergi. Dia lalu kembali melanjutkan membaca surat itu.


“Nenek mengetahui hubungan kita” Bintang terpaku beberapa saat sebelum kembali membacanya.


“Nenek memohon sambil menangis agar aku menghentikan hubungan kita, Nenek tidak mau terjadi hal yang buruk padaku jika nanti Nyonya ataupun orang lain mengetahui hubungan kita. Aku hanya bisa berpamitan pada Tuan lewat surat ini karena Nenek memintaku menghapus dan memblokir nomor Tuan.”


“Maafkan aku, Tuan. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak mau mengecewakan Nenek lagi, aku benar-benar merasa sangat buruk ketika melihat Nenek menangis.”


“Aku pergi Tuan, ke tempat yang sangat jauh. Semoga Tuan dan Nyonya Sarah bisa bahagia selamanya.”


Bintang meremas kertas itu lalu menggenggamnya dengan erat. Dia lalu bergebas pergi ke tempat kerja Nadia berharap gadis itu ada di sana agar dia bisa melakukan sesuatu untuk menahannya. Tapi terlambat, Binatng tida menemukan Nadia di sana, dia mencari Angel tapi ternyata Angel juga tidak masuk kerja hari ini.


“Kemana kamu, Nad. Kenapa kamu pergi begitu saja, kenapa tidak membiarkan aku menjelaskannya pada Bi Mina tentang hubungan kita.”


Bintang merasa sangat terluka saat mengetahui Nadia pergi meninggalkannya, rasanya ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Saat sedang larut dalam pikirannya, Bintang mengingat tempat tinggal Nadia sebelum tinggal di rumah yang dia berikan, mungkin saja Nadia kembali tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Dengan keyakinan dan harapan yang penuh, Bintang melajukan mobilnya menuju rumah itu. dia memarkirkan mobilnya di depan gang lalu berjalan kaki masuk menuju rumah itu. dari kejauhan dia melihat pintu rumah terbuka, ada sedikit keyakinan dalam hatinya bahnya Nadia dan Bi Mina ada di dalam rumah itu. Dia pun mempercepat langkahnya.


Namun belum juga sampai, Bintang sudah melihat seorang yang tidak dia kenali keluar dari rumah itu dengan memakai daster. Dia memperlambat langkahnya sambil terus melihat rumah itu.


“Apa anda yang tinggal di rumah ini?” tanyanya pada wanita berdaster itu.


“Iya, saya baru seminggu kemarin tinggal disini. Ada apa?” tanya wanita itu. bintang mengehela nafas lalu menunduk lemah.


“Tidak apa-apa, terimakasih.”


Dengan hati yang sangat kecewa, Bintang lalu kembali ke rumahnya. Dia merasa sangat lelah, tubuhnya, jiwanya.


“Sayang kau dari mana saja, aku menelponmu dari tadi tapi kau tidak menjawab panggilanku sama sekali” Bintang berhenti, dia melihat Sarah yang berjalan ke arahnya. Istrinya itu sedang menunggunya di depan pintu. Dia langsung keluar saat mendengar suara mobil Bintang.


Sarah meresa tidak terima, dia lalu berlari mengejar suaminya yang sementara menaiki tangga.


“Sayang, kau kenapa. Apa ada masalah dengan perusahaan. Kau bisa ceritakan padaku, jangan menanggungnya sendiri,” Sarah terus mengekori suaminya hingga sampai di dalam kamar. Sungguh, Bintang sangat tidak ingin melihat istrinya itu. Dia mungkin tidak akan bisa menahan amarahnya saat ini jika Sarah terus berada di depannya sambil mengoceh.


“Diamlah, aku mohon,” Sarah benar-benar terdiam. Dia membeku seperti patung, bukan karena mematuhi perintah Bintang tapi karena perintah itu. Tidak pernah sekalipun Bintang mengatakan hal-hal yang akan menyakitinya.


Sarah diam, benar-benar diam. Dia hanya memperhatikan tingkah laku Bintang. Suaminya itu terlihat sangat frustasi. Sarah sangat ingin tahu apa yang sudah terjadi, tapi dia tidak mau Bintang kembali memintanya untuk diam jadi dia hanya memperhatikan saja.


“Kau mau pergi lagi?” Sarah tidak tahan untuk tidak bertanya melihat Bintang yang sudah kembali rapi dengan pakaian kasualnya.


“istirahat saja, kau kelihatan sangat lelah,” Sarah benar-benar mengkhawatirkan suaminya itu.

__ADS_1


“Tidurlah, tidak usah menungguku” Bintang lalu meninggalkan Sarah sementara wanita itu hanya melongo saat Bintang melewatinya begitu saja.


Tanpa pelukan dan ciuman? Yang benar saja. Apa itu benar-benar Bintang?


Sarah mengikuti Bintang sampai di depan pintu, hingga laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobilnya, tidak ada satu katapun yang dia ucapkan pada istrinya. 


“Mas Bintang kenapa sih, aneh banget. Nggak biasanya dia tidak cium dan peluk aku,” setelah mobil Bintang meninggalkan halaman rumah. Sarah juga kembali masuk ke dalam rumah. Dia naik ke kamarnya dengan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


Di dapur, Tuti melihat semua. Dia melihat bagaimana dinginnya Bintang pada Sarah, dia yakin kalau Bintang sudah tahu tentang persellingkuhan istrinya tapi belum punya bukti untuk membongkarnya, atau mungkin Bintang menunggu waktu yang tepat.


“Aku kangen banget sama Nadia dan Bi Mina, gimana kabar mereka yah,” kata Tuti. Dia selalu lupa untuk menghubungi Nadia dan menceritakan apa yang terjadi di rumah itu. setelah semua pekerjaannya selesai, tuti kembali ke kamarnya, mengunci pintunya lalu mengambil ponselnya dan menelpon Nadia


Panggilannya terhubung, dan tidak bereapa lama berering panggilan itupun tersambung.


“Halo, Nad”


“Mbak Tuti” jawab Nadia. Dia menjauh dari Nenek Mina yang sedang tertidur. Mereka menempati kamat Angel untuk sementara, sedangkan Angel tidur bersama Vanesa.


“Ada apa, Mbak?”


“Mbak kangen, gimana kabar kalian?”


“Baik, Mbak. Mbak sendiri gimana kabarnya?” tanya Nadia balik.


“Baik, Nad. Dari kemarin Mbak mau telpon kamu tapi lupa terus. Mbak mau cerita tentang Nyonya,” Nadia antara penasaran tapi juga berusaha tidak mau perduli lagi. Hingga akhirnya dia mendengar cerita Tuti. Nadia merasa sangat bersalah meninggalkan Bintang dalma keadaan seperti itu. mengetahui istrinya selingkuh pasti dia sangat terluka. Bukannya menemaninya, Nadia malah meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2