
Tuti membuka pintu dan melihat Nadia ada di depannya. Tuti yang terharu bisa bertemu lagi dengan Nadia pun memeluk gadis itu dengan haru. Semalam Bintang sudah memberitahu padanya kalau Nadia akan kembali tinggal dengannya meski Bintang tidak tahu kapan pastinya. Saat melihat Nadia sudah masuk ke dalam rumah, Vanesa pun kembali melajukan mobilnya.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau Bi Mina sudah meninggal,” kata Tuti saat dia Nadia berada di dalam kamar yang dulu Nadia tempati. Kamar itu sudah rapi dan bersih.
Nadia lalu menceritakan tentang dia yang bertemu dengan Sarah kemarin, Nadia juga bertanya kenapa sampai Sarah berfikir bahwa mereka berdua bekerja sama, Tuti lalu menceritakan apa yang dia alami. Dia juga sudah menjadi korban kekerasan yang di lakukan oleh mantan Nyonya mereka.
“Nyonya benar-benar keterlaluan...” kata Nadia. Tapi dia tidak seperti Tuti yang akan melapor pada Bintang, dia memilih untuk tidak memberitahu Bintang tentang pertemuannya dengan Sarah.
“Kalau sampai dia menyakiti kamu bagaimana?” tanya Tuti yang khawatir Sarah mungkin akan berbuat nekat hinggan mencelakai Nadia.
“Aku akan lapor polisi,” kata Nadia dengan percaya diri.
“Jadi kamu dan Tuan Bintang...?” Nadia mengangguk meski Tuti belum menyelesaikan ucapannya.
“Wah, mungkin aku akan panggil kamu Nyonya suatu hari nanti,” kata tuti seraya bergurau.
“Ih, Mbak Tuti. Apaan sih, aku belum berfikir ke sana sama sekali,” kata Nadia yang tiba-tiba merasa malu membayangkan dia menggantikan Sarah menjadi Nyonya di rumah itu.
Tuti lalu meninggalkan Nadia mengingat pekerjaannya yang juga belum selesai, tapi tidak lama Nadia juga menyusulnya. Jadilah mereka berdua kembali bekerja bersama-sama.
Saat malam tiba, Bintang masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat lelah. Tapi wajah lelahnya langsung hilang begitu melihat Nadia menyiapkan makan malam di meja makan.
“Tuan, Tuan butuh sesuatu?” tanya Nadia.
“Kenapa tidak bilang kau mau kembali, aku bisa menjemputmu,” kata Bintang.
“Tidak perlu, Tuan. Aku bisa datang sendiri,”jawab Nadia.
“Kenapa bibirmu?” Bintang memperhatikan bibir Nadia yang masih terluka walaupun luka itu sangat kecil dan hanya bisa di lihat jika di perhatikan dengan baik.
__ADS_1
“Oh, ini. Nggak apa-apa, tadi aku buru-buru makan sop padahal masih panas banget, jadi luka deh,” kata Nadia yang menyembunyikan kebenaran penyebab sampai bibirnya terluka.
“Kau ceroboh sekali, seperti anak kecil saja yang makan tidak sabaran,” omel Bintang. Nadia hanya tersenyum saja. Sementara Bintang naik ke kamarnya untuk membersihkan dirinya sebelum turun kembali untuk makan malam.
Sudah lebih semingu sejak Sarah pergi dari rumah dan Bintang hanya makan sendirian saja di meja makannya yang panjang. Dia merasa sangat sepi di rumahnya yang cukup besar itu. Tapi mungkin tidak lama lagi akan ada seseorang yang duduk makan di sampingnya dan melayaninya, setiap malam Bintang juga tidak akan lagi tidur hanya memeluk guling.
Saat ini Bintang tidak mau terlalu terburu-buru memaksakan kehendaknya pada Nadia, yang terpenting saat ini bahwa Nadia sudah tinggal lagi di rumahnya. Dia tidak perlu kemana-mana lagi mencari Nadia hanya untuk sekedar bertemu dengannya.
Hubungan Bintang dengan Nadia juga sudah mulai terang-terangan di dalam rumah meski saat ini Nadia masih berstatus sebagaia pembantu di rumah Bintang. Mereka sudah meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasiih. Meski begitu, Nadia tetap bekerja membantu Tuti dan dua pembantu lainnya yang tidak tinggal di rumah itu.
Tuti tidak lagi melarang Nadia menjalin hubungan dengan Bintang, dia memberi Nadia dukungan seratus persen untuk melanjutkan hubungannya. Hal itu tentu karena Bintang bukan lagi suami orang seperti dulu saat Tuti melarangnya.
Nadia juga sudah mulai menerima apapun pemberian Bintang padanya, dia tidak menolak tumpangan jika Bintang akan mengantarnya ke kampus ataupun menjemputnya sepulang kuliah. Seperti hari ini, Bintang sengaja ke kantor terlambat agar bisa mengantar Nadia ke kampus.
“Tuan memang tidak ada kerjaan pagi yang penting?” walaupun mereka sudah resmi menjadi sepasan kekasih, Nadia tetap tidak mau merubah panggilannya pada Bintang dan Bintang pun tidak tahu lagi harus mengatakana apa agar Nadia mau berhenti memanggilnya Tuan.
Saat sampai, Bintang mencium kening Nadia sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.
“Cieeh cieeh....” goda Vanesa saat Nadia berjalan ke arahnya dengan wajah semerah tomat.
“Akhirnya ya kalian bisa sama-sama setelah bolak balik bilang nggak mau ketemu lagi,” Angel menambahkan.
“Namanya juga jodoh,” Nadia mendapat sorakan dari teman-temannya.
Bukan hanya Nadia saja yang sudah meresmikan hubungannya dengan Bintang, Angel juga sudah menyandang status sebagai pacar Adrian.
Nadia kadang di jemput Bintang dan Angel hampir setiap hari di antar jemput Adrian, tinggallah Vaensa seorang diri.
“Cepetan cari, yang bisa di pamer kayak Adrian” kata Angel menggoda Vanesa yang hubungannya dengan Alex nasih belum terselesaikan.
__ADS_1
“Iya, kenapa harus takut sama Om Alex. Dia kan juga punya kehidupannya sendiri, nggak adil kalau dia mau ngelarang-larang kamu,” kata Nadia. Vanesa cemberut, dia benar-benar ingin mengakhri hubungannya dengan Alex dan menjadi gadis bebas agar bisa mendapatkan pacar yang juga bisa mengantar dan menjemputnya.
Tapi Nadia dan Angel bukanlah teman yang egois yang hanya mementinkan kebahagiannya sendiri. Mereka menolak ajakan pasangannya untuk pulang bersama, bukan hanya ajakan untuk pulang bersama, Angel bahkan menolak ajakn Adrian untuk menonton balapan seperti biasa saat malam minggu sedangkan Nadia meminta izin pada Bintang untuk menginap di apartemen Vanesa.
“Besok kita kemana?” tanya Nadia.
“Joging, yuk. Sudah lama banget kita nggak joging. Mumpung ada Nadia,” ajak Angel.
“Ayok...” jawab Nadia Dan Vanesa.
Ketiga gadis itu nonton bersama di ruang tamu di temani aneka cemilan yang tidak sehat tentunya. Mereka makan banyak karena berfikir besok akan mengeluarkan banyak keringat dan membakar kalori. Saat perut mereka bagian minuman dan makanan sudah penuh, mereka tertidur begitu saja tanpa mematikan televisi.
“Vanesa.... Angel...” panggil Nadia membangunkan teman-temannya. Dia juga mencari remote televisi untuk mematikannya dengan meraba ke sana kemari.
“Kenapa sih, Nad,” jawab Angel yang masih belum sadar.
“Remote televisi mana, berisik,” tanya Nadia. Angel lalu ikut meraba mencari remote televisi. Setelah menemukannya, dia mematikan televis dan kembali membungkus dirinya dengan selimut tebal sedangkan Nadia sudah kembali tertidur sejak tadi.
Rencana joging pun hanya tinggal rencana karena mereka tidak bisa membuka mata. Hingga matahari sudah meninggi salah satu dari mereka baru terjaga.
“Astaga....” teriak Vanesa yang membuat kedua temannya bangun.
“Kenapa...?” tanya Nadia sambil mengucek matanya.
“Sudah jam sepuluh, kita ketiduran,” kata Vanesa.
“Yah, nggak jadi joging dong. Padahal kan semalam kita sudah makan banyak. Nih lihat, perutku sudah buncit begini habis makan langsung tidur,” kata Angel sambil memeprlihatkan perutnya pada teman-temannya.
“Kita nge gym aja yuk,” ajak Vanesa. Nadia dan Angel langsung teriak setuju padahal mereka berdua sama sekali tidak pernah pergi ke tempat gym.
__ADS_1