
Hari ini Sarah mendatangi Bintang di kantornya, laki-laki itu sudah tiga hari tidak pulang ke rumah dan sangat jarang mau menjawab teleponnya. Sarah takut Bintang kembali menemui wanita yang dia bilang dia sukai itu, Sarah sungguh tidak mau kehilangan Bintang. Bukan kehilangan cinta dan perhatian, tapi dia takut kehilangan semua yang Bintang berikan padanya.
Dia tidak mungkin menerima jika seadainya Bintang memiliki wanita lain selain dirinya, bukan karena cinta tapi karena harga dirinya.
Seorang Sarah Diandra di duakan oleh suaminya, apa yang akan di katakan oleh orang-orang. Sarah sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa menjadi istri Bintang dan mendapatkan kembali semuanya berkali-kali lipat sekarang, dia tentu tidak mau kehilangam apa yang sudah susah payah dia dapatkan.
Sarah bahkan tidak segan-segan menemui wanita itu dan memberinya pelajaran agar meninggalkan suaminya jika benar mereka masih berhubungan.
Saat sampai di ruangan Bintang, sarah terpaksa harus menunggu karena Bintang sedang rapat dengan karyawannya.
Sarah sudah gusar menunggu satu jam lebih, dia sudah meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Bintang di kantornya.
“Apa rapatnya masaih lama?” tanya Saarah pada salah satu sekertaris Bintang.
“Saya kurang tahu, Nyonya. Saya tidak bisa memastikannya kepada anda,” jawab sekertaris itu dengan sopan. Sarah memutar bola matanya dan kembali mausk ke dalam ruangan suaminya.
Setengah jam kemudian Bintang kembali ke ruangannya, dia tidak sendiri tapi di ikuti oleh beberapa manager dari beberapa bagian.
“Sayang...” senyum di wajah Sarah seketika berubah ketika melihat orang-orang masuk satu per satu ke ruangan suaminya.
“Ada apa? Tumben kau datang tidak memberi tahuku,” Bintang masih tetap seperti biasa di depan karyawannya sementara sudah kesal bukan main.
“Aku sengaja memberimu kejutan, tapi ternyata kau sangat sibuk,” kata Sarah melihat orang-orang yang ada di ruangan suaminya.
“Pulanglah, tunggu aku di rumah,” kata Bintang. Sarah sungguh tidak percaya Bintang menyuruhnya pulang dan bukan menyuruh semua karyawannya keluar.
Sarah mengeram kesal, waktu berharganya terbuang sia-sia menunggu Bintang.
__ADS_1
“Baiklah,” Sarah ingin memberikan ciuman pada Bintang tapi dia urungkan melihat Bintang yang sama sekali tidak memperhatikannya dan hanya sibuk melihat kertas-kertas yang menunpuk di depannya.
Sarah melirik tajam semua orang yang ada di ruangan itu lalu pergi, wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena marah. Meski begitu dia masih bisa menahan dirinya.
“Brengsek, sialan. Aku menunggunya dua jam dan dia malah menyuruhku pergi” maki Sarah saat sudah berada di dalam mobilnya.
“Aku masih harus bersabar, aku akan menaklukanmu nanti malam,” kata Sarah yang mulai melajukan mobilnya dan kembali ke butiknya.
Malam hari saat Sarah pulang, Bintang sudah menunggunya di kamar. Dia begitu senang melihat Bintang di dalam kamar dengan pakaian santainya sambil melihat ponselnya. Sarah melempar tasnya ke atas tempat tidur, dia mngambil ponsel yang sednag Bintang pegang dan menyimpannya di atas meja lalu naik ke pangkuan Bintang.
“Sayang...” Sarah mencium bibir Bintang dengan lembut, Bintang diam saja dan tidak membalas ciuaman itu.
“Sayang, kenapa kau sangat jarang pulang?” tanya Sarah dengan manja. dia masih duduk di pangkuan Bintang.
Bintang berdiri hingga membuat Sarah ikut berdiri. Dia berjalan dan membuka laci meja lalu mengambil seseutu di dalamnya kemudian memberikannya pada Sarah.
Sarah mengambilnya, dia membuka isinya dengan penasaran. Dia menjatuhkan foto-foto itu karena terkejut melihatnya.
“Aku dan Mario hanya bertemu sebentar saja, itu pun kami bertemu secara kebetulan,” katanya memberi alasan pada Bintang.
“Benarkah? Kau hanya kebetulan bertemu dengannya?” Sarah mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaan Bintang.
“Sayang, kau ingat dia kan, dai temanku yang aku kenalkan saat pesta pernikahan kita,” kata Sarah lagi masih mencoba membela dirinya.
“Coba kau lihat foto yang lain, aku tidak yakin kau masih bisa bilang kalau hanya kebetulan saja bertemu dengannya,” Sarah menutup mulutnya yang terbuka lebar. Dia menunduk melihat foto yang dia jatuhkan tadi. Dia hanya melihat yang paling atas saja saat dia dan Mario jalan bergandengan tangan memasuki sebuah restoran. Entah kenapa masih ada yang mengenalinya padahal dia sudah memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
Sarah sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat lembar demi lembar foto itu. Dia ketahuan, padahal dia sudah sangat berhati-hati.
__ADS_1
“Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya,” kata Sarah. Bintang kembali ke tempat duduknya, dia terlihat sangat tenang meski dadanya sedang bergemuruh.
“Benarkah, coba jelaskan. Aku inign mendengarnya,” sarah berfikir. Bagaimana dia merangkai cerita agar Bintang percaya padanya.
Otaknya buntu, tidak tahu bagaimana dia harus mengarang cerita. Dia tidak mempersiapkan cerita apapun jika Bintang mengetahuinya karena dia berfikir Bintang tidak mungkin bisa tahu dia bertemu dengan Mario.
“Dia datang ke Negri ini dan memintaku menemaninya karena hanya aku teman dekatnya, kami hanya makan dan aku menemaninya membeli beberapa oleh-oleh untuk istri dan anak-anaknya. Percayalah sayang, aku tidak melakukan apapun di belakangmu,”
“Setiap hari? Kau menemaninya setiap hari sampai di apartemen dan tidak pernah pulang ke rumah saat aku ke luar negeri?” Sarah lagi-lagi tidak bisa berkata apa-apa.
“Sayang, dia hanya temanku. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya, percayalah. Dia juga sudah punya istri, aku tidak mungkin menjalin hubungan dengannya. Aku hanya mencintaimu, Sayang. Aku mohon percayalah padaku,”
“Dia mantan pacarmu, kan. Kau dan dia masih sering berhubungan. Kau bahkan sering menemuinya di Perancis. Katakan, apa aku salah?” Sarah tumbang, dia tidak punya tenaga untuk menopang tubuhnya. Entah bagaimana dia membantah setiap fakta yang Bintang katakan.
“Dimana letak kurangnya hubungan kita, Sarah. Kenapa kau harus mencari laki-laki lain, apa kau kurang puas bercinta hanya denganku. Apa aku tidak cukup untuk memberikan semua yang kau butuhkan. Kenapa kau melakukan hal brengsek ini, Sarah. Kenapa....?” Bintang sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Dia meluapkannya dengan melempar apapun yang ada di sekitarnya membuat sarah ketakutan setengah mati.
“Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku memberikan semua yang kau inginkan. Apapun itu aku memberikannya padamu. Aku bahkan membohongi Mama untuk melindungimu, tapi kenapa kau malam melakukan ini padaku, Sarah. Kenapa?”
Suara Bintang semakin lemah, dia tidak bisa lagi mengekspresikan kekecewaannya.
“Maafkan aku, maafkan aku. Aku salah, aku tidak berfikir panjang. Maafkan aku sayang, maafkan aku,” Sarah baru menyadari betapa Bintang sangat mencintainya melihat bagaimana kecewanya laki-laki itu padanya.
“Aku berjanji tidak akan menemuinya lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku mohon maafkan aku,” kata Sarah yang sudah duduk bersimpuh di depan Bintang.
Bintang menangis, Sarah sangat terkejut di buatnya. Dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga membuat seorang Bintang menangis. Sarah memeluk Bintang, tapi laki-laki itu menepis tangannya.
Bintang menghapus air matanya, suasana yang menyedihkan berubah menjadi begitu menyeramkan.
__ADS_1
“Aku sudah merelakan semuanya, Sarah. Mulai detik ini, aku tidak mau lagi melihatmu. Air mata yang kau lihat tadi adalah air mata kekecewaanku karena aku begitu mencintamu. Mulai sekarang kau tidak akan menemukan aku yang seperti dulu, kau benar-benar tidak akan melihat Bintang yang dulu lagi.”
Sarah gemetar melihat aura wajah Bintang yang tidak penah dia lihat sebelumnya.