Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 48


__ADS_3

Setelah menpuh perjalanan yang memakan waktu seharian penuh, Nadia dan Nenek Mina tiba di kampung halaman Nenek Mina. Ojek yang mereka tumpangi untuk sampai ke desa ini mengantar mereka sampai di depan sebuan rumah kayu.


“Ini rumah siapa, Nek?” tanya Nadia.


“Rumah ini dulu rumah Nenek, tapi saat Nenek pindah ke kota, rumah ini Nenek pinjamkan ke keponakan Nenek,” Nadia menangguk mendengar jawaban Nenek Mina.


Nenek Mina mengetuk pintu rumah beberapa kali sementara Nadia melihat pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bagaimana tidak, desa itu sangat gelap saat malam karena penerangan hanya sampai jam sepuluh malam setelah itu aliran listrik akan di matikan.


Nadia melihat ponselnya, sekarang sudah hampir jam tiga pagi. Dia melihat Nenek Mina yang masih mengetuk pintu, wanita tua itu kelihatan lelah sekali setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Setelah beberapa lama mengetuk pintu, terdenagrsuara seseorang membuka pintu dari dalam. Seorang wanita paruh baya keluar sambil mengucek matanya.


“Bi Mina...” kata wanita itu “Benar, Bi Mina,” katanya sejali lagi. Dia lalu memapah Nenek Mina masuk ke dalam kemudian menyalakan lampu minyak tanah sebagai penerangan.


“Bi Mina kenapa datang tidak bilang-bilang, aku kan bisa membersihkan rumah ini dulu” kata wanita itu. Dia lalu melihat Nadia yang baru saja masuk dengan membawa koper-kopernya.


“Ini siapa?” tanya wanita itu.


“Ini Nadia, cucu Bibi,” kata Bi Mina.


“Nadia, ini Bi Sari, keponakan Nenek” kata Nenek Mina memperkenalkan Nadai pada wanita yang bernama Sari itu.


“Cucu...?” Nenek Mina memberi kode pada Sari agar dia tidak banyak bicara. Sari tentu saja heran dari mana Bi Mina punya cucu sedangkan anak satu-satunya sudah meninggal sebelum dia menikah.


“Bibi capek, apa ada tempat untuk istrihat,” Sari langsung membangunkan suaminya dan memberikan tempat tidurnya kepada Andia dan Bi Mina.


Sari dan suaminya menggelar tikar di ruang tamu dan tidur di ruang tamu malam ini karena kamar yang mereka tempati mereka berikan pada Nenek Mina dan Nadia.

__ADS_1


Nadia tentu tidak bisa tidur di atas kasur yang tipis itu, walaupun dulunya dia hanya pembantu tapi tempat tidurnya juga sangat nyaman. Hingga pagi menjelang, Nadia tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun.


Suara ayam sudah silih berganti bersahut-sahutan, kicau burung juga menambah ribut suasana pagi di desa. Nadia keluar kamar dan mendapati Sari dan suaminya sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Nadia lalu keluar dan melihat sekitar.


Betapa terkejutnya dia saat membuka pintu, suasana yang begitu asri dengan tanah luas yang di tumbuhi rumput hijau. Banyak ayam yang mondar mandir sambil terus berkokok. Nadia melihat di samping, ada rumah warga yang mungkin sekirang sepuluh meter dari rumah Nenek Mina. Nadia menghirup dengan rakus udara yang belum tercemar itu.


‘Sepertinya aku memang butuh pemandangan ini” kata Nadia tersenyum. Tidak terlalu buruk menurutnya berada di desa dengan pemandangan yang sangat indah. Walaupun rumah yang dia tempati bisa di bilang gubuk, entah kenapa Nadia merasa tenang berada di desa itu.


“Sudah bangun?” Sari entah datang dari mana, dia membawa ubi rebus dan masuk ke dalam rumah, Nadia pun mengikutinya masuk ke dalam rumah.


“Aku nggak bisa tidur,” jawab Nadia dengan jujur mengikuti Sari masuk ke dalam rumah.


“Memang, nanti juga terbiasa” kata Sari yang terlihat ramah itu.


Tidak lama, Nenek Mina keluar daari kamar. Dia juga sudah mengganti bajunya dari yang semalam. Nadia lalu melihat bajunya dan mencium tubuhnya.


“Nek, mandinya di mana?” tanya Nadia yang ingin membersihkan dirinya.


Nadia terperangah melihat kamar mandi yang Sari maksud, tidak ada atapnya dan dindingnya juga sudah berlubang. Nadia rasanya ingin menangis melihat kondisi kamar mandinya. Mau tidak mau Nadia mandi juga dengan menutup tubuhnya dengan sarung.


Gadis itu sudah tampak lebih segar dan cantik setelah membersihkan dirinya. Saat keluar kamar, dia sudah mendapati coklat panas dan pisang goreng di atas meja. Tanpa di suruh dua kali, Nadia langsung duduk dan memakan pisang goreng yang menggoda itu.


“Mau tinggal berapa lama disini?” tanya Sari pada Nenek Mina dan juga Nadia. Nadia hanya melihat Nenek Mina karena dia juga tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di desa.


“Belum tahu, lihat nanti aja,” jawab Nenek Mina.


Sementara Nadia membiasakan dirinya dengan kehidupan di desa, Vanesa dan Angel malah terus-terusan di teror Bintang agar mau mengatakan padanya ke mana Nadia pergi.

__ADS_1


“Om, kita benar-benar tidak tahu kemana Nadia. Dia cuma bilang mau ke laur kota sama Nenek, tapi ke kota yang mana dia juga tidka bilang sama kami” kata Vanesa yang mulai kesal Bintang terus mengekori mereka.


“Jadi Nadia sudah ke luar kota?” tanya Bintang.


“Iya” jawab Vanesa.


“Kapan...?”


“Seminggu yang lalu” Bintang lalu terdiam. Dia tidak lagi mengikuti Vanesa dan Angel. Sementara dari kejauhan Alex dan beberapa orang lainnya melihat Bintang yang mengejar Vanesa dan Angel. Mereka sudah berfikir kalau Bintang Om-Om hidung belang yang sedang mencari mangsa di kampus mereka.


“Om, sama kita aja” kata salah seorang mahasiswi saat Bintng berjalan menuju mobilnya. Bintang hanya menggeleg-gelengkan kepalanya tidak perdulu.


Semetara itu Alex menelpon Vanesa seelah gadis itu sudah masuk ke dalam kelasnya.


“Apa hubunganmu dengan Bintang Aditama? Kenapa dia mengejar-ngejarmu seperti itu?” Vanesa langsung berlari keluar kampus dan benar saja, dia melihat Alex berada di lantai bawah sedang mendongak ke arah ruagan Vanesa.


“Om Alex” kata Vanesa dengan senang. Dia selalu senang melihat Alex.


“Om kenal dengan Tuan Bintang?” Vanesa balik bertanya.


“Apa hubungan mu dengannya, di mana kau mengenalnya” Alex kembali bertanya dengan tidak sabaran.


“Dia majikannya temanku, Nadia. Nadia sudah pergi jadi dia tanya aku dan Angel kemana Nadia” jawab Vanesa dengan jujur.


“Hanya itu?” Alex kembali memastikan bahwa Vanesa tidak ada hubungan apapun dengan Bintang.


“Iya, memangnya Om pikir aku ada hubungan apa dengan Tuan Bintang. Jangan pikir yang macam-macam yah, Om” kata Vanesa dengan wajah cemberut sambil melihat kebawah dimana Alex sedang berdiri dan mendongak melihatnya.

__ADS_1


“Kembalilah ke ruanganmu, dosenmu akan segera datang” kata Alex. Dia pun mematikan sambungan teleponnya dan segera pergi dari tempatnya.


“Om Alex kenapa?” tanya Angel. Vanesa mencaritakan pembicaraannya dengan Alex. Mereka lalu fokus pada pelajaran saat dosen masuk dan mulai memberikan materi.


__ADS_2