Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 58


__ADS_3

Kondisi Nenek Mina semakin menurun, menurut dokter juga denyut nadinya semakin lemah. Nadia yang berada di sampingnya hanya bisa pasrah melihat keadaan Neneknya.


“Sabar yah, Nek. Sebentar lagi ambulance nya sampai,” kata Nadia berbisik di telinga Neneknya.


“Ambulance untuk apa?” tanya Nenek Mina, suaranya sudah hampir tidak terdengar.


“Untuk bawa Nenek ke kota, kita akan berobat di kota supaya Nenek bisa sembuh. Nenek mau kan melihat Nadia menikah. Nadia mau kok menikah, asal Nenek sembuh,” Nenek Mina terharu mendengarnya. Dia menyadari bahwa keegoisannya mungkin hampir menghancurkan hidup Nadia. Meski begitu, gadis itu tetap ingin berkorban untuknya.


“Nenek mau di sini saja, Nad. Jangan bawa Nenek ke manapun,” pinta Nenek Mina. Dia hanya ingin berada di desa itu, mungkin sampai ajal menjemputnya.


“Kamu tidak perlu mengorbankan apapun lagi untuk Nenek, kembali ke kota dan cari kebahagiaan kamu. Kamu anak baik, kamu berhak untuk yang lebih baik,” Nadia sampai harus menunduk agar bisa mendengar apa yang Neneknya katakan karan suaranya semakin lemah.


Nadia mengangguk, “Iya, Nenek cepat sembuh. Nadia akan bahagia kalau Nenek bisa sembuh,” Nadia mencium kening Neneknya dan mengusap rambut yang sudah di penuhi uban itu.


“Nenek mau istirahat, jaga diri kamu. Nenek sayang kamu, Nadia,”


“Iya, Nenek istirahat saja. Nadia akan terus di sini menunggu Nenek sampai Nenek bangun.”


Nenek Mina inginn mengangkat tangannya dan mengelus wajah Nadia. Tapi belum juga sempat tangan Nenek Mina menggapai wajah Nadia, tangan itu sudah jatuh lemas seiring dengan matanya yang tertutup. Nadia menjadi panik, dia berteriak memanggil Sari.


Sari menepuk-nepuk pipi Nenek Mina, dan terus memanggilnya tapi wanita itu sudah terbujur kaku di tempat tidur. Tidak berselang lama, dokter kemudian datang dan memeriksa Nenek Mina. Dokter itu menghela nafas dengan tenang lalu melihat anggota keluarga Nenek Mina.


“Nenek sudah pergi, kalian yang sabar yah,”


“Maksud dokter apa?” tanya Nadia yang entah tidak mengerti atau tidak mau meneriman kenyataan.


“Nenek sudah meninggal.”

__ADS_1


Hening, tidak ada suara sama sekali selama beberapa detik. Hingga tangis itu pecah di siang bolong.


“Nenek, Nenek...” teriak Nadia yang terus memanggil Neneknya berharap Neneknya masih mau membuka matanya.


“Nadia kan sudah berjanji untuk menuruti semua keinginan Nenek, kenapa Nenek masih pergi meninggalkan Nadia. Nadia sama siapa lagi di dunia ini, Nek,” semua orang yang ada di dalam kamar itu ikut meneteskan air mata melihat bagaimana Nadia begitu merasa kehilangan satu-satunya orang yang selalu menemaninya sejak dia maish bayi.


“Maafkan Nadia, Nek. Ayo bangun, buka mata Nenek,”


“Sudah, Nad. Bibi sudah tidak ada, kamu harus kuat,” tangis Nadia kembali pecah. Nenek sudah tidak ada, kalimat itu membuatnya tersadar bahwa wanita tua yang sudah terbujur kaku di depannya itu sudah tidak mungkin bangun kembali.


Air mata Nadia tidak berhenti mengalir, tidak ada seorangpun yang bisa menjadi tempatnya bersandar saat ini. Dia membutuhkan kedua sahabatnya di situasi seperti ini. Nadia butuh seseorang yang bisa menguatkannya sekarang.


Nadia sendirian, di tengah patah hati terhebat yang tengah dia alami saat ini. Matanya sudah bengkak karena menagis tanpa henti. Sampai malam tiba, Nadia masih berbaring di samping mayat Neneknya sambil sesekali terisak.


“Makan, Nad. Dari pai kamu belum makan apa-apa,” kata Sari mengingatkan Nadia. Gadis itu memang belum menyentuh apapun sejak pagi.


Bukan hanya Sari, tapi Anton juga khawatir pada Nadia. Dia dan teman-temannya sejak siang sudah berada di rumah Nenek Mina. Semua ornag desa juga sudah bergantian mendatangi rumah Nenek Mina untuk melayat.


Hanya Anton yang tidak berani menampakkan dirinya di depan Nadia, dia merasa bersalah karena dirinya penyebab sampai Nenek Mina sakit.


Tadi siang, Anton mendengar semua percakapan Nenek Mina dan Nadia. Dia tidak pulang bersama orang tuanya karena ingin bertemu dengan Nadia. Bukannya bertemu, Anton malah mendengar dengan jelas penolakan Nadia.


Dari pembicaraannya bersama Nenek Mina, Anton bisa menebak kalau ada seseorang yang Nadia sukai di kota tapi orang itu tida mendapat restu dari Nenek Mina. Itu sebabnya mereka pindah ke desa.


Seandainya saja Anton tidak memaksa menikahi Nadia, mungkin gadis itu akan berada lebih lama lagi di desa. Dan mungkin Nenek Mina masih hidup sekarang. Tapi apa mau di kata, semua sudah terjadi dan tidak ada mesin waktu untuk mengulang waktu agar bisa di perbaiki.


Nadia mencium kening Neneknya untuk terkahir kali, dia menahan air matanya agar tidak jatuh membasahinya. Saat Nenek Mina masuk ke dalam liang lahat, Nadia tidak kuasa menahan sesak di dadanya hingga dia jatuh pingsan.

__ADS_1


Saat tersadar, Nadia sudah berada di rumah Nenek Mina. Dia kembali menangis mengingat bagaimana dia melihat dengan matanya sendiri wanita yang paling di sayanginya itu masuk ke dalam lubang besar.


Sari meninggalkan Nadia sendirian di dalam kamarnya, gadis itu pasti butuh banyak waktu untuk menenagkan dirinya.


Di luar rumah, terdengar suara ribut dari orang-orang yang masih berada di rumah Nenek Mina saat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.


Vanesa dan Angel meninggalkan semua aktifitas mereka saat mendapat kabar dari Nadia bahwa Nenek Mina sudah meninggal, meski datang terlambat karena Nenek sudah di kubur, kedatangan mereka berdua tentu sangat berarti untuk Nadia saat ini.


“Nadia di mana?” tanya Vanesa pada Sari. Sari yang mengenali kedua gadis itu langsung menunjukkan kamar Nadia.


“Terima kasih sudah mau datang, Nadia sangat membutuhkan kalian,” kata Sari sebelum kedua gadis itu masuk ke kamar. Vanesa dan Angel hanya tersenyum seadaanya.


“Nad...”


“Nadia...”


Tangis Nadia kembali pecah saat melihat Vanesa dan Angel ada di depannya saat ini. Tanpa aba-aba, kedua gadis itu langsung memeluk Nadia dan ikut menangis bersama. Suasana haru pun menyelimuti kamar itu, sejak kemarin, Nadia tidak punya satupun orang yang bisa dia peluk dan mengeluarkan semua sakit di hatinya dengan air mata.


“Nenek sudah nggak ada, aku benar-benar sendirian sekarang,” kata Nadia sambil terisak.


“Kamu nggak sendiri, kami nggak akan membiarkan kamu sendiri. Ada aku sama Vanesa yang akan selalu ada buat kamu, Nad. Kamu jangan nangis lagi,” kata Angel berusaha menenangkan Nadia.


“Iya, Nad. Kamu tidak sendirian, jangan bilang begitu,” tambah Vanesa.


Air mata Nadia sudah mulai mereda, dia tidak menangis lagi. Meski begitu, matanya masih sembab dan basah. Wajahnya juga terlihat sangat lemas karena sejak kemarin Nadia belum makan apa atau minum apapun.


Vanesa dan Angel terus menggenggam tangan Nadia, mereka juga menyuapi Nadia karena gadis itu tidak mau makan sehingga kedua temannya harus memaksanya untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2