
Cukup lama Bintang menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, jantung Nadia sudah berdegup dengan kencang menunggu Bintang keluar. Suara pintu kamar mandi terbuka, Nadia yang sudah berada di atas tempat tidur menutup dirinya dengan selimut dan pura-pura tidur.
Tidak lama Nadia mendengar Bintang naik ketempat tidur dan menarik selimut Nadia membuat gadis itu gugup setengah mati.
“Kau tidur?” tanya Bintang. Nadia membuka matanya perlahan, dia melihat Bintang hanya memakai kaos dan celana pendek.
Bintang lalu menarik selimut sehingga selimut itu tidak lagi bisa menutupinya. Namun di luar dugaan Nadia, Bintang malah mengoles kakinya dengan body lotion lalu memijatnya.
“Kakimu masih pegal?” tanya Bintang. Nadia yang masih terkejut hanya bisa mengangguk saja. Pijatan lembut Bintang di kakinya membuta Nadia merasa sangat rileks hingga dia ketiduran kerana merasa sangat nyaman.
Setelah menyelesaikan pijatannya, Bintang memakai kan kembali selimut untuk Nadia lalu dia juga ikut tidur di samping gadis itu. Bintang menari Nadia dengan lembut sehingga dia bisa memeluknya dan mencium aroma sabun dari tubuh Nadia.
Malam pertama mereka berlalu begitu saja, Bintang tahu Nadia sangat lelah dan mungkin dia juga belum sepenuhnya siap jadi dia tidak memaksakana keinginannya. Bukan hanya Nadia, tapi dia juga sangat lelah. Bintang juga butuh istirahat. Jadilah malam pertama mereka hanya tidr dengan saling berpelukan.
Nadia bangun pagi sekali saat matahari mungkin masih bersembunyi di peraduannya. Dia sudah tidak bisa lagi melanjutkan tidrurnya sehingga dia memainkan ponselnya melihat esan apa yang di kirim Vanesa dan Angel.
Suara tawa Nadia yang membaca pesan-pesan dari kedua temannya itu membangunkan Bintang.
“Jam berapa ini?” tanya Bintang dengan suara seraknya.
“Tuan, kenapa bangun. Ini masih pagi sekali,” kata Nadia.
“Kau panggil aku apa?” Nadia menutup mulutnya, dia lupa kalau sekarang dia tidak boleh lagi memanggil Bintang seperti itu.
“Sa yang, kenapa kamu bangun?” katanya mengulang pertanyaannya.
“Kau ribut sekali,” kata Bintang lalu bangun dan pergi ke kamar mandi.
“Aku kan hanya tertawa, lagi pula suaraku juga tidak besar-besar amat,” kata Nadia memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Bintang keluar dari kamar mandi dan mengambil ponsel Nadia lalu menyimpannya di atas nakas yang berada di sampingnya.
“Tu, saa yaang, ponselku” katanya yang merasa sangat kaku memanggil Bintang dengan sebutan itu.
“Aku melepaskanmu semalam, bukankah sekrang sudah waktunya?” bula mata Nadia membulat. Dia langsung memasang status awas.
“Tu... saa yang...” katanya dengan malu.
Bintang memeluk Nadia membuat gadis itu kembali terkejut. Dia pikir Bintang akan melepas semua pakaiannya dan menagmbil haknya sebagai seoran suami.
“Tidurlah, ini masih sangat pagi,” kata Bintang. Dia masih memeluk Nadia. Gadis itu merasa sangat damai dan tenang berada dalam pelukan suaminya hingga dia tertidur lagi tidak lama kemudian.
Kali ini matahari sudah menyinari hampir separuh permukaan bumi saat Nadia membuka matanya, dua juga sudah tidak melihat Bintang berada di sampingnya. Nadia bangun dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Bintang belum juga kelihatan. Nadia memakai baju dengan cepat, berdandan seadanya dan mencari di mana suaminya.
Saat Nadia keluar, dia berpapasan dengan Bintang di jalan menuju lift.
“Kau mau kemana?” tanya Bintang yang berjalan cepat menghampiri Nadia.
“Aku bertemu sekertarisku di bawah, ada berkas yang harus aku tanda tangani,” jawabnya. Mereka berdua lalu jalan bergandengan tangan kembali ke kamar.
Bintang memesan sarapan karena sudah lewat waktu breakfest. Mereka lalu makan bersama saat makan pesanan mereka datang.
“Tuan, apa aku bisa memanggil Tuan dengan sebutan Mas saja, aku rasa tidak sopan aku memanggil Tuan dengan sebutan sayang,”
“Tidak sopan kenapa, aku kan suamimu bukan kakakmu atau majikanmu,”
“Tapii” makanlah. Nadia lalu diam dan tidak lagi melanjutkan protesnya.
Setelah makan mereka hanya duduk sambil nonton, Nadia bersandar di bahu Bintang. Sesekali dia melihat Bintang yang nampak serius dengan layar besar di depannya. Tiba-tiba Nadia merasa bersalah pada suaminnya karena sudah melewatkan kewajibannya untuk melakukan malam pertama bersama suaminya.
__ADS_1
Malam hari tiba, mereka kembali ke hotel setelah makan malam. Nadia langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Sebelum ke kamar mandi, dia membuka kopernya mencari sesuatu yang sudah di siapkan Asiyah untuknya.
Setelah memakainya, Nadia menarik nafas berulang kali lalu keluar dari kamar mandi. Bintang yang menoleh saat mendengar suara pintu terbuka menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Nadia dalam balutan lingeri yang super seksi.
“Kau sudah siap rupanya,” kata Bintang.
“Aku sengaja tidak melakukannya karena aku pikir kau belum siap, aku tidak mau memaksamu,” Bintang mendekat, jantung Nadia serasa ingin keluar dari dadanya.
Bintang melihat dari bawah ke atas, paha mulus dan putih Nadia terpampag jelas di depan matanya. Lehernya yang panjang dan wangi membuat Bintang segera mendekat dan menciumnya. Nadia menggeliat merasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
Bintang menciumi seluruh bagian leher Nadia membuta gadis itu merasakan gejolak yang luar biasa di dalam dirinya. Bintang lalu menggendong Nadia dan meletakkannnya dengan hati-hati di atas tempat tidur.
“Tu, saa yaang” kata Nadia menahan tangan Bintang yang akan membuka lingerinya. Meskipun tanpa di buka Bintang sudah melihat semuanya dengan jelas.
“Kau takut?” tanya Bintang dengan lembut. Nadia mengangguk.
“Aku akan melakukannya dengan pelan, akan sakit tai hanya sebentar saja” kata Bintang. Nadia lalu melepaskan tangannya yang menahan tangan Bintang.
Nadia menjerit, air matanya menetes saat Bintang melakukan penyatuannya. Bintang mencium keningnya lalu mencium bibirnya. Setelah melihat Nadia lebih tenang, dia lalu melanjutkannya.
Mereka akhirnya melakukan malam pertama mereka di hari kedua pernikahannya. Malam yang sangat berkesan bagi Nadia dan juga Bintang. Bintang merasa sangat menikmati permainannya sendiri. Gadis perawan yang masih sangat muda berhasil membuatnya merasakan kenikmatan luar biasa.
Bintang melepas penyatuan mereka saat mereka sudah sampi di puncak bersamaan. Bintang mencium kening Nadia sekali lagi dengan lembut.
“Terima kasih sayang, aku benar-benar tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya,” kata Bintang. Nadia yang masiih mengatur nafasnya hanya bisa tersenyum. Dia juga tentu merasakan kenikmatan luar biasa yang baru pertama kali ini dia rasakan.
“Masih sakit?” tanya Bintang, Nadia menggeleng.
“Apa aku boleh melakukannya sekali lagi,” Nadia tentu terkejut, tapi dia mengangguk. Bintang tersenyum, dia kembali menikmati nikmatnya tubuh istrinya yang masih sangat muda itu.
__ADS_1
Setelah kembali merasakan puncak kenikmatan untuk kedua kalinya, Bintang melepas penyatuannya. Dia melihat Nadia yang sudha sangat kelelahan. Dia mengusap peluh yang membasahi wajah gadis itu mengecup keningnya dan ambruk di sampingnya.
Tidak lama setelahnya, Nadia jatuh tertidur. Dia tidak punya tenaga untuk membersihkan dirinya, bahkan dia tidur tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Bintang lalu menutup tubuh polos istrinya dengan selimut dan bergabung bersamanya di bawah selimut.