Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 82


__ADS_3

Sarah yang mengetahui bahwa designer lain yang merancang gaun pernikahan Nadia merasa tersinggung. Dia marah karena niat baiknya di tolak oleh keluarga Bintang.


“Aku kan punya niat baik, kenapa mereka malah menola,” kata Sarah yang tidak sadar bahwa niat baiknya belum tentu di terima oleh keluarga Bintang.


“Sombong... Nenek tua itu memang sombong dari dulu,” oceh Sarah.


“Tapi kenapa mereka mau menerima Nadia, sedangkan Aisyah dan suaminya sangat pemilih dan selalu mengutamakan status sosial. Apa Nadia sudah hamil duluan makanya mereka terpaksa menerimanya,” Sarah mencoba menebak alasan Asiyah dan Hidayat mau menerima Nadia meskipun mereka berbeda status sosial.


Sarah tersenyum sinis, “perempuan murahan, aku sudah menduga kalau kau hanya perempuan murahan yang menjual tubuhmu,” Sarah diam, tapi dia nampak berfikir sesuatu.


“Dasar laki-laki pembohong, dia bilang tidak pernah menidurinya tapi nyatanya gadis murahan itu hamil juga,” biarkan saja Sarah dengan asumsinya.


Sarah lalu meninggalkan butiknya untuk bertemu dengan seseorang yang sudah di hubunginya lebih dulu.


Sarah sampai di apartemennya, saat masuk ke dalam apartemen, seorang wanita lalu mengikutinya sambil menunduk.


“Apa gadis murahan itu hamil?” tanya Sarah pada wanita yang tadi mengikutinya saat mereka sudah masuk ke dalam unit apartemen.


“Tidak, Nyonya. Menurut saya Nadia tidak hamil karena tidak ada tanda-tanda bahwa dia hamil,” kata wanita itu.


Wanita itu adalah Sita, pembantu baru di rumah Bintang. Dia adalah mata-mata yang Sarah kirim untuk melihat apa saja yang terjadi di sana.


Sarah kembali berfikir, jika bukan karena hamil mana mungkin dia bisa dengan mudahnya di terima. Sita sudah menceritakan padanya bagaimana kejadian saat Asiyah dan hidayat mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui hubunga mereka. Dan juga bagaimana akhirnya mereka di beri restu. Sita tidak menceritakan keseluruhan karena dia harus mengerjakan yang lain waktu itu.


Sarah nampak berfikir sejenak, “Sudahlah, lupakan itu. Aku punya rencana yang lebih hebat. Anggap saja ini adalah hadiahku untuk pernikahan mereka,” Sarah lalu mengatakan kepada Sita apa yang harus dia lakukan di rumah itu.


Sita mengerti dan menurutnya sangat mudah untuk melakukannya. Sita lalu meninggalkan apartemen Sarah, lalu tidak lama sarah menyusulnya dengan perasaan yang sangat bahagia.


“Hahahaa... “ Sarah tertawa sepanjang jalan membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga itu jika rencananya berhasil.

__ADS_1


“Maafkan aku, tapi aku  tidak mau merasakan sakit ini sendirian,” Sarah masih terus tertawa hingga dia masuk kembali ke dalam mobil dan kembali ke butiknya.


Sementara Nadi semakin sibuk kuliah di tambah lagi Asiyah selalu mengajaknya berkeliling mall mencari kebutuhannya nanti setelah menikah. Aisyah sudah menyiapkan lingeri untuk Nadia pakai nanti saat malam pertama, Nadia melihat baju itu menjadi malu, wajahnya mereh semerah tomat membayangkan dia memakai baju itu di depan Bintang.


“Apa ini nggak terlalu terbuka, Ma,” kata Nadia. Jangankan untuk memakainya, memegangnya pun Nadia malu.


“Terbuka bagaimana sih, nanti kamu malah nggak akan pakai apa-apa kalau sudah di depan suami kamu,” Nadia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dia malu sekali, apalagi ada seorang pelayan yang juga mengikuti mereka sejak tadi.


“Kenapa banyak sekali, Ma,” Nadia melihat Asiyah mengambil hampir selun lingeri yang berbeda model dan warnanya.


“Takutnya nanti Bintang nggak sabaran dan merobek ini, jadi Mama ambil aja beberapa buat persiapan kamu,” Nadia hanya bisa melongo terlebih lagi setelah melihat harganya.


“Gini aja tapi harganya mahal banget, dan tadi Mama bilang Tuan Bintang mau robek. Ckckck, dasar orang kaya,” Nadia masih mengikuti Aisyah, entah apa lagi yang akan wanita itu belikan untuknya. Nadia merasa kamarnya mungkin akan penuh dengan barang-barang jika dia hanya terus mengikuti Aisyah.


“Ma, kepala Nadia tiba-tiba pusing banget,” Nadia berakting dengan memegang kepalanya. Hanya itu cara untuk menghentikan kegilaan Asiyah.


Cukup lama mereka menunggu karena saat di telpon Bintang sedang beerada di luar kantor bertemu dengan orang tua Vanesa untuk membicarakan kerja sama mereka di bidang pertambangan.


“Bintang keluar dari mobil dan memapah Nadia yang terlihat sangat lemas, setelahnya dia memasukkan semua barang yang di beli Asiyah. Setelah selesai Bintang segera melajukan mobilnya.


“Apa yang sakit?” tanya Bintang, matanya tetap fokus ke depan meski sesekali dia melihat keadaan Nadia. Gadis itu memang lelah tapi dia baik-baik saja.


“Kepalaku, Tuan. Sakit sekali,” kata Nadia dengan nada yang lemah membuat Bintang semakin khawatir padanya. Bintang menambah laju mobilnya karena jalanan siang itu tidak terlalu padat.


Mereka sampai di rumah, Bintang segera menggendong Nadia naik ke kamarnya. Bintang lalu membaringkan Nadia di atas tempat tidur, tidak lama, Tuti datang membawa obat sakit kepala. Aisyah tadi memintanya untuk membawakan Nadia obat.


Setelah memastikan Tuti pergi, Nadia lalu bangun dari tempat tidurnya. Bintang yang melihatnya pun terkejut.


“Kau kenapa sebenarnya?” tanya Bintang yang melihat Nadia sudah tidak selemah tadi.

__ADS_1


“Aku hanya akting, Tuan,” Bintang mengkerutkan keningnya, akting?


“Kenapa, apa ada yang menganggumu?” tanya Bintang lagi. Nadia menghela nafas lalu duduk di samping Bintang setelah memastikan bahwa pintu sudah terkunci.


Nadia lalu menceritakan tentang Asiyah yang mungkin akan memborong seluruh isi mall jika saja dia tidak menghentikannya dengan cara berohong. Bintang bernafas lega mendengarnya, tapi dia juga kesal karena Nadia sudah membuatnya khawatir setengah mati.


“Maafkan aku, Tuan. Aku terpaksa melakukannya. Bayangkan saja, Mama membeli selusin lingeri yang harganya tidak main-main. Dan setelah itu dia masih mengajakku melihat-lihat apa lagi yang harus di beli. Aku capek,” cerita Nadia.


Bintang mengerti kalau Nadia pasti lelah karena dia sudah kuliah dan masih harus keliling mal seharian. Dan hal itu sudah berlangsung sejak beberapa hari ini.


“Apa kau suka lingerinya? Aku jadi tidak sabar melihatmu memakainya,” Bintang malah menggoda Nadia, dan wajah Nadia pun kembali semerah tomat membayangkan dia memaka lingeri itu di depan Bintang saat malam pertama mereka.


“Tuan...” Nadia merasa sangat malu.


“Kenapa, kau malu. Kau harus mempersiapkan dirimu mulai sekarang. Kita harus kerja keras demi memenuhi syarat yang Mama berikan. Kita harus bisa memberikannya cucu, kita pelu kerja sama kan membuatnya,”


“Tuann...” Nadia memasang wajah kesal tapi imut dan menggemaskan. Bintang mengehla nafas melihatnya.


“Anggap saja ini sebagai pemanasan,” Bintang lalu melahap bibir Nadia dengan tidak sabaran. Nadia mendorong dada Bintang tapi Bintang lebih kuat darinya, hingga Nadia hanya bisa memejamkan mata dan menikmatinya.


Ciuaman itu berlangsung cukup lama, Nadia juga mulai lincah memainkan lidahnya. Bintang tentu tersenyum saat merasakan Nadia sudah mulai agresif. Mereka menghentikannya, keduanya sampai kesulitan mengatur nafas.


“Aku sudah tidak sabar, Nadia,” bisik Bintang yang membuat Nadia merinding.


Bintang lalu meninggalkan kamar Nadia setelah merapikan jasnya yang kusut.


 


 

__ADS_1


__ADS_2