Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 94


__ADS_3

Bintang mengambil sebuah benda yang berada di dalam kantong jacketnya, dan betapa terkejutnya dia melihat benda itu. Dia merasa tidak pernah menyimpan benda seperti itu. Bintang lalu mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri Nadia sambil membawa benda yang dia sendiri tidka tahu benda apa itu.


“Sayang, benda apa ini? Aku menemukannya di kantong, ini pertama kalinya aku memakai jacket ini jadi tidak mungkin aku menyimpan apapun di dalamnya,” Bintang memperlihatkan benda itu pada Nadia justru balik terkejut karena ternyata Bintang tidak tahu benda apa itu.


“Tuan sungguh tidak tahu ini apa?” tanya Nadia balik. Bintang menggeleng dengan wajah polosnya. Nadia menghela nafasnya, dia baru tahu kalau di dunia ini ada orang yang tidak tahu benda itu.


“Aku juga tidak tahu, coba Tuan tanya sama orang-orang. Mungkin saja itu benda berbahaya yang sengaja di simpan orang jahat untuk mencelakai Tuan,” Nadia tersenyum puas setelah berhasil mengarang cerita pada suaiminya. Dengan polosnya Bintang lalu bertanya pada seorang wanita paruh baya yang kebetulan juga sedang bersiarah ke makan keluarganya.


“Permisi, Bu. Aku ingin tanya, apakah Ibu tahu benda ini. Apa ini benda berbahaya?” Ibu yang di tanya melihat Nadia di belakangnya. Gadis itu menahan tawanya melihat Bintang yang benar-benar bertanya pada orang lain.


“Tanya istrimu, dia pasti tahu ini benda apa” kata Ibu itu dengan menahan senyumnya. “Tapi, selamat yah” Bintang tentu tidak mengerti kenapa Ibu itu memberi selamat padanya.


Bintang segera berbalik dan kembali bertanya pada Nadia. Belum sempat dia bertanya, sari sudah lebih dulu berteriak senang melihat Nadia.


“Nad, kapan datang?” tanya Sari. Mereka berdua berpelukan untuk melepas rindu. Walau hanya sesaat, kebersamaan mereka juga menciptakan banyak kenangan tersendiri untuk keduanya.


“Tadi malam, Tante. Tapi aku nginap di penginapan, tadi pagi-pagi sekali baru aku ke sini” jawab Nadia. Sari lalu melihat Bintang.


“Siapa, Nad?”

__ADS_1


“Suami aku Tante” Sari melihat Nadia dengan tatapan tidak percaya. Nadia sudah menikah, padahal kemarin dia dengan jelas mengatakan kalau dia belum siap untuk menikah.


“Sayang, ini Tante Sari, keponakannya Nenek Mina” Nadia dan Bintang saling berjabat tangan, saat datang kemarin mereka memenag tidak sempat berkenalan.


Sari mengingat saat Bintang menyebutkan namanya, nama itu memang pernah ada saat Nadia dan Nenek Mina berdebat. Sari lalu faham jika ketidak siapan Nadia menikah waktu itu adalah karena laki-laki yang memintanya menikah bukanlah laki-laki yang sekarang ini menjadi suaminya.


Mata Sari tertuju pada tangan Bintang yang masih memegang tes pack. Sari lalu tersenyum dan memberi selamat pada keduanya.


“Selamat, yah. Sebentar lagi kalian akan jadi orang tua. Kamu akan jadi ibu muda, Nad” Bintang manautkan alisnya.


“Apa maksud anda?” tanya Bintang dengan sopan.


“Bukannya itu sudah dua garis, berarti Nadia lagi hamil kan” Bintang tersiam seseaat. Dia lalu minta kepada Sari untuk mengatakan benda apa itu. Bintang melihat Nadia dengan wajah penuh tanya, benarkah yang Sari katakan. Bintang tidak bisa berkata-kata saat Nadia mengangguk memberi tanda bahwa apa yang Sari katakan adalah benar. Dia sedang hamil.


“Sayang, kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” tanyanya dengan wajah yang tidak berhenti melukiskan senyum bahagia.


“Kejutan, lagian masak sih kamu nggak tahu benda apa ini” Bintang kembali memeluk istrinya. Dia bahkan menggendongnya sampai masuk ke dalam mobil. Bintang memekaian sabut pengaman dan mengatur kursi mobil agar istrinya bisa tidur dengan nyaman.


“Sayang, aku mau ke rumah Tante Sari” pinta Nadia. Bintang lalu memint Sari naik ke mobilnya dan mereka bersama-sama ke rumah yang pernah Nadia tinggali saat lari dari keramaian kota dan menghindari Bintang.

__ADS_1


“Sering-sering datang kemari, Nad” Sari menyajikan dua gelas teh panas dan juga ubi rebus.


“Iya, nanti aku akan sering-sering datang kesini. Seklian untuk mengunjungi Nenek” Nadia melahap ubi rebus yang Sari sajikan dengan sambel cobek.


“Sayang, jangan makan sambel yang banyak nanti kau sakit perut,” kata Bintang saat Nadia makan ubi dengan sambel cobek. Nadia mendengarkan suaminya dan berhenti makan sambel tapi terus makan ubi rebusnya. Bintang lalu teringat kalau sejak semalam istrinya itu makan dengan lahap, ternyata sedang ada kehidupan baru di dalam perut istrinya.


Hari sudah menjelang siang dan Bintang pun mengajak Nadia pulang kembali ke kota. Mereka menolak dengan halus saat Sari menawaran makan siang. Bukan apanya, Bintang harus menempuh perjalanan yang cukup jauh jadi dia ingin segera pulang agar mereka bisa sampai secepatnya di kota.


Nadia dan Sari berpelukan, Sari memberikan sekarung ubi dan juga kentang yang barusan dia panen. Bintang tentu tidak mau menerimanya begitu saja, dia memberikan sejumlah uang tunai pada Sari sebagai tanda terima kasih sudah pernah merawat Nadia saat dia tinggal di sini dan juga untuk memperluas kebunnya. Sari awalnya menolak dengan sopan tapi dia lalu menerimanya setelah melihat Nadia memberi kode padanya untuk menerima uang itu.


 Mobil Bintang lalu melaju meninggalkan desa.


“Kau lelah?” tanya Bintang. Entah sydah berapa kali Bintang menanyakan hal itu pada Nadia sepanjang jalan.


Langit sudah mulai gelap saat mereka sampai. Nadia masih tertidur dengan pulas setelah perutnya terisi penuh tadi. Bintang lalu menggendong Nadia keluar dari mobil. Nadia terbangun saat merasakan tangan Bintang menyentuh lehernya, dia hanya membuka mata sebentar lalu menutupnya lagi dan mengalungkan lengannya di leher Bintang saat suaminya menggendongnya.


Bintang menidurkan Nadia dengan hati-hati di atas tempat tidur. Membuka sendalnya dan juga jaket yang Nadia pakai. Bintang lalu ke kamar mandi mengambil baskom kecil dan membasuh tubuh Nadia dengan kain handuk. Setelah membasuh tubuh istrinya. Bintang lalu mengganti pakaian untuknya sementara Nadia yang melihatnya hanya diam saja dan membiarkan Bintang melakukannya karena dia sudah sangat malas untuk bergerak membersihkan dirinya.


“Terima kasih sayang, terima kasih kau sudah mau mengandung anakku. Aku sangat mencintaimu,” Bintang mengecup lembut kening Nadia cukup lama. Mengalirkan kehangatan sampai ke dalam hati Nadia.

__ADS_1


“Tidurlah, besok kita akan ke dokter untuk memerikasakan kandunganmu,” Nadia lalu kembali melanjutkan tidurnya.


Setelah melihat istrinya tidur dengan damai, Binyang lalu ke kamar mandi untuk membersihan dirinya. Dia mengambil hasil tes pack dan menyimpannya dengan baik di dalam laci nakas. Bintang melihat benda itu lalu melihat istrinya yang tertidur pulas. Tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, Bintang kembali menciumi istrinya. Untung saja Nadia benar-benar lelah sehingga dia tidak merasakan apapun. Padahal sepanjang jalan dia hanya berbaring di samping suaminya. Yang seharusnya lelah justru Bintang, tapi kebahagiaan laki-laki itu berhasil mengalahkan rasa lelahnya menyetir sepanjang hari.


__ADS_2