Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 55


__ADS_3

Vanesa dan Angel menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi seperti biasa setiap harinya, persahabatan keduanya semakin kental semenjak Nadia meninggalkan mereka.


Saat ini Angel tengah dekat dengan seorang mahasiswa yang juga sengkatan dengannya. Sementara hubungan Vanesa dan Alex sudah semakin jauh karena Alex sanat sibuk hingga tidak memiliki banyak waktu. Waktu sengganngnya dia habiskan tentu bersama keluarganya saja.


“Aku mau putus aja deh sama Om Alex,” kata Vanesa saat mereka sedang duduk berdua di kantin kampus.


“Iya, putus aja. Hubungan kalian juga sudah nggak seayik dulu kan?” Angel tentu akan mendukung keputusan Vanesa untuk mengakhiri hubungannya dengan Alex.


“Biar kamu lebuh leluasa untuk berhubungan dengan cowok lain.”


Selama ini Alex selalu menjadi bayang-bayangnya jika ada laki-laki yang medekatinya. Tiba-tiba Alex akan terlihat di kampus dan besoknya laki-laki yang mendekati Vanesa pasti tidak kelihatan lagi. Vanesa pun mulai curiga bahwa Alex selalu ikut campur jika ada laki-laki yang medenkatinya.


Jika dulu Vanesa meyakini perasaannya pada Alex adalah cinta, sekarang Vanesa mulai menyadari kalau itu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Dia hanya begitu nyaman bersandar dan bercerita pada Alex, dia menemukan sosok Ayah yang selama ini dia inginkan.


Vanesa jelas menyadarinya sekarang, itu sebabnya dia pun mulai membuka hati dan menerima jika ada orang yang ingin mendekatinya. Tapi sialnya, Alex selalu mengganggunya.


“Nadia bagaimana kabarnya yah, apa dia menerima lamaran Anton?” Nadia sempat menghubungi teman-temannya dan menceritakan tentang Anton. Laki-laki yan juga baru kembali dari kota setelah menyelesaikan pendidikannya.


Nadia mengatakan kepada kedua temannya kalau dia tidak mungkin menikahi Anton karena dia hanya menganggap Anton sebagai kakak dan tidak ada perasaan lain untuknya. Nadia juga belum memiliki keinginan untuk menikah di usai muda.

__ADS_1


“Kalau dari ceritanya sih, Anton orang kaya di desa. Kalau mau menikah, Nadia pasti jadi juragan di desanya.” Vanesa dan Angel tertawa.


“Kangen banget sama Nadia,” kata Angel begitupun Vanesa yang juga sangat merindukan sahabatnya itu.


Sementara hubungan Nadia dan Anton menjadi canggung sejak saat itu, sudah seminggu lebih tapi Nadia belum juga memberi jawaban pada Anton.


“Apa yang kamu cari, Nad. Anton laki-laki yang baik, Nad. Dia menyayangi kamu dengan tulus, apa lagi yang kamu butuhkan,” Nenek Mina tidak henti-hentinya membujuk Nadia agar menerima lamaran Anton.


“Apa yang kamu pertimbangkan, Anton adalah suami idaman setiap wanita di desa ini. Bukan hanya di desa ini, mungkin dari desa-desa tetangga juga pasti banyak yang menginginkan menjadi istri Anton. Sudah gagah, kaya, baik lagi,” kata Nenek Mina lagi yang selalu memuji-muji Anton.


“Tapi Nadia tidak cinta, Nek. Nadia tidak mau menikah karena terpaksa. Lagi pula Nadia masih sangat muda, Nadia masih mau melakukan banyak hal. Nadia tidak mau menikah sekarang,” kata Nadia yang punya seribu macam alasan untuk menolak Anton.


Nenek Mina menghela nafas, dia menatap Nadia seolah mencari tahu sesuatu dari mata Nadia.


“Nadia, kenapa kamu harus mencari jalan yang rumit yang gelap kalau di depan kamu ada jalan yang lurus yang terang benderang,” Nenek Mina sepertinya belum menyerah untuk membujuk Nadia.


“Nenek mohon sama kamu, menikahlah dengan Anton. Dia laki-laki yang baik yang akan menjaga kamu. Kamu butuh dia, Nad. Kamu butuh Anton untuk menemani kamu. Uhuk...uhukkk,” Nadia mendekati Nenek Mina dengan cepat. Ada darah yang keluar dari mulu wanita itu saat dia batuk membuat Nadia panik.


“Astaga, Nenek batuk darah,” Nadia masuk ke dapur dan mengambilkan air minum untuk Neneknya.

__ADS_1


Melihat Nenek Mina sakit, Nadia jadi berfikir keras. Dia pernah melepaskan sesuatu yang sangat berharga untuk Neneknya, dia rela meninggalkan kampus dan tempat kerjanya juga teman-teman yang menyayanginya hanya untuk Neneknya. Melihat Nenek Mina sakit, apakah Nadia harus sekali lagi mengorbankan dirinya untun wanita yang sudah semakin dimakan usia itu.


Pembicaraan mereka berdua ternyata di dengar oleh Sari, dia tidak tega melihat Nadia jika dia harus menghabiskan masa mudanya di desa ini. Gadis cantik yang pintar dan baik, pasti banyak yang menyukainya di kota.


“Bi, kenapa Bibi harus memaksa Nadia menikah dengan Anton. Nadia belum tentu bahagia jika hidup bersama Anton. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, Bi,” kata Sari membujuk Bibi Mina agar tidak lagi memaksa kehendaknya pada gadis itu.


“Bibi hanya tidak mau nasibnya sama seperti ibunya. Bibi mau dia hidup bahagia bersama laki-laki yang mencintainya,” kata Bi Mina.


“Ibu Nadia menikah dengan laki-laki yang sangat dia cintai tapi sayangnya laki-laki itu hanya menginginkan uangnya saja. Saat dia sakit dan tidak punya apa-apa lagi, laki-lakii itupun meninggalkannya. Bibi hanya mau Nadia menikah dengan laki-laki yang mencintainya agar dia tidak mengalami seperti apa yang Ibunya alami.”


Menurut Nenek Mina, tidak penting jika Nadia mencintai Anton atau tidak. Yang paling penting Anton lah yang mencintai Nadia. Dia bisa melihat kalau Anton begitu tulus menyayano Nadia, Sari pun mengiyakan hal itu. Tapi walau bagaimanapun, perasaan tetap tidak bisa di paksakan.


“Aku tidak akan lama lagi ada di dunia ini, aku hanya ingin Nadia menemukan orang yang bisa menjaganya saat aku sudah pergi nanti,” kata Nenek Mina yang kesehatannya semakin menurun tapi dia menyembunyikannya dari Nadia.


“Kenapa Bibi tidak mau mengatakan kepada Nadia kalau Bibi sakit, dia pasti akan mencari cara untuk mengobati Bibi,” Nenek Mina sengaja menyembunyikan sakitnya dari Nadia karena jika dia tahu, Nadia pasti akan memaksanya kembali ke kota untuk berobat. Nenek Mina tidak mau Nadia bertemu lagi dengan Bintang dan kembali menjalin hubungan terlarang.


“Bibi tidak mau kembali ke kota, Bibi mau tinggal disini selamanya. Kalau Nadia tahu Bibi sakit, dia pasti akan memaksa kembali ke kota,” kata Nenek Mina pada Sari.


“Kenapa, Bi. Kenapa kalau kembali ke kota, mungkin kehidupan Nadia sebenarnya memang ada di sana. Mungkin kebahagiaan Nadia bukan ada di sini. Bibi tidak kasihan melihat dia setiap hari bekerja di kebun. Kulitnya yang mulus itu nanti menjadi tidak terawat lagi.”

__ADS_1


Sari membela Nadia, dia tidak mau Nadia menghabiskan masa remajanya menjadi gadis desa ketika kehidupan sebenarnya ada di kota. Nadia sering memperlihatkan pada Saari foto-fotonya bersama Vanesa dan Angel, dari foto-foto itu Sari bisa lihat kalau Nadia sangat senang berada di samping teman-temannya. Kehidupannya di kota juga jauh lebih baik dan bahagia.


Tapi percuma saja karena Nenek Mina tetap pada pendiriannya untuk menikahkan Nadia dengan Anton.


__ADS_2