Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 81


__ADS_3

Angel benar-benar memakai gaun yang Vanesa belikan kemarin, dia tampak sangat berbeda hari ini membuat banyak pasang mata yang memandangnya dengan kagum. Angel berjalan santai seperti biasa, tidak perduli banyak orang yang memandangnya. Dia menunggu teman-temannya di perpustakaan. Angel bukan mau mencari perhatian dengan penampilannya, dia hanya ingin memanjakan dirinya sendiri.


“Hai, kamu anak semester satu kan?” seorang mahasiswa laki-laki yang mungkin adalah seniornya menarik kursi di depan Angel.


“Iya, kak” jawab Angel dengan sopan.


“Kamu sendirian?” tanyanya lagi.


“Aku lagi tunggu teman,” jawab Angel.


“Kenalkan, aku Ronald” mahasiswa itu memperkenalkan dirinya tanpa basa basi lagi.


“Angel” Angel menyambut uluran tangan Ronald. Mereka bercerita banyak sambil Angel menunggu teman-temannya.


Di salah satu meja tidak jauh dari tempat Angel duduk, sekelompok gadis memperhatikannya dengan tatapan sinis. Salah satu gadis itu adalah gadis yang kemarin terlihat bersama Adrian.


“Dia pasti patah hati karena Adrian putusin dia, makanya potong rambut,” kata gadis itu di ikuti cibiran teman-temannya yang lain.


“Baru aja putus, sudah cari mangsa baru,” kata gadis yang lain. Mereka masih saja bercerita yang buruk tentang Angel, padahal hanya salah satu di antara mereka yang sekarang menjadi pacar baru Adrian tapi kenapa mereka ikut tidak menyukai Angel. Padahal Angel dan teman-temannya tidak pernah mengurusi apapun di kamppus itu. Mereka hanya akan ikut campur jika itu berurusan dengan salah satu dari mereka.


Vanesa datang, penampilannya sangat sederhana tapi semua yang dia pakai membuatnya terlihat sangat berkelas. Vanesa melihat gadis itu sedang menatap Angel dengan penuh kebencian.


Ronald mngenalkan dirinya pada Vanesa saat dia menarik kursi di samping Angel.


“Kamu sudah lama?” tanyanya Vanes pada Angel.


“Lumayan, untung ada Kak Ronald,” kata Angel yang tersenyum hangat pada Ronald. Angel dan teman-temannya memang selalu ramah pada siapapun yang ingin berteman dengan mereka. Tidak lama Nadia datang, dia juga nampak cantik dengan kaos ketat dan rok spannya.

__ADS_1


Mereka bertiga melihat ke arah segerombolan gadis yang sedang melihat mereka dengan tatapan sinis. Tapi mereka membalasnya dengan tersenyum sopan. Vanesa dan teman-temannya lalu meninggalkan perpustakaan karena sebentar lagi kelas mereka akan di mulai. Saat melewati gadis –gadis itu, bukan lagi senyum ramah yang Vanesa berikan tapi tatapan yang tidak kalah sinis khas Vanesa.


“Jangan cari musuh,” kata Nadia mengingatkan Vanesa saat melihat tatapan mata Vanesa saat melewati gadis-gadis itu.


“Aku kesel banget lihat mukanya, sok cantik” kata Vanesa dengan suara yang sengaja dia besarkan agar mereka mendengarnya.


“Dia pacar baru Adrian kan?” Angel memastikan kalau dia tidak salah lihat saat mereka telah berlalu jauh.


Mereka lalu melupakan gadis-gadis itu dan fokus pada mata kuliahnya saja. Setelah mata kulaih pertama selesai, Nadia dan teman-temannya lalu duduk di taman sambil memakan bekal yang Vanesa bawa dari rumah. Mereka bosan dengan makanan kantin, jadi Vanesa meminta pelayan di rumahnya membuatkan bekal untuk tiga orang.


“Jadi kapan acara kamu, Nad?” dari pada membahas yang lain, lebih baik mereka membahas tentang rencana pernikahan Nadia dan Bintang. Mereka sangat antusias, seantusias pertama saat mereka menjodohkan Nadia dan Bintang.


“Awal bulan depan” jawab Nadia. Orang tua Bintang yang mengurus semuanya karena Nadia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini jadi semuanya dia serahkan pada Papa dan Mama mertuanya.


“Awal bulan depan kan tinggal dua minggu lagi, Nad. Apa masih keburu?” tanya Angel. Dia tidak tahu kalau semua bisa di sulap dengan uang. Nadia hanya mengendikkan bahunya. Dia pun hanya ikut saja apa kata Aisyah.


“Kalian jadi pengantar pengantinnya, Mama minta aku buat ajak kalian nanti ke designer. Biar kalian bisa lihat model baju yang kalian mau,” kata Nadia.


“Nggak sangka yah, awalnya kamu hanya mau memberi pelajaran pada Sarah karena sikap arrogannya. Eh, beneran Tuan Bintang meninggalkan Sarah dan sekarang malah kamu mau menikah dan jadi istrinya Tuan BIntang,” Angel mengingatkan awal mula hingga Nadia dan Bintang bisa sampai seperti sekrang ini.


“Apa aku jahat yah sudah merusak rumah tangga orang,” Nadia sadar betul bahwa sekarang dia sedang bahagia di atas rasa sakit yang Sarah rasakan karena perpisahannya denga Bintang hingga kadang perasaan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


“Kan Sarah juga yang selingkuh, malah lebih parah karena mereka sampai main apartemen, apa coba yang mereka lakukan di dalam kamar berduaan,” kata Vanesa.


“Iya juga sih,” perasaan Nadia lalu kembali lega mengetahui bukan dia satu-satunya penyebab perpisahan Sarah dan Bintang.


Seperti yang Nadia katakan tadi, ketiga gadis itu di jemput supir Aisyah yang sudah menunggu mereka di butik. Nadia lalu memperkenalkan teman-temanna pada Aisyah karena ini baru pertama kalinya mereka bertemu.

__ADS_1


“Cantik-cantik banget sih kalian,” puji Aisyah. Yang di puji hanya tersenyum malu.


Mereka lalu melihat rancangan gaun milik designer itu. Mereka memilih model baju yang berbeda. Vanesa dengan model kerah yang memperlihatkan leher dan lengan indahnya, sementara Angel memilih model yang sedikit tertutup dengan lengan pendek.


Setelah selesai mengukur, Aisyah membawa mereka makan siang. Dia bergaul dengan mudah dengan kedua teman Nadia. Asiyah berterima kasih karena mereka sudah mau menjadi teman Nadia dan selalu menolong Nadia.


“Bagaima kamu bisa berteman dengan anaknya Vincent dan Laura?” Asiyah terkejut setelah mengetahui siapa orang tua Vanesa. Pantas saja gadis itu terlihat sangat berkelas dari barang-barang yang dia pakai.


“Waktu SMA, Ma. Kita akrab begitu saja, awalnya hanya ngobrol biasa lama-lama jadi sering ketemu dan akhirnya saling akrab,” cerita Nadia mengenai awal pertemuannya dengan kedua temannya.


“Tapi dia ramah dan tidak kelihatan sombong. Padahal harta orang tuanya tidak terhitung nilainya,” komentar Asiyah setelah bertemu dengan Vanesa.


“Iya, Ma. Vanesa sangat baik.kadang Nadia juga berfikir kenapa bisa sampai berteman dengan anak orang kaya padahal Nadia kan hanya pembantu. Tapi Vanesa tidak pernah memandang status dalam berteman, itu yang membuat hubungan kami bertiga bisa sampai sekarang,” kata Nadia yang memuji kebaikan Vanesa.


Saat sampai di rumah, Asiyah langusng masuk ke kemaranya dan beristirahat. Wanita paruh baya itu sudah merasa sangat lelah seharian berada di luar rumah. Sementara Nadia pergi ke dapur mencari Tuti.


“Mbak tuti mana?” tanya Nadia pada Sita saat tidak melihat Tuti di mana-mana.


“Ada apa, Nad” Tuti tiba-tiba muncul dari belakang Nadia. Ternyata dia habis mandi. Nadia lalu menarik Tuti masuk ke kamar.


“Ini, Mbak” Nadia memberikan sebuah paper bag kepada Tuti, gadis itu mengambil dan membuka isinya.


“Wah, cantik banget sih, Nad” Nadia tersenyum senang melihat Tuti menyukai gaun yang dia pilihkan untuk gadis itu.


“Pokoknya Mba harus tampil cantik di acaraku nanti,” kata Nadia.


“Tapi kan Mbak harus pakai baju pelayan, Nad. Masak Mbak pakai baju ini sih,” kata Tuti yang mengira dia akan ada di pesta sebagai pelayan nanti.

__ADS_1


“Nngak dong, siapa bilang. Aku sudah bilang sama Tuan Bintan kalau Mbak Tuti harus jadi pendamping aku nanti. Walaupun ada Vanesa sama Angel, aku kan juga masih butuh Mbak Tuti. Mbak satu-satunya keluargaku sekarang, Mbak nggak akan jadi pelayan selamanya.”


Tuti sangat terharu mendengar Nadia mengatakan hal itu. Dia memeluk gadis itu dan mengucapkan terima kasiih padanya.


__ADS_2