Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 64


__ADS_3

Vanesa akhirnya punya waktu untuk bertemu Alex setelah laki-laki itu memberi pesan padanya untuk bertemu di tempat biasa. Vanesa tentu senang akhirnya bisa menyelesaikan urusannya dengan Alex.


“Kita tunggu di luar aja, kamu selesaikan urusan kamu sama Om Alex. Tapi jangan lama-lama, ingat tujuan kamu untuk mengkahiri bukan untuk manja-manja sama Om Alex. Pokoknya kamu harus tegas, jangan mau terpancing kalau dia sayang-sayang kamu. Oke?” Angel menasehati Vanesa sebelum gadis itu masuk ke dalam ruangan di mana Alex sudah menunggunya di dalam.


Biasanya Vanesa akan selalu luluh jika Alex sudah membelainya, apalagi jika laki-laki itu mengusap kepalanya lalu mencium keningnya. Vanesa pasti akan merasa sangat nyaman dan akan betah berlama-lama dalam pelukan Alex. Itulah mengapa Angel mengingatkannya sebelum dia masuk ke dalam.


Vanesa menarik nafas yang panjang sebelum memutar knock pintu, dia lalu masuk tanpa mengetuk pitu terlebih dahulu.


“Om...” sapa Vanesa. Alex berdiri dari duduknya dan langsung menyambut Vanesa dengan pelukan hangat.


“Maaf yah sayang, Om sibuk banget jadi nggak punya waktu buat kamu,” kata Alex sambil mengusap rambut Vanesa dengan lembut. Vanesa menjauhkan tangan Alex dari rambutnya yang membuat laki-laki itu memcingkan matanya.


“Aku mau bicara penting sama, Om,” kata Vanesa. Dia lalu duduk di dan meminta Alex juga duduk.


“Duduk di sana, Om,” kata Vanesa menunjuk kursi di depannya saat Alex akan duduk di sampingnya.


“Ada apa? Sepertinya serius,” Alex lalu duduk dan siap mendenarkan apa yang akan Vanesa katakan.


“Om, mmm...” Vanesa tidak tahu harus mulai dari mana. Dia tidak mau menyinggung Alex, tapi demi kebebasannya, Vanesa harus berani meminta Alex untuk tidak lagi menganggapnya sebagai sugar baby.


“Aku nggak bisa lagi ketemu sama, Om,” kata Vanesa akhirnya meskipun dengan terbata.


“Maksud kamu?”


“Aku mau cari pacar juga, Om. Pacar yang bisa aku pamer sama teman-temanku, yang bisa antar atau jemput aku di kampus,” kata Vanesa. Dia melihat dan ekspresi Alex yang sama sekali tidak terkejut mendengarnya.

__ADS_1


“Aku menghormati dan menghargai, Om. Makanya aku mau akhiri hubungan kita sebelum aku cari pacar,” sambung Vanesa lagi sementara Alex masih tidak menunjukkan reaksi apapun.


“Om... Om tidak akan menganggu ku kan kalau aku dekat dengan laki-laki lai,?”


Alex memperbaiki posisi duduknya, dia memangku kaki kanan di atas kaki kirinya, lalu tangannya bersedekpan di atas perutnya dan menatap Vanesa dengan pandangan yang lain dari biasanya.


“Memangnya kamu pikir ada orang yang tulus mendekati kamu kalau mereka tahu siapa orang tua kamu?” kata Alex pada akhirnya. Vanesa mengkerutkan keningnya, apa maksudnya?


“Kamu tidak akan menemukan orang yang benar-benar menginginkan kamu, Vanesa. Orang yang mendekati kamu hanya ingin memanfaatkan kamu,”


“Termasuk Om juga?” pertanyaan Vanesa membuat Alex menatapnya dengan cukup tajam.


“Aku akui kau cantik, tubuhmu bagus dan bibirmu juga sangat manis. Tapi aku sungguh tidak tertarik dengan anak ingusan sepertimu.”


“Om serius,” tanya Vanesa tidak percaya. “Jadi apa tujuan Om mendekatiku, apa Om  juga hanya memanfaatkan aku?”


Alex tertawa, dia benar-benar menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya dan itu membuat Vanesa sangat takut. Tapi dia harus mendapat penjelasan dari Alex tentan semuanya. Benarkah Alex selama ini hanya berpura-pura memberi kenyamanan pada Vanesa. Apa tujuannya sedangkan dia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan orang ua Vanesa.


“Orang tuamu sangat menyayangimu Vanesa, kau tidak tahu itukan? Mereka mau memberi pinjaman yang sangat besar padaku karena aku selalu mengirimi mereka foto saat kita makan bersama. Aku bilang pada orang tuamu bahwa aku menjagamu sebagai Papamu selama mereka tidak ada, itu sebabnya mereka mau mempercayakan uang mereka padaku.” Alex tertawa dengan sangat nyaring.


“Tapi sebentar lagi uang orang tuamu akan menjadi uangku karena ornag tua mu akan memberikannya padaku,”


Pelupuk mata Vanesa mulai basah, gadis itu mencoba menahan isak tangisnya. Hatinya benar-benar sangat terluka mengetahui kenyataan yang begitu pahit. Alex, laki-laki yang dia pikir paling menyayaginya ternyata hanyalah seorang penipu yang hanya memanfaatkannya.


“Kau ingat dua berandalan itu, aku lupa siapa namanya tapi aku membuat mereka menjauhimu. Bukan karena aku sayang padamu, tapi karena orang tuamu pasti akan sangat berisik dan terus menghubungiku jika dia tahu sesuatu yang buruk terjadi padamu,” kata Alex yang kembali berkata jujur.

__ADS_1


“Ah, dan semua orang yang ingin mendekatimu. Aku memberi mereka pelajaran agar mereka menjauhimu karena aku tidak mau kau berhubungan dengan laki-laki manapun. Tentu saja bukan karena aku perduli atau jatuh cinta padamu. Tapi karena aku tidak mau kau meninggalkan aku,”


Air mata Vanesa sudah mulai jatuh, tapi dengan cepat dia mengusapnya dan juga mengusap matanya yang berair.


“Om jangan berharap Papa dan Mamaku akan memberikan uang lagi pada Om, aku akan ceritakan semuanya sama orang tuaku dan meminta mereka mengambil kembali uang yang Om pinjam biar Om jadi miskin dan tidak punya apa-apa lagi,” kata Vanesa dengan marah. Dia lalu berdiri dan hendak meninggalkan Alex dengan rasa sakit dan kecewa di hatinya. Tapi ucapan Alex menghentikan langkahnya.


“Aah, kira-kira apa yang orang tuamu akan pikirkan kalau dia melihat video-video kita yang sedang bermesraan...”


Vanesa berbalik dengan cepat, kelopak matanya membesar dan wajahnya nampak sangat marah.


“Apa maksud Om,” teriak Vanesa.


“Kamu lihat itu,” Alex menunjuk dengan jarinya sebuah benda kecil yang berada di lukisan yang ada tertempel di dinding.


“Kenapa aku selalu datang lebih dulu, karena aku harus memasangnya terlebih dahulu,”


Kaki Vanesa serasa lemas, dia memegangi dinding untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Dia tertipu selama ini, dia ternyata menjalin hubungan dengan seorang iblis berwujud laki-laki yang memberinya kenyamanan dan kasih sayang.


“Mereka pasti akan malu jika video anak kesayangan mereka tersebar ke seluruh dunia. Mereka tidak akan mau mempelihatkan wajah mereka di depan umum karena malu. Anak gadis mereka di cium dan di raba oleh laki-laki yang hanya pantas menjadi Ayahnya...”


“Apa mau Om?” tanya Vanesa. Sungguh, saat ini dia sangat ingin memukul dan menghancurkan Alex sampai menjadi puing-puing yang tidak ada harganya.


“Aku akan gunakan semua Video ini untuk mengancam orang tuamu, jangan khawatir. Aku hanya akan meminta separuh dari harta mereka. Jika di bandingkan dengan reputasi mereka, separuh dari kekayaan mereka itu tentu tidak akan ada harganya.” Sekarang giliran Alex yang pergi meninggalkan Vanesa, dia melangkah dengan santai keluar dari restoran dengan wajah yang sangat ceria.


Sementara Vanesa sudah jatuh terduduk di lantai sambil menangis menyesali apa yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2