Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 47


__ADS_3

Hari ini Jony menemui Bintang di kantornya seperti yang sudah mereka sepakati. Bintang sudah mempersiapkan diri untuk mendengar apapun. Dia seolah sudah mati rasa dan tidak lagi merasakan apapun pada Sarah.


“Namanya Mario, dia adalah mantan pacar Nyonya sebelum menikah dengan anda” kata Jony saat memberikan sebuah kertas berisi data pribadi Mario.


Bintang melihat dengan jelas sekali lagi wajah Mario, kemarin dia hanya melihanya sekilas dan tidak memperhatikan wajahnya dengan baik karena begitu terpukul dan tidak percaya. Setelah Bintang memperhatikan dengan baik, dia baru mengingat laki-laki itu pernah datang ke pernikahannya dan Sarah memperkenalkannya sebagai teman baiknya saat masih kuliah.


“Mereka kuliah di kampus yang sama dan saat itulah mereka menjalin hubungan” terang Jony. “Mereka cukup lama berpacaran, bahkan mereka masih menjalin hubungan saat Nyonya mulai mendekati anda.”


Bintang sepertinya sudah muak mendengarnya, tapi dia tetap memaksakan diri mendengar. Dia harus tahu apa yang sebenarnya sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan.


“Saat ini Mario sudah kembali ke Perancis karena dia bekerja disana”


“Perancis?” Dia ingat kalau Sarah sering ke Perancis dengan alasan pekerjaan.


“Mario berada di negeri ini selama dua minggu, dan selama itu Nyonya selalu menemaninya.” Lanjut Jony.


“Sudahlah, aku rasa sudah cukup” kata Bintang dengan lemah. Dia merasa sudah cukup mendengar dan sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


“Terimakasih banyak, Jony. Aku...” Bintang tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Marah, kecewa semua bercampur menjadi satu.


“Apa masih ada yang harus saya lakukan untuk anda?” tanya Jony menunggu perintah Bintang selanjutnya.


“Tidak ada lagi, Jon. Cukup, aku tidak mau tahu lebih banyak lagi.”


Jony lalu pamit, dia kembali meninggalkan Bintang dengan segala kepedihan di hatinya.

__ADS_1


Selama dua minggu Mario datang ke negeri ini untuk urusan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Sarah sebagai seorang designer. Dia meninggalkan pekerjaannya dan mempercayakan semua pada asisten dan para karyawannya, Sarah hanya datang saat di perlukan dan ketika ada tamu khusus yang mencarinya untuk di buatkan gaun. Selebihnya, Sarah akan selalu bersama Mario.


Jika malam dia akan pulang ke rumah seperti biasa, saat pagi pun keluar rumah juga seperti biasa. Puncak kebersaam mereka adalah saat Bintang ke luar negeri, Sarah tidak pernah pulang dan tinggal di apartemen bersama Mario.


Sarah menikahi Bintang karena dia membutuhkan nama besarnya dan keluarganya. Jika di bilang cinta, Sarah tidak terlalu menganggap cinta itu penting. Dia rela mengorbankan apapun demi mendapatkan apapun yang dia inginkan. Bahkan kebebasannya sekalipun.


Saat ini Sarah sudah kembali pada kehidupannya sebelumnya. Dia sudah kembali menjadi istri Bintang karena Mario sudah kembali ke Perancis.


Mario juga sebenarnya sudah punya keluarga di Perancis, dia menikah dengan wanita dari negara itu dan memilih menetap disana. Baik Sarah maupun Mario, pertemuan mereka yang sesekali hanya untuk mengenang masa-masa pacaran mereka yang begitu indah. Tidak ada niat Sarah untuk menduakan Bintang dengan berselingkuh.


Sementara itu Nadia dan Nenek Mina sudah berada di terminal bus dan siap untuk pulang ke kampung. Vanesa dan Angel memeluk Nadia sambil menangis tersedu. Merekapun akhirnya berpisah.


“Jangan berhenti kasih kabar ya, Nad” kata Angel sambil menggenggam erat tangan Nadia.


“Iya, pasti,” kata Nadia. Dia juga menangis saat harus meninggalkan kehidupan yang begitu menyenangkan di kota itu bersama teman-temannya. Masa kuliahnya, pekerjaan yang walaupun meleahkan tapi sangat menyenangkan.


Melihat pemandangan yang begitu mengharukan saat Vanesa dan Angel tidak mau melepaskan tangan mereka dari Nadia juga membuat Nenek Mina sedih. Jika saja bisa, dia juga tidak ingin membawa Nadia ke desa terpencil yang hanya ada sawah dan sungai. Tidak ada universitas, cafe dan lainna.


Tapi Nenek Mina tidak mau Sarah sampai menyakti Nadia jika dia tahu suaminya memiliki hubungan dengan Nadia. melihat tempramen Sarah yang sangat buruk, tentu hal itu akan terjadi seandainya Bintang dan Nadia ketahuan olehnya.


Nenek Mina hanya ingin menjauhkan Nadia dari Bintang dan membawanya pergi sejauh mungkin adalah cara yang paling tepat menurutnya.


“Tuan Bintang pasti akan cari kalian, kalian tahu kan harus melakukan apa” kata Nadia sebelum naik ke bus yang akan membawanya ke kampung.


“Tenang aja, kami akan menutup rapat mulut kami. Tuan Bintang nggak akan tahu kamu ada di mana” kata Vanesa.

__ADS_1


“Kami akan datang saat liburan semester, Nad. tunggu kami yah,” Nadia mengangguk dia tersenyum tapi air matanya malah menetes.


Nadia melihat di sekitar mencari seseorang yang tidak mungkin dia temukan di anatra ratusan orang yang sednag berada di terminal itu.


‘Selamat tinggal, Tuan. Jika Tuan akhirnya berpisah dengan Nyonya, aku harap Tuan akan mendapatkan ganti yang jauh lebih mencintai Tuan. Aku juga akan melupakan Tuan dan menemukan laki-laki yang mencintaiku. Yang belum menikah pastinya’


Nadia sekali lagi memberikan senyumnya pada teman-temannya, dia melambaikan tangannya saat bus yang dia tumpangi mulai berjalan meninggalkan Vanesa dan Angel yang masih melambaikan tangannya. 


Saat bus sudah semakin menjauh, Vanesa dan Angel pun meninggalkan terminal itu.


“Jadi bagaimana? Kamu masih mau tetap kerja?” tanya Vanesa pada Angel.


“Iya lah, bagaimana aku mencukupi kebutuhanku kalau aku nggak kerja” jawab Angel.


Sudah dua hari ini mereka bolos kuliah, Angel pun sudah dua hari minta ijin tidak masuk kerja dan managernya sama sekali tidak keberatan. Terkadang Angel juga heran dengan manager wanitanya yang sangat baik padanya dan Nadia. walaupun mereka anak baru, tapi mereka berdua seperti dapat perlakuan khusus.


Jika saja managernya itu laki-laki, Angel pasti sudah berfikir kalau dia mungkin naksir pada Angel atau Nadia. Tapi dia seorang wanita mereka juga baru bertemu saat melamar pekerjaan tapi kenapa dia baik sekali pada mereka.


“Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Vanesa.


“Apa lagi, tentu melanjutkan kehidupan kita seperti biasanya. Anggap aja Nadia juga masih ada di antara kita” kata Angel.


“Aku nggak kebayang kalau suatu hari nanti kamu juga tinggalin aku,” Vanesa mengkerutkan keningnya melihat Angel.


“Kalau suatu hari nanti orang tua kamu juga pindah dan menetap selamanya di suatu tempat yang jauh dari negeri ini, bagaimana. Apa kamu akan ikut mereka atau kamu akan tetap tinggal disini?” entah kenapa tiba-tiba Angel punya pikiran seperti itu.

__ADS_1


“Kalau aku juga pergi, kamu sendirian dong” Angel lansung merasa sedih membayangkan Vanesa juga meninggalkannya. Dia tentu tidak punya pilihan lain selain kembali tinggal bersama orang tuanya.


Mereka menghentikan perbincangan yang hanya perandaian itu, meski begitu mereka tetap sedih jika membayangkan akan berpisah. Pastinya suatu hari mereka akan memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Tidak mungkinkan mereka bersama selamanya kan?


__ADS_2