Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 98


__ADS_3

Bintang sudah ada di dalam ruang bersalin menemani istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak kembar mereka. Nadia memegang erat tangan Bintang saat rasa sakit datang bertubi-tubi menyerang seluruh bagian tubuhnya.


Sesekali Nadia melepaskan tangannya dan menjambak rambut Bintang, tangan dan wajah Bintang juga tidak luput dari cakaran. Bintang terlihat sangat ketakutan saat melihat istrinya begitu merasakan sakit saat kontraksi.


Tim dokter sudah berada di dalam ruangan, sudah waktunya Nadia melahirkan anak kembarnya. Semua alat juga sudah di siapkan. Nadia mengeram dengan sekuat tenaga. Bintang yang melihatnya pun merasa tidak tega pada istrinya. Mungkin itulah alasan Sarah selama ini tidak ingin memiliki anak karena tidak ingin merasakan sakit yang luar biasa seperti yang sekarang Nadia rasakan.


Bayi pertama berhasil keluar dengan lancar. Namun saat bayi kedua ingin di keluarkan, Nadia sudah kehabisan tenaga hingga dia berkali-kali hampir kehilangan kesadaran. Bintang terus memanggilnya hingga dia membuka mata dan kembali mengeram untuk melahirkan bayi kedua. Nadia bahkan harus di bantu dengan vakum untuk menariknyakeluar karena Nadia sudah tidak punya kekuatan lagi.


Darah segar keluar bersamaan bayi kedua yang keluar. Dan pada saat itu Nadia langsung kehilangan kesadarannya. Dokter dan perawat yang berada di dalam ruang persalinan pun menjadi sangat panik, mereka meminta Bintang untuk keluar karena Nadia harus esegera mendapatkan perawatan ekstra setelah kehilangan banyak darah.


“Ada dengan istriku, dokter?” tanya Bintang dengan panik. Bukan hanya panik, tapi dia juga sangat takut. Dia melihat Nadia menutup matanya perlahan-lahan. Bintang sangat takut terjadi hal yang buruk pada istrinya.


“Tekanan darahnya sangat rendah, kami harus segera melakukan pertolongan pertama,” Dokter terpaksa mendorong Bintang karena laki-laki itu tidak mau meninggalkan istrinya. Bintang lalu berjalan mundur dengan wajah yang diliputi kesedihan.


“Ada apa?” Aisyah mendekati Bintang, dia ikut panik dan takut melihat Bintang yang jatuh terduduk di depan pintu dengan wajah mendung dan mata yang basah.


“Nadia, Maa. Nadia pingsan di dalam. Dia kehilanan banyak darah,” Aisyah ikut shock mendengarnya. Dia lalu memeluk anakya dan mereka berdua sama-sama duduk di depan pintu ruang persalinan menunggu dokter keluar untuk mengetahui keadaan Nadia di dalam sana.


Bintang segera berdiri saat mendengar pintu di buka, namun yang keluar bukan dokter melainkan perawat yang berlari dengan tergesa-gesa. Tidka lama perawat itu kembali membawa dua kantong darah. Bintang dan juga kedua orang tuanya yang masih menunggu tambah panik di buatnya.

__ADS_1


Tidak lama, dari kejauhan ada lai seorang dokter yang berlari dan segera masuk ke dalam ruang persalinan. Lalu dokter Vino juga terlihat berlari menghampiri Bintang.


“Kenapa dengan istriku, kenapa dia?” Bintang sudah tidak punya kekuatan lagi, dia begitu lemas mengetahui istrinya di dalam sana sedang tidak baik-baik saja.


“Dia kehabisan banyak darah, tenanglah, kami akan berusaha menyelamtkannya,” dokter Vino lalu masuk ke dalam. Sementara Bintang kembali jatuh kemas mendengar keadaan istrinya yang ternyata dalam kondisi koma.


Hampir dua jam lamanya saat dokter membuka pintu, Bintang dan kedua orang tuanya langsung mendekat dan bertanya bagaimana keadaan Nadia. Dokter Vino menghela nafas, Bintang sudah merasa kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi di dalam sana.


“Bagaimana dia?” tanya Bintang dnegan suara parau.


“Kami berhasil menyelamatkannya, tapi sekarang dia dalam keadaan koma,” Bintang menunduk, air matanya jatuh menetes membasahi lantai.


“Tidak tahu sampai kapan, Om. Mungkin satu minggu, satu bulan, atau satu tahun. Kami tidak bisa memberi jawaban yang pasti.”


Hati bintang sangat hancur mendengarnya. Istri yang baru saja memberikan anak kembar yang sangat di inginkannya itu sekarang sedang terbaring koma. Nadia yang begitu senang akhirnya bisa memberikan anak padanya dan juga cucu untuk orang tuanya sekarang sedang tidur panjang dan entah kapan dia akan bangun dan melihat sepasang anak kembar yang sudah dia lahirkan dengan susah payah.


Nadia sudah di pindahkan ke ruang icu, anak kembar mereka juga sudah di pndahkan ke ruang bayi. Anak kembar itu lahir dengan sehat dan selamat setelah ibunya mengorbankan dirinya untuk melahirkan mereka.


Bintang akhirnya bisa melihat anak-anaknya, bayi cantik dan tampan yang di berikan Nadia sebagai hadia yang paling indah untuknya.

__ADS_1


“Kids, Mama sedang tidur, tapi kalian tenang saja karena Papa akan merawat kalian dengan baik,” Bintang kembali meneteskan air mata melihat bayi-bayi lucu di depannya. Bayi yang yang sudha di lahirkan istrinya hingga mengorbakan dirinya sendiri.


Bayi itu di beri nama Axel dan Alexa. Sepasang bayi kembar yang memiliki perpaduan wajah orang tuanya. Axel, bayi lak-laki yang lahir lebih dulu. Wajahnya adalah duplikat dari Nadia, sedangkan Alexa mengikuti garis wajah Bintang.


Aisyah dan Hidayat mengambil alih kedua bayi itu untuk sementara karena Bintang tidak bisa mengurus mereka dengan penuh karena harus bolak balik kantor dan rumah sakit hingga dia jarang berada di rumah. Perhatiannya sekarang hanya terfokus pada istrinya yang masih tertidur dengan pulasnya.


“Mereka anak-anakku, Ma, cucu Mama dan Papa. Istriku mengorbankan dirinya untuk melahirkan mereka. Dia masih terlalu muda untuk melahirkan bayi kembar itu, dia sering mengalami rasa sakit selama mengandung mereka tapi dia menahan semuanya demi untuk membahagiakan aku dan juga Mama dan Papa. Kita berhutang banyak padanya, Ma,”


Aisyah mengangguk setuju dengan Bintang. Demi menuruti keinginannya, Nadia yang maish sangat muda itu rela mengorbankan masa mudanya dan bahkan sekarang dia harus terbaring koma hanya untuk memberikan keturuna untuk keluarga Aditama.


“Sabarlah, Mama yakin Nadia akan segera sadar. Dia anak yang kuat, dia pasti bangun untuk melihat anaknya yang lucu-lucu ini,” Aisyah memeluk Bintang. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membantu anaknya. Memberinya kekuatan agar dia tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


“Harusnya Bintang tidak memintanya segera hamil, Ma. Dia masih sangat muda, tubuhnya mungkin belum siap merasakan sakit seperti itu.”


Aisyah menepuk-nepuk bahu Bintang. Jika Bintang merasa bersalah, apalagi dengan dirinya yang ingin langsung meminta cucu. Jika saja mereka bisa menunggu satu atau dua tahun, mungkin saat itu tubuh Nadia sudah siap menerima semua rasa sakitnya. Dan Nadia langsung melahirkan bayi kembar secara normal. Bayi pertama berjalan lancar, tapi bayi kedua mengalami hambatan karena Nadia sudah kehabisan tenaga hingga harus di bantu Vakum. Tekanan darahnya yang rendah membuat kondisinya drop hingga tidak sadarkan diri sampai sekarang.


Kesedihan di tengah kebahagiaan. Mereka bersedih karena Nadia masih koma dan belum sadarkan diri. Dokter bahkan tidak tahu kapa dia bisa membuka matanya dan kembali seperti semula. Kebahagian karena akhirnya mereka bisa mendapatkan keturunan yang sudah lama mereka nantikan. Sepasang anak kembar yang cantik dan tampan.


“Mama pasti akan kembali berkumpul bersama kita, kalian yang sabar ya,” Bintang mengelus pipi bayi kembarnya. Dia akan meninggalkan mereka lagi untuk menemani istrinya di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2