
Esoknya di kampus, ketiga gadis itu sepakat untuk tidak lagi berhubungan dengan Aaron dan Arka. Mereka juga tidak mau membahasnya karena takut akan hal lebih gila lagi yang akan kedua laki-laki itu lakukan. Vanesa juga tidak akan menceritakannya pada Alex karena tahu apa yang akan Alex lakukan kalau dia sampai tahu kejadian itu.
Seperti pagi ini, mereka pura-pura tidak melihat Aaron yang berjalan ke arah mereka. Mereka terus berjalan sambil bercerita seolah mereka terlihat sangat serius dan tidak menyadari kehadiran Aaron.
“Kalau aku nggak takut sama Om Alex, sudah aku laporin sama Mama Papa aku biar di kasih pelajaran” kata Vanesa yang sangat kesal. Dia tahu target Aaron dan Arka adalah dirnya tapi untungnya dia punya dua sahabat yang selalu menjaganya.
“Sudah, kita lupakan dan anggap tdak pernah terjadi” kata Nadia sambil memegang erat tangan kedua temannya saat melewati Aaron.
“Haii...” Aaron berhenti tepat di depan mereka seraya merentangkan tangannya sehingga mau tidak mau ketiga gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Nadia menahan Vanesa yang akan maju di depan Aaron.
“Aaron, tumben sendirian. Arka mana?” tanya Nadia basa basi.
“Ada, biasa lagi ngisi lambung tengah. Eh, kalian semalam baik-baik ajakan. Aku perhatikan kalian ketakutan banget setelah liat kejadian semalam” kata Aaron dengan rasa tidak berdosanya.
“iya, kita baik-baik aja. Kita duluan yah, mau ke perpustakaan” Nadia menarik tangan kedua temannya meninggalkan Aaron.
“Dasar, sok jual mahal. Liat aja nanti” Aaron menatap langkah ketiga gadis itu dengan tatapan menyeringai. Tanpa dia tahu ada yang memperhatikannya dari kejauhan.
Sementara itu, Bintang yang menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat dari yang sudah dia perkirakan sudah kembali ke negeri ini tanpa mengabari siapapun. Dia ingin memberi kejutan kepada Sarah dan juga Nadia.
Apalagi selama di luar negeri, Sarah tidak berhenti mengiriminya foto-fotonya yang sedang berpakaian seksi. Belum lagi puluhan kata rindu yang selalu dia katakan setiap kali Bintang menelfonnya.
Ahh, mendapati hal seperti itu dari istrinya membuat Bintng serasa ingn segera pulang dan memeluk sarah sepanjang hari.
Tapi dia juga tidak melupakan wajah Nadia, dia juga merindukan gadis kecil itu. apalagi Nadia sama sekali tidak pernah mengabarinya. Bintang rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua wanita pujaan hatinya.
Bintang sengaja tidak pulang ke rumahnya dan malah tinggal di hotel saat dia sampai. Dia ingin memberi kejutan pada Sarah malam nanti.
Tapi sebelum memberi kejutan pada istrinya, Bintang terlebih dahulu menemui Nadia di tempat kerjanya.
__ADS_1
“Tuan Bintang” kata Nadia terkejut.
Dia lalu memberikan buku menu pada Bintang meski tidak yakin Bintang datang untuk makan.
“Pulang jam berapa?” tanya Bintang sambil melihat-lihat menu.
“Jam sepuluh, Tuan” jawab Nadia dengan ramah seolah sedang melayani pelanggan sungguhan. Angel yang melihat ada Bintang hanya senyum-senyum saja dari kejauhan.
“Kenapa lama sekali” katanya meletakkan buku menu itu. sepertinya tidak ada satu menupun yang menarik mennurutnya.
“karena aku baru masuk siang tadi, pas pulang kuliah. Tuan tidak mau pesan apa-apa?” Nadia terlihat kesal mengambil buku menunya.
“Aku pesan paket yang itu saja” katanya menunjuk dengan dagunya menu yang ada di papan di atas kasir.
“Serius, Tuan mau makan itu di sini? Sendiri?” tentu saja Nadia terkejut, paket yang Bintang pesan adalah paket untuk di makan beramai-ramai.
“Tidak, kau makan saja bersama teman-temanmu”
“Nikmati makanannya bersama teman-temanmu. Aku akan ke rumah besok malam” bisik Bintang sambil berlalu membuat Nadia menatap kesal padanya.
“Loh, Nad. orangnya kok malah pergi” kata salah satu pelayan yang sedang mempersiapkan pesanan Bintang.
“Katanya buat kita aja” jawab Nadia dengan senyuman keslanya.
Para pelayan itu langsung bersorak dengan riang gembira mendapat makanan gratis. Mereka lalu bergantian makan hasil dari traktiran Bintang.
Sementara itu Bintang kembali mendapat pesan rindu dari Sarah. Sarah juga mengirimkannya foto dirinya yang sedang memakai baju tidur yang baru kali ini Bintang lihat. Mungkin Sarah baru membeli baju itu. Melihat Sarah yang hampir tanpa busana di foto itu membuatnya ingin segera menemui istrinya itu di rumah.
“Aku sangat merindukanmu sayang” kata Sarah dalam pesannya di bawah foto dirinya. Bintang melihat foto itu Sarah ambil di kamar mereka.
__ADS_1
“kau sudah ada di rumah?” tanya Bintang membalas pesan Sarah.
“iya, sayang. Aku selalu ada di rumah. Aku ingin tidur di kamar kita dan mencium bau tubuhmu yang kau tinggalkan di kamar ini” balas Sarah. Bintang bisa membayangkan bagaimana wajah istrinya itu sekarang. Dia pasti sudah sangat ingin Bintang membelainya.
Bintang berharap dengan seringnya mereka melakukan hubungan suami istri dan terapi yang mereka lakukan akan segera membuahkan hasil sehingga sarah bisa cepat mengandung anak pertama mereka.
“Cepatlah pulang, aku sangat ingin memelukmu di sini, di tempat tidur kita” kata Sarah lagi. Bintang tersenyum membaca pesannya.
Dia merasa sarah sedikit aneh akhir-akhir ini. Dia menjadi sangat agresif dan selalu haus sentuhan Bintang. Padahal dulu Bintang bahkan harus menunggu sampai moodnya baik baruah sarah mau melayani Bintang di tempat tidur. Walau begitu Bintang merasa sangat bersyukur Sarah sudah berubah, mungkin dia menyadari bahwa memang sudah tugasnya menjadi istri untuk selalu melayani kebutuhan suaminya. Terutama di atas ranjang.
“Aku akan segera pulang, istirahatlah dan jangan bekerja jika kau sudah ada di rumah” kata Bintang.
“Iya, sayang. Aku sudah malas beranjak dari tempat tidur” Bintang tidak lagi membalas pesan Sarah. Dia segera mandi untuk pulang kemabli ke rumahnya dan memberi kejutan pada istrinya.
Bintang menelpon suir kantor untuk menjemputnya karena dia tidak membawa mobilnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, Bintang sampai di rumahnya. Dia tersenyum melihat mobil Sarah sudah terparkir di halaman rumah. Dia mengetuk pintu dan tiidak lama Tuti datang dan membuka pintu.
“Tuan, selamat malam” sapa Tuti dengan sopan. Dia senang Bintang sudah pulang.
“Apa Nyonya sudah tidur?” Tuti terlihat kebingungan dengan pertanyaan Bintang.
“Nyonya....?” kata Tuti mengkerutkan keningnya.
“Ada apa...” Bintang melihat ada yang tidak beres dengan ekpresi Tuti.
“Bukannya Nyonya keluar negeri bersama, Tuan?”
Bintang seketika mengubah raut wajahnya menjadi sangat aneh. Marah dan kecewa yang bbisa terlihat dengan jelas. Tapi begitu, dia tetap naik ke kamarnya dan memastikan sendiri apa yang Tuti katakan. Dan Bintang benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kamar itu rapi dan bersih, tidak ada tanda-tanda seseorang sudah tidur di atas ranjang.
__ADS_1
Bintang mengepalkan tangannya penuh amarah. Sarah mempermainkannya? Semua pesan dan foto yang dia kirimkan hanya untuk mengelabui dirinya?
“Tuan mau pergi lagi?” Bintang sudah tidak menjawab pertanyaan Tuti, dia hanya mengambil kunci mobilnya dan pergi entah kemana.