Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 80


__ADS_3

Angel dan Adrian kembali bisa bertemu setiap hari setelah dia dan teman-temannya mulai kembali aktif kuliah. Mereka sepakat untuk lulus bersama-sama di kampus itu. Tapi sayangnya, kisah cinta Angel lagi-lagi harus berakhir dengan sedih ketika Adrian memutuskan dirinya karena jatuh cinta pada wanita lain.


“Maafkan aku, Angel. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita,” kata Adrian yang membuat Angel patah hati.


Adrian tidak mengatakan kenapa tiba-tiba dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Angel, tapi Angel tentu bukan gadis lemah. Walaupun sakit hati dan terlkuka, dia tetap menerima keputusan Adrian untuk berpisah.


Kedua sahabatnya mengajaknya ke kantin dan menghiburnya, lalu mereka melihat Adrian sedang bersama seorang wanita yang baru pertama kali mereka lihat. Jika di bandingkan dengan Angel, gadis itu masih kalah jauh. Angel masih lebih cantik dari gadis itu. Tapi melihat pakaian yang dia kenakan, Vanesa bisa menebak kalau gadis itu berasal dari keluara kaya. Mungkin itu alasan Adrian lebih memilih gadis itu dari pada Angel. Karena Angel bukan gadis dari keluarga kaya seperti.


“Nggak apa-apa, laki-laki mata duitan seperti dia tidak pantas membuat kamu sakit hati,” kata Vanesa memberi semangat pada Angel. Meski begitu Angel tetap masih merasa sedih.


“Tapi aku sudah sayang sama dia, dia juga baik,” kata Angel. Tidak semudah itu dia akan melupakan Adrian. Walau sebentar, tapi hubungan mereka sudah sangat dekat.


“Aku butuh waktu,” katanya. Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya hingga membuat dua temannya khawatir.


Mata kuliah mereka hari ini selesai, cukup banyak mata kuliah hari ini sehingga mereka keluar kampus sudah lewat jam dua siang. Nadia menawarkan untuk makan siang bersama di restoran tempat mereka pernah kerja. Mungkin tempat itu akan sedikit menghibur Angel. Mereka semua setuju, dan jadilah mereka memesan taksi online ke restoran itu.


Suasana sangat ramai saat mereka sampai, manager yang melihat mereka datang segera menyambut dan mencarikan meja yang kosong untuk ketiga gadis itu. Dan benar saja, Angel merasa sedikit terhibur berada di restoran itu hingga dia melupakan sesaat sakit di hatinya.


Terbukti Angel menghabisakan makanan yang di pesankan untuknya. Vanesa dan Nadia pun merasa lega melihatnya.


“Abis ke sini kita ke salon yuk,” ajak Vanesa.


“Boleh, tapi kali ini aku yang traktir. Bagaimana?” Vanesa tentu langsung setuju. Mereka membujuk Angel dan akhirnya gadis itupun setuju.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di salon. Angel memotong rambut panjangnya sehingga dia terlihat lebih segar dan cantik. Tidak lupa juga mereka mewarnai kuku kaki dan tangan. Setelah itu mereka bersenang-senang dengan melihat baju di butik. Vanesa membelikan Angel sebuah dress yang sangat cantik. Vanesa mau Angel memakai dress itu besok saat ke kampus.

__ADS_1


“Laki-laki gila uang itu akan menyesal memutuskan seorang Angel,” kata Vanesa.


Angel terharu melihat ketulusan teman-temannya untuk membantu dirinya melupakan kesedihannya. Angel tidak mau mengecewakan mereka, dia berjanji akan segera move on.


“Besok kalian akan kembali melihat Angel,” katanya tersenyum. Vanesa dan Nadia lalu bertepuk tangan karena berhasil mengembalikan mood temannya.


Malam harinya di rumah Bintang. Bintang menceritakan pada orang tuanya dan Nadia tentang pertemuannya dengan Sarah.


“Untuk apa kamu menemui perempuan itu, Bintang,” kata Hidayat. Dia tidak mau Bintang berhubungan lagi dengan Sarah, untuk urusan apapun.


Nadia melihat Bintang, wajahnya tidak marah lagi saat dia menyebut nama itu. Sepertinya amarah Bintang sudah mereda, Nadia takut Bintang dan Sarah akan kembali bersama. Nadia menunduk sedih membayangkan hal itu. Hidayat melihatnya, dai menangkap wajah sedih Nadia saat Bintang bercerita tentang Sarah.


“Tidak, masih banyak perancang gaun pengantin yang tidak kalah dari wanita itu. Papa tidak setuju.” Hidayat menolak dengan tegas saat Bintng mengatakan kalau Sarah ingin menjadi perancang gaun pengantin untuk Nadia.


“Nadia, permisi kembali ke kamar duluan,” kata Nadia yang tiba-tiba merasa perasaanya terluka saat Bintang membicarakan Sarah.


“Bodoh, untuk apa kau menemuinya,” tanya Hidayat sekali lagi. Pasti ada alasan khusus kenapa Bintang sampai mau bertemu lagi dengan mantan istrinya itu.


“Bintang hanya memperingatkan Sarah, Pa, agar dia tidak mengganggu Nadia lagi,” jawab Bintang. Dia mengatakannya karena Hidayat sudah terlihat sangat marah.


Bintang menceritakan pada mereka bahwa Sarah pernah menemui Nadia dan melukai gadis itu, Bintang hanya memberi peringatan agar Sarah tidak lagi berani melakukannya. Aisyah dan hidayat lalu mengerti. Mereka menyuruh Bintang menyusul Nadia karena spertinya gadis itu sedih mendengar Bintang menyebut nama Sarah bahkan sampai bertemu mantan istrinya itu. Bintang lalu segera menemui Nadia.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Bintang masuk ke kamar Nadia. Dia mendapati gadis itu sedang memainkan ponselnya sambil rebahan di atas tempat tidur. Nadia buru-buru menyimpan ponselnya melihat Bintang masuk ke kamarnya.


“Kau marah aku menemui Sarah?” tanya Bintang langsung.

__ADS_1


“Tidak, kenapa aku marah,” kata Nadia. Tapi raut wajahnya jelas-jelas mengatakan kalau dia marah.


“Ada yang harus aku bicarakan dengannya, makanya aku mengajakna bertemu.”


Nadia bangun, dia sekarang duduk bersilang sambil menatap Bintang dengan tatapan yang tidak biasa.


“Jadi Tuan Bintang yang mengajaknya bertemu, kenapa? Kangen?” Nadia tidak bisa lagi menutupi kekesalannya mengetahui bahwa Bintanglah yang mengajak sarah bertemu.


“Aku berjanji tidak akan lagi bertemu dengannya, urusan kami sudah selesai. Tidak ada lagi hal yang akan membuat aku bertemu dengannya,” janji Bintang.


Nadia sudah mulai tenang mendengar Bintang berjanji, dia sudah merubah raut wajahnya menjadi lebih ramah.


“Apa yang kau takutkan, hmmm? Kau takut aku dan sarah akan bersama lagi?” tanya Bintang. Nadia mengangguk pelan. Bintang tertawa melihat wajah Nadia.


“Itu tidak mungkin, Nadia. Aku dan Sarah sudah selesai, tidak ada apapun lagi yang tersisa di antara kami. Pertemuan ku dengannya kemarin adalah yang terakhir kali, aku tidak mungkin sengaja bertemu dengannya di lain waktu.” Kata Bintang menegaskan.


Dia tidak akan lagi membahas apapun tentang Sarah. Bintang sudah menutup semuanya dan membuang kuncinya di tempat yang tidak mungkin di temukan lagi. Tidak akan ada lagi cerita tentangnya dan sarah Diandra, benar-benar sudah selesai.


“Bagaimana kalau kita membahas tentang kita saja,” kata Bintang.


“Tentang kita?” tanya Nadia.


“Iya, tentang kita. Seperti kau mau kita malam pertama dimana? kau mau bulan madu ke mana? Kau ingin punya anak berapa?” wajah Nadia memerah. Dia memukul dada Bintang dengan lembut.


“Kenapa, kau malu? Atau kau mau malam pertama sekarang, aku tentu dengan senang hati akan melakukannya,” wajah merah Nadia semakin merah, Bintang merasa sangat puas melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2