
Aisyah dan Hidayat mengunjungi Bintang di akhir pekan tanpa memberi kabar terlebih dahulu, mereka berencana akan tinggal beberapa hari karena ada pesta yang akan mereka hadiri. Kedatangan orang tuanya yang tanpa pemberitahuan tentu membuat Bintang kalang kabut. Pasalnya, kamar Nadia berada tepat di samping kamar orang tuanya.
“Kenapa datang tidak memberitahu sebelumnya, Bintang bisa menjemut Mama dan Papa,” kata Bintang. Dia melihat ke atas berharap Nadia tidak keluar dari kamarnya saat orang tuanya naik ke atas.
“Tidak perlu repot, lagi pula Papa juga membawa sopir,” kata Hidayat. Bintang menarik koper orang tuanya dan membawanya ke lantai dua.
“Kami tidur di kamar tamu yang di bawah saja, Bintang. Mama capek naik turun tangga,” kata Aisyah yang membuat Bintang bernafas lega. Setidaknya dia bisa bicara dengan orang tuanya lebih dulu sebelum mereka melihat keanehan.
Tentu sebuah keanehan melihat seorang pembantu tidur di kamar tamu dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya.
“Kami mau istirahat dulu,” kata Aisyah lalu masuk ke kamar bersama suaminya. Melihat orang tuanya sudah berada di dalam kamar, Bintang segera memberitahukan kedatangan orang tuanya pada Nadia.
“Tuan sama Nyonya besar ada di bawah?” kata Nadia panik. Bintang mengangguk, Nadia bingung apa yang harus dia lakukan padahal setahunya, orang tua Bintang belum tahu tentang hubungan mereka.
“Tidak usah panik, aku akan bicara dengan mereka setelah makan malam. Kau tinggal saja di kamarmu,” kata Bintang.
“Tidak bisa dong, Tuan. Apa kata mereka kalau aku hanya tinggal di kamar saja. Nanti mereka pikir aku ini gadis yang malas,” kata Nadia. Dia akan tetap turun dan membantu di dapur walau sudah banyak orang di sana.
“Eh, tapi Tuan mau bicara apa sama Tuan dan Nyonya? Tentang hubungan kita? Jangan dulu Tuan, aku masih menikmati masa-masa yang indah bersama Tuan. Aku belum siap menerima penolakan mereka,” Nadia belum siap mendengar segala macam caci maki dan kata-kata hinaan jika orang tua Bintang tahu mereka menjalin hubungan. Apa lagi jika mereka tahu hubungan mereka di mulai sebelum Bintang dan sarah benar-benar berpisah.
Status sosial yang sangat berbeda di antara mereka yang membuat Nadia yakin bahwa hubungan mereka akan mendapat penolakan dari orang tua Bintang. Tapi tetap saja Nadia berani jatuh cinta pada Bintang meski dia menyadari mungkin mereka akan berpisah suatu hari nanti.
Setelah mandi, Nadia bergegas turun ke dapur dan membantu apa saja yang bisa dia bantu. Nadia melihat pembantu baru yang bernama Sita sedang menggoreng ayam, Nadia lalu meminta mengambil alih tugas Sita itu.
__ADS_1
“Mbak, ayamnya biar aku aja yang goreng,” kata Nadia dengan sopan.
“Nggak usah, Mbak. Nanti Tuan Bintang marah. Semua orang di rumah itu sudah di beri tahu bahwa Nadia adalah calon istri Bintang jadi pembantu baru segan dan sungkan padanya. Sita lalu mengalah dan mengerjakan yang lainnya.
Makan malam sedang di sajikan di atas meja, Aisyah dan suaminya keluar kamar dalam keadaan yang sudah segar. Rasa lelah mereka setelah perjalanan yang cukup jauh hilang sudah setelah istrahat beberapa jam.
“Selamat malam, Nyonya, Tuan” sapa Nadia saat melihat Aisyah dan Hidayat. Kedua orang itu membalas sapaan Nadia dengan tersenyum. Mereka memperhatikan Nadia dari kejauhan yang sedang menata makanan di atas meja. Gadis itu memang cantik, sopan dan sangat rajin. Mungkin itu yang sudah membuat Bintang jatuh hati padanya.
“Dia memang cantik yah, Pa. Pantas saja anakmu itu jatuh cinta,” kata Asiyah. Mereka masih terus memperhatikan Nadia dari kejauhan.
“Kalau dia tidak cantik, mana mungkin Bintang bisa jatuh cinta padanya,” kata Hidayat. Dia sudah mengalihkan pandangannya pada layar televisi di depannya.
“Mama sudah tidak sabar menikahkan mereka. Mama sudah kebelet punya cucu,” kata Aisyah lagi. Sebenarnya Aisyah bisa saja memiliki cucu sejak lama jika saja Sarah tidak egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri saja.
Bintang turun dan menemukan orang tuanya sedang berbincang di ruang keluarga. Dia lalu mengajak mereka untuk makan malam.
“Bi Mina mana? Kok nggak kelihatan? Apa masih sakit?” tanya Aisyah. Nadia langsung menunjukkan wajah sedihnya.
“Bi Mina sudah meninggal, Ma,” Aisyah menyimpan kembali sendok yang sudah di pegang dengan hati-hati. Dia dan Hidayat segera melihat Nadia yang menunduk.
“Aku tidak tahu,” katanya dengan wajah yang meneysal.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Aku sudah merelakan Nenek,” kata Nadia dengan senyum tulusnya.
__ADS_1
“Silahkan, Nyonya,” dia lalu melayani Asiyah dan semua orang yang ada di meja makan itu untuk mengusir rasa tidak nyaman yan tiba-tiba datang.
“Duduklah dan makan bersama kami,” Nadia bingung ketika Aiysah memintanya bergabung dan duduk bersama.
“Tapi Nyonya,” kata Nadia. Dia melihat Bintang yang juga terlihat bingung. Tapi Bintang mengangguk sehingga Nadia ikut duduk bersama mereka. Nadia menarik kursi di samping Aisyah tapi Asiyah menyuruhnya duduk di samping Bintang. Mereka lalu makan malam tanpa suara.
Setelah makan malam, Aisyah dan Hidayat memanggil Bintang duduk di ruang keluarga. Nadia yang melihat keluarga itu sedang berkumpul membuatkan mereka minuman dan cemilan lalu menyajikannya di meja. Saat Nadia akan pergi, Aisyah menahannya dan memintanya untuk ikut duduk bersama mereka.
Nadia dan Bintang benar-benar heran dengan sikap orang tuanya malam ini, tadi mereka meminta Nadia duduk bersama di meja makan dan sekarang malah meminta gadis itu untuk ikut duduk di ruang keluarga. Bintang jadi curiga bahwa orang tuanya sudah mengetahui sesuatu.
Bintang menatap Nadia, gadis itu terlihat salah tingkah duduk di sampingnya di hadapan orang tua Bintang. Nadia hanya terus menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya.
“Nenek mu sakit apa?” tanya Asiyah. Nadia lalu menceritakan dengan hati-hati dari awal sampai Nenek Mina meninggal.
“Jadi kalian pulang ke desa?” tanya Aisyah. Dia baru tahu kalau Nadia pergi ke desa dan meninggalkan rumah. Dia lalu ingat kalau Bintang pernah mengatakan kalau gadis yang dia sukai itu sudah meninggalkannya dan dia tidak tahu di mana gadis itu sekarang.
“Iya Nyonya, mungkin sebulan lebih kami di desa,” jawab Nadia.
“Berapa usiamu Nadia?” tanya Aisyah. Nadia mendongak, dia merasa sangat takut saat Aisyah menatapnya walaupun tatapan yang di beri Aisyah hanya tatapan biasa.
“Tahun ini saya akan berusia sembilan belas tahun, Nyonya,” jawabnya dengan suara yang sangat pelan.
“Kau cantik dan masih sangat muda, apa kau ada rencana menikah dalam waktu dekat?” Nadia mendongak dan menatap Aisyah dengan mata bulat sempurna tanpa ragu saat wanita itu menanyakan tentang pernikahan padanya.
__ADS_1