Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 41


__ADS_3

Saat jam kosong, seperti bisa Nadia dan teman-temannya menunggu di kantin sambil bercerita. Vanesa menceritakan tentang Alex yang kemungkinan tahu apa yang sudah terjadi pada mereka. Mereka juga sudah tidak pernah lagi melihat Arka dan Aaron berkeliaran di kampus. Kalaupun ada, kedua laki-laki itu tidak mendekati mereka lagi.


“Apa mungkin Om Alex datang waktu itu untuk memperingati mereka” tanya Nadia.


“Bisa jadi” jawab Angel sok tahu.


“Tapi dia tidak marah, malah memanjakan aku” kata Vanesa. Alex memang tidak marah sama sekali, dia hanya memperingatkan Vanesa dengan cara yang sangat lembut.


“Mungkin karena kamu tidak kenapa-kenapa jadi dia tidak marah” kata Nadia. Vanesa hanya mengendikkan bahunya, dia juga tidak perduli.


Saat sedang asyik makan sambil mengobrol, Angel mendapat telepon dari Ibunya dan memintanya untuk pulang. Wajah Angel yang tadinya ceria berubah masam saat mematikan sambungan telepon dengan orang tuanya.


“Kamu mau pulang?” tanya Vanesa dengan wajah sedihnya. Jika Angel pulang, berarti dia juga harus pulang karena dia tidka mau tinggal sendirian di apartemen.


Angel mengangguk yang membuat Vanesa mendesah.


“Kapan?” tanyanya.


“Habis pulang kuliah, Mama bilang pulang kuliah aku langsung di suruh ke rumah” jawab Angel.


“Jadi kamu nggak kerja?” Nadia yang bertanya.


“Kerja, mata kuliah kita kan tinggal satu. Aku pulang dulu, nanti habis dari rumah aku langsung ke restoran” kata Angel yang membuat Andia bernafas lega.


“Aku pulang kemana dong?” tanya Vanesa. Dia sungguh malas untuk pulang ke rumahnya. Walalupun dia di perlakukan seperti putri raja oleh semua pelayan di rumahnya, tetap saja Vaensa lebih suka tinggal bersama Angel di apartemen.

__ADS_1


“Ke rumah aja, sekalian temani Nenek” kata Nadia menawarkan pada Vanesa untuk tinggal di rumahnya.


”Nggak, ah” tolaknya.


“Kenapa” tanya Nadia dengan mengkerutkan keningnya.


“Nanti kalau Tuan Bintang datang gimana, aku nggak mau ah” alasan Vanesa.


Mau tidak mau, Vanesa harus kembali ke istananya.


Sepulang kuliah, Vanesa masih mengantar semua temannya ke rumahnya masing-masing sebelum dia kembali ke rumahnya. Lama Vanesa berdiri di depan pintu rumahnya yang sudah terbuka lebar, dua pelayan sudah mennunggunya di depan pintu tapi dia masih juga ennagn melangkah. Setelah menarik nafas berulang kali, barulah Vaensa masuk ke dalam rumahnya.


Sementara Angel sedang duduk makan siang bersama Mamanya. Papanya sedang bekerja dan kakaknya ada di luar negeri menjadi utusan untuk mewakili kampusnya dalam sebuah ajang internasional.


“Tumben, biasanya juga Mama nggak perduli” kata Angel dengan penasaran. Apakah orang tuanya sudah menyadari kehadirannya dan sudah mau berlaku adil antara dia dan kakaknya.


“Kamu pikir selama ini Mama sama Papa nggak khawatir kamu di luar sendirian. Walau bagaimanapun kamu itu kan anak gadis kami, tentu saja kami selalu perduli” kata Mamanya. Tapi angel tentu tidak akan mudah percaya, mungkin ada sesuatu yang di inginkan orangtuanya darinya.


“Tapi kenapa selama ini Mama sama Papa tidak melarang Angel tinggal di luar, Mama bahkan jarang banget telepon Ange” kata Angel mengungkapkan fakta.


“Mama sama Papa tidak mau mengekang kamu, kami memberi kebebasan sama kamu. Tapi kejahatan makin banyak di luar sana, jadi Mama pikir sudah waktunya kamu tinggal di rumah lagi. Sekalian bantu-bantu Mama” Angel tersenyum. Jadi itu alasan dirinya di panggil untuk tinggal bersama.


“Angel nggak bisa, Ma. Sepulang kuliah biasanya Angel langsung kerja” Mama terkejut mendengar Angel bekerja.


“Kerja? Kamu kerja di mana, kerja apa kamu smabil kuliah?”

__ADS_1


“Angel kerja di restoran siap saji, Ma.jadi pelayan” jawab Angel.


“Buat apa, kalau kamu butuh uang kamu kan bisa tinggal minta sama Papa kamu. Mama nggak pernahkan nggak kasih kamu uang kalau kamu butuh, kenapa kamu kerja nggak bilang dulu sih sama orang tua kamu” omel mamanya yang juga baru tahu kalau Angel kerja sepulang kuliah. Angel hanya memutar bola matanya, ingin mendebat Mamanya tapi dia harus buru-buru karena harus kerja.


Angel memang selalu di beri uang jajan oleh orang tuanya, tapi tentu tidak akan cukup karena dia juga butuh untuk biaya perawatan dirinya yang lumayan menguras uang jajan. Belum lagi kebutuhan pakaian dan lain-lain, mana mau orang tuanya memberikan jika dia minta untuk keperluan selain di luar biaya sekolah.


“Kamu mau kemana?” tanya Mamanya melihat Angel sudah membereskan bekas makannya.


“Mau kerja, Ma. Angelkan sudah bilang tadi” kata Angel.


“Tapi kan Mama bilang kamu nggak usah kerja, kalau butuh uang tinggal minta sama Papa kamu. Kamu kayak sudah nggak punya orang tua aja” Mamanya tetap tidak mengijinkan Angel untuk bekerja. Dia ingin sepulang kuliah, Angel langsung pulang ke rumah saja.


“Memangnya Papa sama Mama mau kasih, Angel mau beli skincare, beli baju, tas sama sepatu buat kuliah. Buat jajan kalau lagi nongkrong sama tema-teman. Memangnya kalau Angel minta tigakali lipat dari yang biasa Mama kasih, bakalan di kasih sama Mama” Angel akhirnya menguraikan keperluannya yang seolah tidak penting di mata orang tuanya.


Dia seorang gadis remaja yang beranjak dewasa, menjaga penampilannya tentu sangat penting untuk menunjang masa depannya. Bukan hanya pelajaran yang membutuhkan biaya, penampilan juga membutuhkan biaya yang banyak.


Mamanya terdiam, dalam hatinya menghitung-hitung berapa nominal semua itu. dengan gaji suaminya yang sekarang sudah nanik jabatan, mungkin bisa menutupi kebutuhan yang Angel dan Marisa, namun sayangnya mereka punya cicilan mobil dan juga biaya Marisa yang cukup mahal saat berada di luar negeri.


Angel tersenyum miris melihat reaksi Mamanya yang tidak bisa mengatakan apapun. Lalu dia meneruskan langkahnya ke dapur dan mencuci piring kotornya. Setelahnya Angel lalu pamit untuk kerja.


“Angel nggak bisa tinggal di sini, Ma. Jarak kampus dengan tempat kerja dan apartemen Vanesa itu tidak terlalu jauh jadi Angel bisa lebih menghemat waktu. Angel sayang sama Mama dan Papa, Angel harap suatu hari nanti Angel akan benar-benar di anggap anak di rumah ini. mama nggak lupa kan kalau Angel anak Mama juga” Angel memberi senyuman penuh makna pada Mamanya sebelum meninggalkan wanita paruh baya itu.


Sementara Mamanya masih diam mematung di tempatnya merenungi pembicaraannya dengan Angel hari ini.


“Apa selama ini aku terlalu mengutamakan kepentingan Marisa sampai lupa kalau aku masih punya satu anak gadis lagi” wanita paruh baya itu menghela nafasnya merenungi semua yang sudah dia berikan pada Marisa lalu membandingkannya dengan Angel.

__ADS_1


__ADS_2