Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 89


__ADS_3

Bintang dan Nadia kembali ke rumah setelah selesai makan malam romantis berdua, Nadia sudah memberitahu Tuti sebelumnya kalau dia dan Bintang akan makan malam di luar jadi Tuti tidak perlu menyiapkan makan malam.


Suami istri itu langsung masuk kamar saat sampai di rumah, Nadia masuk ke kamar mandi terlebih dahulu lalu kemudian Bintang menyusulnya membuat Nadia terlonjak kaget karena sekarang dia sudah polos tanpa busana dan bersiap mengguyur tubuhnya dengan iar hangat.


“Tuan Bintang” seru Nadia dengan kesal. Bintang mengeryitkan dahinya, dia heran kenapa Nadia kesal padahal dia sudah sering melihat istrinya itu tanpa busana diatas tempat tidur.


“Kau kenapa?” tanya Bintang. Laki-laki itu mulai melepaskan pakaiannya satu per satu. Dia lalu mengambil busa yang dan menggosok tubuh Nadia dengan lembut.


“Sayang...” suara Nadia sudah sangat menggoda Bintang. Bagaimana tidak, Bintang sengaja mengusap bagian-bagian sensitife Nadia.


Leguhan dan ******* tak terelakkan lagi, lolos keuar dari bibir Nadia saat Bintang mulai memainkan bagian sensitifenya.


“Kita tidak pernah melakukannya di kamar mandi kan?” kata Bintang sambil terus melanjutkan aksinya.


Dan suara ******* pun terdengar bersamaan dengan suara air yang berjatuhan membasahi lantai kamar mandi.


Bintang memakaikan jubah mandi pada istrinya setelah mereka selesai mandi bersama, dia menagmbil handuk kecil lalu mengeringkan rambut Nadia dengan hati-hati. Setelahnya, Bintang mengambil pakaian Nadia dan memakaikan nya seperti anak kecil. Setelah Nadia selesai, Bintang memakai baju sendiri lalu naik ke tempat tidur.


“Kau lelah?” tanya Bintang melihat Nadia yang sudah tidak berdaya di atas tempat tidur. Nadia mengangguk lemah, dia memang merasa sangat lelah.


Bintang mengecup keninganya lalu memeluknya, tidak lama kemudian Nadia pun tertidur dengan damainya.


Vanesa sudah mulai mengurus segala sesuatu untuk kepindahannya, dia juga sudah tidak lagi masuk kuliah dan sudah mengundurkan diri dari kampus itu. Sedangkan Nadia dan Angel tetap melanjutkan kehidupannya seperti biasa.


Hari ini adalah hari terkahir Vanesa bisa berkumpul bersama teman-temannya karena besok dia sudah akan meninggalkan negeri ini. Ketiga gadis itu menghabiskan waktu seharian bersama-sama, membuat kenangan sebanyak mungkin dan menyimpannya dengan baik di ingatan mereka.


“Kalau aku libur semester aku pasti akan datang ke sini mengunjungi kalian,” kata Vanesa berjanji pada kedua temannya. Mereka sudah tidak lagi sedih, hari ini mereka hanya kan bersenang-senang.

__ADS_1


“Harus, dong. Walalupun kamu mungkin punya teman baru di sana, kamu jangan sampai lupa sama kita,” kata Angel.


“Pasti...” mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya, mengambil gambar dan mengabadikannya di sosial media mereka masing-masing.


“Aku nggak bisa ke bandara buat antar kamu, aku takut jadi sedih dan nangis lagi,” kata Nadia saat Vanesa mengantarnya pulang.


“Iya, nggak apa-apa. Hari ini aja aku sudah senang banget kalian mau menemaniku seharian,” Vanesa memeluk Nadia.lama mereka berpelukan meluapkan emosi masing-masinfg karena itu adalah pelukan mereka yang terakhhir sebelum Vanesa pergi.


Mereka mengurai pelukannya lalu berpelukan sekali lagi saat Nadia akan keluar dari mobil Vanesa. Nadia malah memberi kecupan di pipi kira dan kana  Vanesa. Vanesa tertawa geli lalu Nadia keluar dari mobil sambil terus melambaikan tangan pada mobil yang semakin menjauh.


Tinggalah Vanesa dan Angel di dalam mobil. Mereka berdua hanya nampak diam saja selama perjalanan. Hingga saat sampai di depan rumahnya, Angel tidak bisa menahan tangisnya saat memeluk Vanesa.


“Aku berhutang banyak banget sama kamu, kamu adalah orang paling baik yag pernah aku kenal,” kata Angel memeluk Vanesa. Diantara ketiganya, Vanesa dan Angel memang sangat dekat karena mereka pernah tingga di satu aparetemen selama hampir dua tahun.


“Aku sedih banget harus ninggalin kamu,” kata Vanesa yang juga tidak kuasa menahan air matanya. Tapi gadis itu merasa sedikit lega karena Angel sudah kembali tinggal bersamma orang tuanya dan sudah mendapatkan keadilan di rumahnya.


Angel keluar dari mobil Vanesa, perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang, dia juga tidak akan mengantar Vanesa ke bandara karena tidak mau kembali menangis melihat sahabatnya meninggalkannya.


Sepeninggal Vanesa, Nadia dan Angel pun kembali melanjutkan keidupan mereka seperti biasa walau setiap hari mereka selalu merasa kehilangan salah satu dari mereka.


Hari ini Nadia pulang lebih cepat dari biasanya, Angel mengantarnya pulang menggunakan taksi online karena Nadia merasa tidak enak badan. Wajahnya pucat dan kepalanya pusing. Saat sampai di rumah, Tuti segera membantu Angel memapah Nadia nanik ke kamarnya.


“Kamu kenapa, Nad. Nadia kenapa?” tanya Tuti bergantian pada Nadia dan Angel.


“Nggak tahu mbak, tiba-tba pusing. Jadi aku anatar pulang,” jawab Angel. Tuti lalu mengambilkan air hangat dan membawakannya untuk Nadia.


“Kamu sudah bilang Tuan?” tanya Tuti lagi, Nadia yang sudah sangat lemah hanya bisa mengeleng.

__ADS_1


“Jangan-jangan Nadia hamil,” kata Angel membuat Tuti dan Nadia terdiam dan saling pandang.


“Iya, ya. Jangan-jangan kamu hamil, Nad. Wah, Tuan Bintang pasti senang banget kalau kamu memang hamil.”


Tidak lama Bintang datang setelah Tuti mengabarinya bahwa Nadia sedang sakit. Saat Bintang datang, Angel pun pamit pulang pada Nadia.


“Kamu kenapa?” tanya Bintang. Dia memegang kening Nadia dan melihat wajah pucatnya. Bintang lalu menelfon dokter Vino untuk datang memeriksa istrinya.


“Mana yang sakit?” tanya Bintang. Dia menyuapi Nadia bubur sambil menunggu kedatangan Dokter.


“kepalaku pusing, badanku juga lemas,” jawab Nadia.


Tidak lama dokter datang, Bintang lalu mempersilahkannya untuk memeriksa keadaan istrinya.


“Bagaimana?” tanya Bintang tidak sabaran setelah dokter selesai memeriksa.


“Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya dokter itu pada Nadia.


“Kepalaku pusing dan aku seperti tidak punya tenaga,” jawab Nadia dengan suara lemahnya.


“Ada apa? Apa yang salah dengannya?” tanya Bintang berharap mendengar kabar baik dari dokter.


Dokter melihat ada sesuatu yang aneh pada Nadia, tapi dia tidak berani memastikannya sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


“Aku sarankan kau bawa dia periksa darah ke rumah sakit, aku tidak mau mendiagnosa tanpa ada hasil kesehatan resmi yang keluar?” kata dokter. Dia melanjutkan pemeriksaanya dengan lebih teliti.


Wajah Bintang yang tadinya sudah mengharapkan mendengar kabar baik  tiba-tiba saja berubah, dia menjadi khawatir lebih dari sebelumnya.

__ADS_1


“Aku sakit apa?” tanya Nadia. Dia juga kecewa bukan kabar baik yang dia dengar.


__ADS_2