Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 83


__ADS_3

Beberapa hari lagi pesta pernikahan yang sudah di nanti-nantikan akan di gelar, semua sudah di siapkan dengan sempurna oleh panitia yang di bentuk khusus oleh Asiyah. Dia tidak mau ada kesalahan sedikitpun yang terjadi saat acara berlangsung.


Nadia dan teman-temannya sudah lebih dulu menginap di hotel, tidak ketinggalan juga Tuti tentunya. Nadia membujuk Tuti agar dia juga mau ikut acara bridal shower yang di buat Vanesa dan Angel. Kedua teman Nadia sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Tuti, mereka malah akrab dalam sekejap.


“Jangan lupa cerita sama kami gimana malam pertama kamu,” kata Vanesa. Nadia masih belum bisa mengendalikan wajahnya setiap kali dia mendengar kata malam pertama. Wajahnya selalu merah merona karena malu.


“Nanti kalau kalian juga kebelet mau, gimana? Tuti bertanya sambil bercanda.


“Tinggal cari calonnya aja terus nikah deh, gampang Mbak,” kata Vanesa dengan enteng.


“Memang gampang cari calonnya, sampai sekarang aja kamu nggak dapat-dapat,”Angel dan Nadia tertawa, mereka mengejek Vanesa yang sampai sekarang masih juga belum menemukan orang yang benar-benar tulus padanya.


“Biarin aja, dari pada punya pacar tapi malah selingkuh,” Vanesa balik mengejek Angel.


“Ya sudah, mending dengar  Nadia cerita yang lain saja,” Tuti menengahi Vanesa dan Angel karena Nadia hanya tertawa mendengarnya. Tuti takut mereka akan terus saling mengejek dan akhirnya marahan. Padahal jelas-jelass mereka hanya sedang bercanda saja.


“Cerita apa Mbak?” tanya Vanesa. Tuti melihat mereka semua yang menunggu jawabannya.


“Waktu pertama sakit apa nggak...”  Tuti mendapat sorakan dari ketiga gadis itu.


“Itu sama aja, Mbak,” kata Angel dengan kesal. Tuti hanya tertawa melihat reaksi ketiga gadis itu.


“Mbak pasti penasaran juga kan bagaimana malam pertamanya?” tanya Angel.


“Penasaran banget, sekalian buat pegetahuan juga,” sekali lagi Tuti mendapat sorakan dari ketiga gadis itu. 


Setelah capek mengejek dan membuat Nadia malu, ke empat gadis itu lalu tertidur dengan damainya. Tidak pandang bahwa Vanesa adalah putri tunggal dari kerajaan bisnis yang sangat besar, atau Nadia yang juga sebentar lagi akan menjadi seorang Nyonya Aditama yang tidak bisa di remehkan, keempat gadis itu tidur seranjang tanpa memperdulikan status sosial.

__ADS_1


Salah satu dari mereka terjaga dan membangunkan yang lainnya saat matahari sudah bersinar terang di luar sana.


“Aduh, aku pasti kena omel Nyonya,” kata Tuti yang buru-buru mandi. Dia lupa kalau dia sedang tidak berada di rumah, setelah keluar dari kamat mandi dia malu sendiri melihat dia di tertawakan Nadia dan teman-temannya.


Mereka turun untuk sarapan bersama setelah mandi dan berdandan yang cantik, Nadia merangkul lengan Tuti sementara Vanesa dan Angel jalan bersama.


‘Nadia beruntung banget punya teman-teman seperti mereka’ bisik Tuti yang baru kali ini melihat langsung kekompakan ketiga gadis itu.


Setelah makan, mereka kembali ke kamar dan malas-malasan. Seharian ini mereka hanya berada di dalam kamar, berfoto, menonton dan bercerita. Hanya itu yang mereka lakukan hingga malam menjelang. Nadia tidak bisa tidur, dia gelisah menanti pagi di mana besok adalah hari yang paling dia nantikan.


Nadia duduk termenung sendiri di balkon kamar hotel, melihat ke atas langit yang di penuhi bintang-bintang.


“Kenapa nggak tidur, Nad?” Tuti yang terbangun dan melihat Nadia tidak ada lalu bergegas mencari di mana gadis itu. Dan dia lega ketika melihat Nadia ada di balkon.


“Aku kangen sama Nenek, Mbak. Kira-kira Nenek bahagia nggak ya melihataku menikah dengan Tuan Bintang,” Nadia ingat kalau Neneknya tidak merestui hubungan mereka. Tapi itu dulu saat Bintang masih memiliki istri.


“Benar, Mbak?” Tuti mengangguk sambil mengusap rambut Nadia.


“Bi Mina pasti memeberi restu dari atas sana,” kata Tuti lagi. Nadia merasa lebih baik setelah mendengar apa yang Tuti katakan. Ya, dia sangat butuh seseorang yang memberinya kata-kata baik untuk menenangkan hatinya.


“Tidur, yuk. Besok kan kamu harus bangun pagi untuk di make up,” kata Tuti lagi.


“Aku nggak bisa tidur, Mbak. Mbak tidur aja, aku nggak apa-apa kok. Nanti kalau ngantuk juga aku tidur.”


Sepertinya Tuti tidak berhasil membujuk Nadia untuk tidur, Tuti ingin menemani Nadia tapi rasa kantuknya sudah tidak bisa lagi dia lawan sehingga dia pun meninggalkan Nadia sendiri di balkon.


“Bangun, Nad” Tuti membangunkan Nadia yang masih tertidur. Entah jam berapa gadis itu bisa memejamkan matanya semalam.

__ADS_1


“Jam berapa, Mbak? Tanya Nadia masih setengah sadar.


“Jam setengah enam, sudah ada orang-orang dari salon yang mau memandikan kamu,” Nadia segera bangun dan mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan.


“Kenapa aku harus di mandikan, aku kan bisa mandi sendiri,” kata Nadia memeluk dirinya karena meresa risi jika harus di mandikan orang lain.


“Begitu perintah dari Nyonya, kamu harus mandi susu katanya” Nadia dengan terpaksa mengikutinya jika itu adalah perintah Asiyah.


Nadia lalu membangunkan kedua temannya dan menyuruh mereka bersih-bersih lebih dulu sebelum Nadia masuk ke kamar mandi.


Setelah Vanesa dan Angel selesai, Tuti mempersilahkan orang-orang dari salon untuk masuk. Dua orang di antara mereka masuk ke kamar mandi bersama Nadia dengan membawa banyak peralatan yang akan mereka pakai untuk di campur dengan air mandi Nadia.


Di dalam kamar mandi, Nadia meresa sangat malu hingga dia terus meutupi dadanya, saat ini dia hanya mengenakan handuk sebatas paha meskipun kedua orang itu memintanya melepas semuanya. Kedua orang itu lalu melakukan tugas mereka dengan Nadia yang masih tetap memegan handuknya dengan kuat.


Nadia tertidurdi bathroom saat kedua orang itu mulai memijatnya dengan lembut menggunakan wewangian yang sangat menenangkan pikiran. Nadia menjadi rileks dan tidak kaku lagi.


Kedua orang itu membangunkan Nadia saat mereka selesai melakukan tugasnya. Nadia merasa sangat segar dan tubuhnya juga wangi. Setelah mandi, mereka memijat Nadia di tempat tidur dengan menggunakan lotion yang juga sangat wangi.


Sampai saat bagian merias, Nadia duduk manis di depan cermin saat wajahnya di make up. Satu jam lebih wajah Nadia di beri berbagai macam make up hingga mengubahnya menjadi wanita yang sangat cantik. Nadia bahkan hampir menangis melihat dirinya yan sangat cantik.


Sementara itu ketiga gadis yang lain juga sudah selesai di make up oleh asisten sang perias utama, hasilnya tentu juga sanat memuaskan.


Nadia memakai gaun pengantinnya, membuatnya menjadi seperti putri dari kerajaan negeri dongeng. Vanesa , Angel dan Tuti sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat Nadia dengan balutan gaun pengantinya.


“Tuan Bintang pasti tambah jatuh cinta melihat kamu, Nad. Kamu cantik banget,” puji Angel.


“Iya, kayak putri di dongeng. Cantik banget,” puji Vanesa.

__ADS_1


__ADS_2