
Angel dan Bryan sedang makan malam di luar berdua, Angel belum menjawab permintaan Bryan untuk menjadi istrinya. Dia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa Bryan dan istrinya sudah benar-benar berpisah secara resmi.
“Benar bukan karena aku Om menceraikan istri Om?” sekali lagi Angel ingin memastikan bahwa dia bukan penyebab retaknya rumah tangga Bryan dan istrinya.
“Bukan sayang, meskipun aku memang sangat merindukanmu tapi aku lebih memilih rumah tanggaku saat itu. Tapi dia yang ingin pergi, dan aku tidak mau lagi menahannya. Kami berpisah atas keinginan kami bersama. Sama sekali bukan karena kamu,” Bryan pun sekali lagi menyakinkan Angel bahwa dia bukan orang ketiga yang membuat Bryan dan istrinya berpisah.
“Kau mau kan menikah dengan ku?” tanya Bryan sekali lagi. Angel masih terlihat berfikir. Jika di tanya bagaimana perasaannya pada Bryan, dia bisa memastikan kalau di dalam hatinya memang ada tempat yang spesial untuk laki-laki itu. Tapi Angel takut untuk melangkah lebih jauh dengannya meskipun dia tidak pungkiri kalau Bryan sangat baik dan sayang padanya.
“Aku perlu waktu,” Bryan mengangguk.
“Ambil waktu sebanyak yang kamu mau, tapi jangan terlalu lama karena aku harus kembali ke Kanada secepatnya,” Angel menautkan kedua alisnya.
“Kemabli ke Kanada? Jadi Om di sini hanya sementara?”
“Iya, Om datang ke sini hanya untuk menjemput kamu.”
“Berarti kalau aku menikah dengan Om aku juga harus ikut ke Kanada?” Bryan mengangguk.
“Tentu saja, tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini?”
Angel terus berpikir sepanjang jalan, jika dia ikut Bryan ke Kanada berarti dia harus meninggalkan orang tuanya, kuliahnya dan juga sahabatnya.
“Ikuti pilihan hati kamu, sayang. Mama lihat Tuan Bryan orang yang baik dan dia sepertinya snagat menyayangi kamu. Dia sampai datang jauh ke sini hanya untuk menjemput kamu. Padahal dengan wajah dan uangnya dia mungkin bisa mendapatkan wanita mana saja yang dia mau. Tapi dia memilih kamu,” Sinta berusaha membuka pikiran Angel.
Sinta dan Aris sudah setuju jika Bryan menikahi anak gadis mereka. Bryan pasti bisa menjamin kebahagian Angel.dia akan mendapatkan semua hal yang tidak bisa mereka berikan pada anaknya itu. Kehidupannya akan terjamin bahkan jika dia hanya tinggal di rumah menunggu suaminya pulang kerja. Seperti Nadia yang sekarang hidup sangat nyaman dan bahagia karena memliki suami yang kaya dan juga menyayanginya.
__ADS_1
“Tapi kita akan pisah, kita akan jarang ketemu,” Angel memeluk Sinta. “Aku masih mau di peluk Mama,”
“Kamu kan bisa minta Tuan Bryan untuk membelikan Mama dan Papa tiket biar kita bisa mengunjungi kamu,” Angel menghela nafasnya. Sangat sulit rasanya untuk menetukan pilihannya.
Besoknya Angel mengunjungi Nadia. Perut gadis itu sudah terlihat besar padahal usia kandungannya baru memasuki bulan ke tujuh. Angel menceritakan pada Nadia tentan Bryan yang memintanya untuk menikah.
“Jadi kamu juga akan ninggalin aku?” Nadia jelas akan merasa sangat kehilangan jika Angel juga pergi meninggalkannya. Pada siapa lagi Nadia akan membagi semua keluh kesanya. Siapa lagi yang akan mendengar ceritanya jika saja Angel juga pergi.
Tapi Nadia tentu tidak akan menjadi orang yang egois yang akan menahan Angel hanya untuk kepentingannya sendiri, sahabatnya itu juga berhak mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang dia rasakan.
“Pakai hati kamu, kearah mana hati kamu lebih besar bergerak. Jika hatimu memilih Om Bryan, maka terima saja. Menikah itu enak tahu, apalagi kalau suami kamu kaya. Kamu akan jadi Nyonya,” Nadia tersenyum. Dia membagikan pengalamannya pada sahabatnya tentang bagaimana rasanya menjadi seorang istri orang kaya.
“Aku nanti jadi Nyonya juga dong,” mereka berdua tertawa bersama. Lalu setelah tertawa, Angel memeluk Nadia.
Setelah berbicara dengan Nadia, Angel sudah mendapatkan jawabannya. Hatinya lebih banyak berpihak pada Bryan. Walau tidak ada sama sekali keinginannya untuk menikah muda, tapi dia ingin merasakan menjadi seorang istri yang di sayangi suaminya seperti Nadia.
Seminggu sejak Angel mengatakan pada Bryan bahwa dia setuju untuk menikah, pesta pernikahan pun di gelar dengan sangat sederhana. Acara yang hanya di hadiri oleh keluarga Angel dan Bryan juga para kerabat dekat mereka.
Nadia datang bersama suaminya. Bintang setia berada di sampingnya dan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari istrinya. Dia juga selalu memperhatukan langkah Nadia dan menuntunnya untuk berjalan lebih hati-hati.
Nadia memeluk Angel dengan panih rasa haru, mereka berdua meneteskan air mata karena bahagia yang juga bercampur rasa sedih.
“Selamat yah,” kata Nadia. Matanya terlihat basah, Angel mengusap air matanya lalu mereka kembali berpelukan.
Sayangnya Vanesa tidak bisa datang karena sedang ujian di kampusnya, dia juga menangis saat melakukan video call dengan Angel. Gadis itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya setelah banyak kesedihan dalam hidup yang sudah dia lalui.
__ADS_1
“Om Bryan orang baik, dia pasti akan buat kamu bahagia,” kata Vanesa. Dia berjanji akan datang mengunjungi Angel di Kanada secepatnya.
Dua hari setelah pernikahannya, Angel pun langusng terbang bersama suaminya. Meninggalkan banyak kenangan di negeri ini bersama teman-temannya. Angel pun akhirnya menemukan kebahagiannya. Kebahagiaan yang layak dia dapatkan.
Tidak terasa waktu terus berlalu, sebentar lagi Nadia akan melahirkan anak kembarnya. Dia mati-matian ingin melahirkan anaknya dnegan norma meski suaminya sudah menyarankannya untuk operasi agar dia tidak terlalu merasakan sakitnya.
“Aku mau melahirkan normal, aku ingin menjadi wanita yang sempurna yang juga merasakan sakitnya melahirkan.” Nadia sudah mantap. Semua ketakutannya dulu juga sudah mulai lenyap.
Sejak usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh, Nadia dan bintang sudah pindah ke kamar di lantai bawah. Bintang taku melihta Nadia dengan perut besarnya naik turun tangga.
Hari persalinan Nadia semakin dekat. Dia sudah sering jalan mondar mandir agar nanti anaknya tidak terlalu susah untuk keluar.
“Pelan-pelan, Nad” tegur Asiyah yang melihat Nadia sudah kesulitan mengatur nafas.
Tiba-tiba perut Nadia terasa sangat sakit dan mulas.
“Ma, perut Nadia” Nadia merintih sambil memegangi perutnya.
“Kenapa sayang, apa yang kamu rasa?” tanya Aisyah. Dia berteriak memanggil suaminya untuk segera membawa menantu mereka ke rumah sakit.
Nadia merintih kesakitan sepanjang perjalan menuju rumah sakit, Asiyah juga sudah mengabari Bintang dan saat ini laki-laki itu juga sedang menuju rumah sakit.
Bintang sampai lebih dulu karena memang jarak rumah sakit denan kantornya terbilang cukup dekat. Bintang sudah siap dengan beberapa perawat yang juga sudah siap dengan brankarnya.
Mobil Hidayat berhenti di depan rumah sakit. Bintang segera menghampiri dan memapah istrinya keluar di bantu oleh Aisyah. Perawat rumah sakit dengan sigap membantu mengankat Nadia dan membaringkannya di brankar dan secepatnya di bawa ke ruang persalinan untuk di periksa lebih lanjut.
__ADS_1