
Setelah berkali-kali mendapatkan panggilang dari dokter Vino, Bintang akhirnya mendatangi rumah sakit tempat temannya itu bekerja. Hasil pemeriksaannya sudah kelaur beberapa hari yang lalu tapi Bintang masih sangat sibuk mencari Nadia sehingga dia mengabaikan panggilan dari dokter Vino yang tidak kalah penting itu.
“Ada apa, apa hasilnya sama?” kata Bintang dengan pasrah. Dia berharap hasilnya sama agar rasa kecewanya pada Sarah tidak semakin dalam.
“Baca saja” Vino menyerahkan kertas-kertas yang sama sekali tidak Bintang mengerti maksudnya.
“Jelaskan saja, aku tidak mengerti ini” kata Bintang memberikan kembali kertas itu pada Vino dengan kesal. Vino tertawa, dia melihat Bintang cukup lama sebelum mengatakan apa isi dari kertas itu.
“Kau baik-baik saja bodoh, tidak ada yang salah denganmu. Kau bisa punya anak kapan saja dengan istrimu. Tapi mungkintidak sekarang karena istrimu masih mengkomsusi pil penunda kehamilan. Kau sangat sehat, aku bilang kan, kau tidak punya riwayat penyakit apapun,” penjelasan Vino serasa belati yang kembali menyayat hati Bintang yang masih berdarah-darah.
Bintang bersandar di sandaran kursi dengan wajah yang sangat menyedihkan. Dia di bohongi habis-habisan oleh wanita ang sangat dai cintai. Dia rela membohongi Ibunya demi menjaga Sarah agar Ibunya tidak menyalahkan sarah karena anak, dan wanita itu malah memanfaatkan kebaikan dan ketulusan yang Bintang berikan padanya.
“Bicarakan baik-baik dengan istrimu, dia pasti punya alasan melakukannya.”
“Apa aku bisa menuntut dokter yang memeriksaku waktu itu,” tanya Bintang. Dia masih menyimpa hasil pemeriksaannya yang ada nama rumah sakit tempat dia memeriksa.
“Tentu saja, dia bisa kena pasal dan ijin prakteknya bisa di cabut. Dia juga bisa di penjara karena melakukan penipuna terhadap pasien” jelas Vino.
“Aku bawa ini,” Bintang lalu pergi dengan membawa hasil pemerikasaan yang benar dari Vino tentang pemeriksaannya.
Bintang kembali ke kantornya dan menunggu pengacara keluarganya di ruangannya. Bintang menyerahkan semua bukti kepada pengacara tentang dokter yang sudah memberi informasi palsu tentang kesehatannya.
“Kalau benar ini sepengetahuan istri anda, kemungkinan Nyonya juga akan ikut bertanggung jawab,” kata pengacaranya.
“Tentu, dia juga harus bertanggung jawa” kata Bintang dengan tegas. Habis sudah kesabarannya pada Sarah. Sudah cukup wanita itu mempermainkan dirinya selama ini.
“Apa saya harus menyembubyikan dari Tuan dan Nyonya besar,” kata pengacara.
“Tentu, mereka harus tahu langsung dariku. Sebelum itu jangan mengatakan apapun pada orang tuaku,” kata Bintang. “Dan juga...” Bintang terlihat menatap tajam pada pengacara itu.
“Urus perceraianku dengan Sarah, aku mau secepatnya wanita itu keluar dari rumahku,” pengacara itu terkejut. Selama ini dia tahu rumah tangga Bintang sangat harmonis, Bintang sangat menyayangi istrinya. Lalu kenapa tiba-tiba dia ingin bercerai.
Bintang membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah amplop coklat dan memberikannya pada pengacara itu.
__ADS_1
“Aku harap ini tidak akan bocor kemanapun, pastikan tidak ada yang tahu tentang hal ini,” perintah Bintang.
Pengacara membuka amplop itu dan terkejut melihat isi di dalamnya. Banyak foto Sarah yang sedang jalan berdua bersama dengan laki-laki lain. Juga ada foto mereka saat masuk ke dalam unit aaprtemen.
“Apa bukti itu sudah cukup membuatku menceraikannya,” tanay Bintang. Dia berharap Bukti itu sudah cukup untuknya menceraikan Sarah.
“Iya, Tuan. Saya akan segera mengurus semuanya”
“Berapa lama?” tanya Bintang dengan tidak sabaran.
“Seminggu,” jawab pengacara yang membuat Bintang mendesah. Seminggu terlalu lama menurutnya.
“Baiklah, ingat rahasiakan ini dari siapapun. Aku tidak mau malu jika orang lain tahu aku di selingkuhi” kata Bintang.
Pengacara pun meninggalkan Bintang dengan membawa semua bukti perselingkuhan istrinya, sementara Bintang harus menyiapkan hati dan fisiknya saat memberitahukan tentang perceriannya pada orang tuanya.
Dia yakin akan mendapatkan omelan dari Aisyah sepanjang waktu jika saja dia mengatakan kebenaran tentang Sarah yang menemui laki-laki lain di belakangnya. Dia pasti akan di anggap tidak becus sebagai laki-laki sehingga istrinya sampai berani menemui laki-laki.
Saat pulang kantor, Bintang langsung menuju rumah orang tuanya. Perjalanan yang cukup panjang yang memakan waktu lebih dari dua jam.
“Sayang...” Aisyah menghampiri Bintang. Laki-laki itu mencium kedua pipi Mamanya.
“Kau datang sendirian, dimana istrimu?” Aisyah menengok keluar mencari Sarah karena biasanya laki-laki itu selalu datang bersama istrinya saat mengunjungi orang tuanya.
“Bintang datang sendiri, Ma” Aisyah nampak kecewa. Dia berharap Sarah juga ikut menjenguknya untuk menyampaikan kabar baik padanya.
“Kau sudah makan?” Bintang menggeleng, Aisyah lalu meminta pelayan untuk menyiapkan makam malam untu Bintang. Bintang makan seadanya saja, dia tidak lapar sama sekali.
Setelah makan, Bintang menemui orang tuanya yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Bintang menarik nafas sebelum menampakkan dirinya di depan orang tuanya.
“Pa...” sapa Bintang pada Hidayat, Papanya.
“Kau tampak seperti orang frustasi, ada apa? Apa ada masalah dengan perusahaan?” tanya Hidayat yang melihat keadaan anaknya itu.
__ADS_1
“Ada yang ingin aku sampaikan, itu sebabnya aku datang” kata Bintang.
“Tentu saja, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Memang kapan kau datang kemari hanya untuk sekedar mengunjungi orang tuamu,” sindir Hidayat. Aisyah tersenyum mendengarnya.
“Maaf, aku benar-benar sangat sibuk,” kata Bintang membela diri.
“Ada apa?” tanya Hidayat kemudian.
Bintang menarik nafas sebelum mulai berbicara di depan orang tuanya.
“Mama pikir kau datang membawa kabar baik, sepertinya kabar buruk” kata Aisyah melihat Bintang mengehela nafas. Terlihat anaknya itu sangat kacau.
“Aku dan Sarah akan bercerai,”
Aisyah dan Hidayat terdiam, mereka hanya melihat anaknya dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Kenapa?” tanya Hidayat dengan suara yang sudah berubah, kali ini suaranya menjadi lebih datar dan dingin.
“Kau yang selingkuh atau dia yang selingkkuh?” pertanyaan Hidayat sungguh menjebak.
Bintang memejamkan matanya, dia tidak berani menjawab Hidayat. Sementara Aiyahs sudah terlihat sangat sedih, dia mengharapkan seorang cucu tapi yang terjadi malah sebuah perceraian.
“Aku menyukai wanita lain, Pa. Tapi itu tidak membuat aku berhenti mencintainya. Aku tetap ingin rumah tanggaku dengan Sarah berjalan seperti biasa, tapi...”
“Bodoh, mana ada wanita yang ingin di duakan. Kau taruh di mana otakmu” suara Hidayat sudah meninggi. Hal yang sudah Bintang perkirakan.
“Aku menyukainya, Pa. Tapi aku hanya menjalani hubungan yang biasa dengannya. Dia sudah menjauhi aku berulang kali tapi aku yang selalu mencarinya” kata Bintang.
“Lalu Sarah ingin menceraikanmu?” tanay Aisyah dengan suara lembutnya berusaha mengimbangi suara suaminya yang sudah meninggi.
“Tidak, Ma. Dia... dia menemui mantan pacarnya di belakangku,”
“Apa maksudmu...?”
__ADS_1
Dia berhubungan dengan mantan pacarnya dan membohongiku, mereka bahkan tinggal di apartemen yang sama saat aku di luar negeri,” Hidayat terdengar menghela nafas.