
Bintang menjeput Nadia di depan sebuah Mall setelah Bintang menayakan keberadaannya meskipun teman-temannya yang lain masih berada di dalam mall. Bintang sudah menyuruhnya pulang karena di rumah masih ada orang tuanya.
“Aku bukan ingin membatasimu, tapi kau tahu kan kalau ada Mama dan Papa di rumah. Aku hanya tidak mau mereka menilai yang tidak baik tentang dirimu,” kata Bintang. Padahal Nadia sama sekali tidak berfikiran apapun, hari sudah sore dan memang sudah waktunya dia pulang. Toh sebentar lagi Vanesa dan Angel juga pasti akan pulang.
“Memangnya aku marah, kenapa Tuan Bintang bicara seperti itu. Aku kan tidak bilang apa-apa tadi,” kata Nadia.
“Kau tidak marah aku menyuruhmu pulang, kau kan sedang asyik bersama teman-temanmu,” Bintang memastikan kalau Nadia benar-benar tidak marah.
“Kenapa harus marah, aku kan juga keluar rumah sudah sejak tadi. Jadi sekarang waktunya aku pulang,” Bintang tersenyum mendengar jawaban Nadia. Gadis itu sudah dewasa ternyata. Dia bukan anak kecil yang akan merajuk ketika di panggil pulang saat sedang asyik bermain.
Mereka sampai di rumah saat sudah gelap, Nadia sampai tertidur di mobil karena macet parah di sepanjang jalan yang mereka lewati. Bintang yang melihat Nadia tidur, tidak tega untuk membangunkannya sehingga dia menunggu sampai gadis itu bangun.
“Kita sudah sampai?” tanya Nadia saat matanya terbuka dan melihat bangunan di depannya adalah rumah yan dia tinggali dan bukan lagi kendaraan yang padat merayap.
“Kenapa Tuan tidak membangunkan aku,” katanya mengucek-ngucek matanya.
“Turunlah, Mama sudah menunggu kita untuk makan malam,” kata Bintang. Nadia menikuti Bintang dengan berjalan di belakangnya. Walaupun sudah jelas Asiyah dan Hidayat memberi mereka izin dan restu, Nadia tetap saja merasa takut orang tua Bintang akan marah jika dia membuat kesalahn. Dia pergi saat matahri mulai naik ke permukaan dan pulang saat langit sudah gelap, tentu dia takut akan kena marah karena kelayapan seharian.
Padahal Bintang sudah sejak tadi mengabari orang tuanya bahwa dia terkena macet di jalan dan Nadia sudah ada bersamnya.
“Mandi dulu sana, habis itu kita makan. Mama sudah lapar,” kata Aisyha. Nadia yang bersembunyi di balik tubuh Bintang menampakkan dirinya saat merasa keadaan aman terkendali. Aisyah tidak marah.
“Iya, Ma,” kata Nadia. Dia langsung berlari ke kamarnya dan bergegas membersihkan diri.
Setelah makan malam, mereka berempat duduk di ruang keluarga. Tanpa banyak basa-basi Aiyah mulain membahas masalah pernikahan.
“Jangan tunggu terlalu lama, kalau bisa segera urus semuanya biar kalian bisa cepat menikah. Kapan rencana kalian?” tanya Aisyah.
“Kalau bisa besok, bintang juga mau langsung besok, Ma,” jawab Bintang.
__ADS_1
“Kamu Nadia, kamu sudah siap,” Nadia tersenyum.
“Iya, Ma. Nadia juga sudah siap,” jawab Nadia dengan mantap dan yakin.
“Bagus, berarti kamu juga sudah siap kan memberikan Mama cucu?”
Nadia melihat Bintang dan tersenyum, “Nadia sudah siap melahirkan anak untuk Tuan Bintang,” lalu dia mengalihkan pandangannya dan melihat Aisyah dan tersenyum dengan hangat, “dan memberi Mama cucu yang cantik dan ganteng”, katanya.
Aisyah berdiri dan duduk di samping Nadia lalu memeluk gadis itu. Dia terharu mendnegar jawaban Nadia. Dia tidak menyangka anak sekecil itu bisa punya pikiran yang luas dan matang. Sangat berbeda dengan Sarah yang hanya selalu mementingkan dirinya sendiri.
“Terima kasih, ya sayang. Walaupun itu hanya sebuah kata-kata, tapi hati Mama senang mendengarnya,” Nadia dan Asiyha berpelukan. Bintang dan Hidayat pun tersenyum hangat melihat pemandangan itu.
“Kamu mau pesta yang seperti apa, ini kan pertama buat kamu, Mama akan membuat pesta yang sangat besar untuk kamu,” kata Asiyah.
“Yang sederhana aja, Ma. Nadia tidak mau terlalu mewah, ribet,” katanya.
“Kalau begitu biar Mama yang urus semuanya yah, kalian tinggal terima beresnya aja,” kata Asiyah.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” kata Bintang. Dia melihat Sarah, wanita itu semakin cantik dan seksi.
Mereka menjalani rumah tangga selama hampir delapan tahun, selama itu Bintang dan Sarah sudah melewati banyak hari-hari indah bersama. Penuh cinta dan sangat romantis. Sayang kesalahan yang Sarah buat tidak bisa Bintang maafkan sebesar apapun cintanya untuk wanita itu.
Tidak ada rasa yan tersisa lagi untuknya.
“Tidak masalah, aku jua baru datang,” jawab Sarah tersenyum hangat.
“Ada apa?” tanyanya tidak sabaran. Sarah sudah tahu kalau yang akan Bintang bicarakan bukanlah tentang mereka, Sarah sudah cukup tahu diri bahwa dia lah yang membuat kesalahan fatal. Tidak hanya satu kesalahan, tapi dua kesalahan sekaligus dan keduanya memang tidak pantas di maafkan.
“Aku sudah mendengar dari Nadia kalau kalian sudah pernah bertemu,” kata Bintang langsung pada intinya. “Dia menceritakan semuanya, Sarah,” sambung Bintang lagi.
__ADS_1
“Lalu, kau akan melakukan apa. Kau akan memukulku atau menamparku?” tanya Sarah dengan nada datar.
“Tidak, tentu aku tidak akan melakukan hal serendah itu pada wanita. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku masih menghargaimu sebagai seorang wanita, walau bagaimana pun aku tidak akan lupa kalau kau pernah jadi bagian penting dari hidupku. Aku harap kau tidak akan mengecewakan aku lagi kali ini,” kata Bintang dengan tegas.
Meskipun Bintang tidak menjelaskan secara detail, tapi Sarah sangat mengerti apa maksud Bintang.
“Aku minta maaf, kau mau memaafkan aku kan,” kata sarah. Dia terlihat tulus meminta maaf.
“Aku salah, aku egois. Aku terlambat menyadari kesalahanku. Aku minta maaf,” Sarah mengulang kata maafnya sekali lagi.
Bintang mengangguk, walau begitu dia masih tetap dingin dan datar.
“Aku harap kau juga akan bahagia, Sarah. Temukan laki-laki yang baik dan bahagiakan dia. Kau sangat cantik, tidak akan sulit mencari pendamping,” kata Bintang. Sarah tersenyum.
“Sebentar lagi, aku akan mencarinya sebentar lagi. Saat ini aku maish ingin menikmati kebebasanku,” katanya.
“Lalu kau dan Nadia bagaimana?”
“Kami akan menikah,” kata Bintang lansgung. Sarah hanya mengangguk dan sama sekali tidak terkejut.
“Bagaimana kalau aku yang membuat gaun pengantin untuknya. Tubuhnya bagus, tidak susah untuk membuat gaun yang sangat indah untuknya,” Sarah menawarkan diri untuk mendesain gaun pengantin untuk Nadia.
“Kau mau?” tanya Bintang tidak yakin.
“Kalau kau tidak keberatan dan percaya padaku, tentu saja aku mau. Tapi tidak gratis,” Sarah tertawa renyah mengamati eksperis Bintang.
Bintang tentu tidak akan langsung menyetujuinya, tentu dia akan menanyakan hal itu pada Nadia dan Asiyah terlebih dahulu. Mungkin saja mereka tidak percaya karena Sarah bukan orang yang baik. Sarah pernah menyakiti Nadia, dan mungkin juga masih ada dendam di hatinya pada gadis itu.
Percakapan mereka selesai, Bintang meninggalkan sarah lebih dulu. Sementara Wanita itu terus memandang punggung Bintang yang kian menjauh. Dia benar-benar terlambat menyadari bahwa dia bukan hanya membutuhkan nama besarnya, tapi juag membutuhkan dirinya. Sarah sadar bahwa dia juga sudah jatuh cinta pada mantan suaminya itu.
__ADS_1
Tapi semua sudah terlambat, sesuatu memang baru akan terlihat begitu berarti ketika kita sudah tidak lagi memilikinya.