
Bintang meninggalkan Sarah setelah mengusir wanita itu dari rumahnya. Dia sudah tidak mau lagi melihat wajahnya. Semua cinta yang dia miliki kini lenyap sudah bersama dengan air mata yang mengering di pipinya.
Seandainya bisa memutar waktu, Bintang tidak ingin memulai semua itu dengan Nadia agar dia tidak mendapatkan karma dari apa yang sudah dia lakukan. Tapi itupun tidak menjamin jika Sarah juga tidak akan melakukan hal yang sama karena sarah memang sudah sering menemui Mario bahkan mengunjunginya di luar negeri.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, mengulang waktu juga tidak mungkin bisa di lakuka. Yang harus Bintang lakukan sekarang adalah segera bangkit dan kembali memulai kehidupannya yang baru.
Bukan hanya bermain dengan laki-laki lain, Sarah bahkan tidak mau mengandung anaknya. Pun jika tidak ada perselingkuhan di antara mereka, Bintang akan tetap meninggalkan Sarah karena merekayasa penyakit Bintang padahal seseungguhnya dia yang tidak ingin punya anak.
Sarah berteriak di dalam kamar, dia merobek foto-foto itu dan membuangnya begitu saja. Dia menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamar itu.
“Bagaimana Bintang bisa tahu aku bertemu Mario, dari mana dia tahu sedangkan Mario kembali ke Perancis sebelum dia pulang juga tidak mungkin ada yang mengenaliku di luar sana. Sialan, brengksek,” teriak Sarah yang kembali melempar pot bungan hingga hancur berserakan saat membentur dinding.
“Tuti, pembantu sialan itu pasti mengadu pada Bintang kalau aku tidak pernah pulang saat dia di luar negeri. Kurang ajar.”
Dengan emosi Sarah keluar dari kamar dan mencari Tuti, dia membanting pintu dengan sangat keras saat menutupnnya.
“Apa kau yang bilang sama Bintang kalau aku tidak pernah pulang ke rumah saat dia ke luar negeri?” Sarah menemukan Tuti sedang makan di dapur, dia menarik rambut gadis itu hingga dia merintih.
“Apa maksud Nyonya? Lepas, Nyonya. Sakit.”
Tuti berusaha melepaskan tangan sarah yang menarik rambutnya. Namun Sarah menariknya sangat keras, wanita itu melepasnya dan sekarang malah mencekik gadis yang tidak tahu apa-apa itu.
“Bohong, kau pasti bohong. Kau yang mengadukan kan, ayo jawab...”
Tuti berhasil melepaskan tangan sarah dari lehernya.
__ADS_1
“Uhuk..uhuk...” Tuti mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dia menatap Sarah dengan tatapan yang tidak ramah. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
“Tuan sudah lama pulang asal Nyonya tahu. Tuan sudah pulang dua hari sebelum Nyonya kembali ke rumah. Tuan sendiri yang tahu kalau Nyonya tidak pernah pulang ke rumah,” kata Tuti dengan kesal.
Dia lalu meninggalkah Sarah yang terdengar shock mengetahui Bintang ternyata sudah mengetahuinya saat dia kembali tapi berpura-pura seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
“Sial, bagaimana ini. Kenapa juga aku harus menginap di apartemen bersama Mario waktu itu.”
Sarah kembali ke kamarnya, memutar otak mencari cara bagaimana agar hubungannya dan Bintang bisa di lanjutkan. Bagaimana caranya agar Bintang mau memaafkannya dan mereka bisa kembali seperti dulu.
Sarah berjanji pada dirinya sendiri jika Bintang memaafkannya, dia akan berhenti mengkomsumsi pil penunda kehamilan itu. Dia akan menjalani program agar bisa segera hamil.
Tapi sayangnya sarah tidak tahu kalau Bintang juga sudah tahu tentang kebohongannya yang lain.
“Kau tidak perlu pergi, wanita itu yang akan keluar dari rumahku,” kata Bintang saat Tuti mengadukan tentang apa yang sudah Sarah lakukan padanya.
Tuti sangat terkejut mendengar Bintang mengatakan seperti itu, tapi dia tidak mau bertanya lebih karena Bintang pun tidak akan menjawabnya. Seperti sekarang, Bintang malah memutuskan sambungan teleponnya.
“Kenapa Tuan bilang begitu, apa wanita sinting itu benar-benar selingkuh. Dia sudah ketahuan? Astaga,” bahkan Tuti ikut terkejut. Siapa yang menyangka Sarah akan berselingkuh di belakang suaminya melihat bagaimana Bintang memberikan begitu banyak cinta padanya.
“Wanita tidak bersyukur, memangnya apa yang dia cari sampai selingkuh.” Tuti hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia juga mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah Bintang karena Bintang sendiri yang memastikan padanya kalau Sarah yang akan pergi, bukan siapapun.
Sementara Sarah masih berada di dalam kamar yang sudah seperti kapal pecah, tidak tahu seperti apa bentuk kamar itu sekarang. Dia menggigit-gigit kukunya sambil terus berfikir rencana yang bagus untuk membuat Bintang kembali padanya.
Dia tentu tidak akan semudah itu melepaskan seorang Bintang. Sementara dia juga tidak mengharapkan apa-apa dari Mario selain hanya untuk bersenang-senang dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Sarah mengambil tas dan kunci mobilnya dan pergi ke rumah orang tuanya, dia berharap bisa mendapatkan cara untuk membuat Bintang kembali padanya dari Mamanya.
“Kau tidak punya otak, hah. Untuk apa kau bertemu dengan laki-laki miskin itu lagi, aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar kau tidak berhubungan dengan brengsek itu tapi ternyata kau masih berhubunan dengannya.”
Bukannya mendapat pembelaan, Sarah malah mendapatkan omelan dari Lidya, Ibunya. Selama ini Lidya juga tahu mengenai Sarah yang masih sering bertemu dengan mantannya itu.
Lidya sejak dulu tidak menyukai Mario karena laki-laki itu hanya seorang manager swalayan yang tidak terlalu besar. Lidya mati-matian menyuruh Sarah memutuskan hubungannya dengan Mario dan mendekati Bintang yang saat itu tertarik padanya.
Sarah pun mendengarkan Lidya dan memutuskan hubungannya dengan Mario walaupun saat itu mereka sedang di mabuk cinta. Namun ternyata di belakang semua orang, mereka berdua masih terus berhubungan.
“Sudahlah, Ma. Aku ingin minta ide dari Mama untuk membuat Bintang kembali padaku, bukan mendengar omelan Mama,” kata Sarah. Mangabaikan ocehan Lidya.
“Mama tidak mau ikut campur lagi urusanmu, kau urus saja sendiri. Mama sudah memperingatkamu berkali-kali tapi kau tidak mau mendengar. Jadi kau tanggung sendiri. Dasar wanita bodoh, tidak tahu diri.” Lidya meninggalkan Sarah dan tidak mau perduli dengan masalah anaknya.
“Ma, aku akan kehilangan semua begitu Bintang menceraikan aku. Mama benar-benar tidak mau perduli lagi padaku.” Lidya jalan terus menuju kamarnya dan tidak memperdulikan Sarah yang terus teriakmemanggilnya.
Sementara itu, Raul, Papanya hanya bisa menggeleng kepala melihatnya. Sejak kecil, Sarah meman susah di atur dan selalu mengikuti keinginannya saja.
“Papa malu sama kamu, bagaimana kamu masih berhubungan dengan laki-laki lain saat kamu sudah bersuami. Seandainya Papa jadi Bintang, Papa juga akan melakukan hal yang sama.” Raul juga pergi meninggalkan anaknya itu seorang diri di ruang tamu.
“Kenapa kalian tidak membelaku, aku ini anak kalian bukan Bintang. Bintang juga berselingkuh di belakangku tapi aku memaafkannya, kenapa hanya aku yang di salahkan.”
Sarah berteriak seperti orang gila, tapi tidak ada satu orang pun yang perduli padanya. Dia berharap Lidya akan membantunya tapi wanita itu juga ikut menyalahkannya. Bahka Raul yang selama ini hanya diam saja juga ikut bicara dan menyalahkannya.
Sarah yang kesal lalu pergi dari rumah orang tuanya, dia kembali ke rumah Bintang berharap laki-laki itu ada di sana. Dia akan mengemis dan memohon pada Bintang agar laki-laki itu memaffkannya.
__ADS_1