Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 60


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiam di dalam mobilnya, Bintang menarik nafas sebelum turun dari mobil untuk menemui Nadia.


Vanesa yang keluar rumah untuk memasukkan kopernya ke dalam mobil hampir saja terkena seranan jantung melihat Bintang berdiri tepat di depan matanya.


“Vanesa, kenapa malam berdiri di depan pintu sih. Minggir dong,” Angel mendorong Vanesa dengan pantatnya karena gadis itu tidak juga bernjak dari tempatnya.


“Kamu liat apa sih?” Angel lalu sama terkejutnya dengan Vanesa ketika melihat siapa yang sudah membuat Vanesa terdiam seperti patung.


Bintang tersenyum pada kedua gadis itu, senyuman itu melambangkan rasa terimakasihnya karena kedua gadis itu ada di saat Nadia membutuhkan mereka.


Vanesa dan Angel serasa tidak percaya melihat Bintang ada di desa, kebohongan mereka terbongkar sudah. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, Bintang tersenyum pada mereka. Dan senyuman itu terkesan sangat aneh bagi Vaensa dan Angel.


Bintang tidak lagi perduli pada Vanesa dan Angel, dia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Sesaat kemudian, Nadia keluar dari dalam kamar dengan menyeret kopernya.


“Tuan Bintang...” Bintang masih bisa meliha tdengan jelas mata sembab Nadia. Wajahnya semakin tirus dan kurus, Bintang semakin merasa bersalah melihatnya.


Nadia lalu membawa Bintang ke kuburan Nenek Mina, seperti permintaannya.


“Kenapa tidak memberitahuku kalau Nenek Mina sakit?” tanya Bintang setelah Nadia mengatakan penyebab meninggalnya Nenek Mina.


“Aku sudah tidak punya nomor ponsel Tuan, Nenek memintaku menghapusnya waktu itu,” jawab Nadia asal. Padahal memang dia tidak berniat sama sekali menghubungi Bintang.


“Kau akan ikut bersama teman-temanmu kembali ke kota?” tanya Bintang lagi, Nadia mengangguk.


“Kau akan tinggal di mana?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Vanesa mengajakku tinggal bersamanya di apartemen,” jawab Nadia. Bintang mengangguk. Untuk sementara dia tidak mau memaksakan appaun pada Nadia. Setidaknya gadis itu akan kembali ke kota, itu sudah membuatnya lega.


“Kau akan pulang hari ini?” Bintang bertanya lagi.


“Iya, Vanesa dan Angel sudah ketinggalan banyak mata kuliah,” jawab Nadia. Hari itu hanya ada tanya jawab antara Bintang dan Nadia dan tidak ada pembicaraan lainnya.


Bintang melihat dengan tatapan sinis pada seorang laki-laki yang tersenyum tulus kepada Nadia, dia adalah Anton. Bintang bisa melihat kalau laki-laki itu memiliki perasaan istimewa pada Nadia.


Teman-teman Nadia berdatangan memberi pelukan selamat tinggal pada gadis itu, mereka baru bertemu tapi merasa sudah begitu akrab dengannya. Nadia yang ramah dan sopan sudah mengambil hati banyak orang. Mereka memberi banyak oleh-oleh untuk Nadia bawa ke kota. Karena tidak enak dan tidak sopan untuk menolak, Nadia menerima semua pemberian mereka.


Bintang hanya melihat saja dan tidak bereaksi apapun, bahkan ketika satu persatu mereka memeluk Nadia termasuk Anton. Bintang juga tidak memaksa saat Nadia lebih memilih pulang bersama kedua temannya dari pada bersama dirinya. Meski begitu, mobil Bintang terus mengekori Mobil Vanesa yang di kendarai sopir dari perusahaan Ayahnya itu.


“Tuan Bintang masih ada di belakang,” kata Vanesa yang membuat Nadia dan Angel menengok ke belakang.


“Kamu beneran tidak mau turun dan ikut sama Tuan Bintang, kita tidak apa-apa kok,” kata Vanesa yang melihat Nadia sangat gelisah sampai beberapa kali menengok ke belakang.


“Nggak mungkin,” Vanesa lalu memeluk Nadia.


Sepertinya Nadia sudah mulai meneriman kepergian Neneknya, dai sudah tidak menangis lagi dan makannya juga sudah mulai teratur. Walau bagaimanapun, hidup harus tetap berjalan selama kita masih berada di dunia ini. Tidak ada juga gunanya untuk terus meratapi seseorang yang sudah pergi meninggalkan kita, yang harus kita lakukan hanyalah ikhlas menerima semuanya dan kembali melanjutkan hidup walau mungkin keadaannya sudah tidaka kan sama lagi.


Mobil Vanesa berhenti di sebuah restoran, mereka singgah untuk makan malam karena jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Masih ada beberapa jam lagi untuk sampai di kota.


Mobil Bintang juga ikut masuk ke dalam parkiran restoran itu. Karena tidak tega melihat Bintang Makan sendirian, Vanesa menawarkan padanya untuk ikut makan bersama mereka di meja yang sama. Nadia tetntu tidak keberatan, dan jadilah mereka makan bersama di meja yang sama.


“Om, maaf yah. Kami sudah bohong sama Om, dari sejak awal kamu sudah tahu kok Nadia pergi kemana. Hanya saja kami tidak mau memberitahukannya kepada, Om,” sempat-sematnya Vanesa berakta jujur kepada Bintang. Tapi dia melakukan itu untuk mencairkan suasana yang sangat kaku.

__ADS_1


“Tidak apa-apa,” jawab Bintang.


Nadia melihat Bintang sedikit berbeda dari yang dia lihat terakhir kali. Bintang tidak terlalu banyak bicara dan terkesan lebih dingin dari biasanya. Nadia bahkan sempat berfikir kalau Bintang akan marah padanya karena pergi tanpa pamit, tapi reaksi Bintang sungguh di luar dugaannya.


“Nad, kamu mau ikut mobil Tuan Bintang atau mau sama kami?” Vanesa lagi-lagi membuat suasana menjadi canggung.


Bintang tidak berkata apa-apa, tapi dia seperti menunggu jawaban Nadia.


“Tuan, aku boleh minta nomor ponsel Tuan? Besok aku akan menghubungi Tuan,” Bintang sedikit kecewa karena Nadia tidak mau ikut di mobilnya, meski begitu dia tetap memberikan kartu namanya pada Nadia dan berharap gadis itu benar-benar menghubunginya besok.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, saat mobil sudah berbaur dengan kendaraan lain, mobil Bintang sudah tidak terlihat mengikuti mereka lagi.


“Kalian lihat Tuan Bintang nggak? Dia kenapa jadi aneh sih,” kata Nadia yang merasakan keanehan dari sikap Bintang.


“Dia mungkin kecewa karena kamu nggak mau ikut di mobilnya, Nad,” tebak Angel. Nadia merasa Bintang tidak marah padanya, tapi ada sesuatu yang sepertinya sudah merubah sikap seorang Bintang menjadi lebih dingin.


Saat sampai, sopir Vanesa membawa semua oleh-oleh dari desa ke unit apartemen Vanesa setelah mengambil apapun yang ingin dia ambil karena Nadia menawarkan padanya untuk mengambil apapun yang dia inginkan.


“Bapak ambil saja kalau ada yang mau di ambil, kami juga tidak terlalu butuh,” kata Nadia pada sopir Vanesa.


Jadinya dia mengambil sekarung beras, ubi, dan juga dua ekor ayam pemberian warga desa pada Nadia.


Mereka menyempatkan untyk membersihkan diri walaupun tubuh mereka sudah sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang panjang nan melelahkan dari desa ke kota.


“Aku tidur di mana?” tanya Nadia sambil senyum-senyum.

__ADS_1


“Tidur sama aku aja, kamarku kan lebih luas,” jawab Vanesa yang membawa koper Nadia masuk ke kamarnya.


Nadia tersenyum, setidaknya di dunia ini dia masih punya dua sahabat yang akan selalu bersamanya. Setelah membersihkan diri, mereka semua lalu tidur dengan begitu pulas. Angel merasa tidak terima jika dia tidur sendirian sehingga dia bergabung bersana Vanesa dan Nadia. Jadilah mereka semua tidur di kamar Vanesa yan memang tempat tidrnya sangat besar itu.


__ADS_2