
Mobil Vanesa ternyata sudah ada saat Nadia sampai di tempatnya biasa menunggu. Bintang lalu memingirkan mobilnya di belakang mobil Vanesa.
“Tuan sudah lebih baik?” Nadia bertanya untuk memastikan keadaan Bintang sebelum dia keluar dari mobil. Pagi ini Bintang terlihat jauh lebih rileks dari semalam.
“Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku” jawab Bintang dengan tersenyum yang membuat Nadia juga ikut tersenyum.
“Tuan itu lebih cocok kalau tersenyum , lebih tanpan” kata Nadia. Bintang tertawa kecil mendengarnya. Baru saja dia ingin menyentuh pipi Nadia, suara klakson tidak sabaran sudah terdengar dari depan.
“Astaga, aku sampai lupa kalau harus kuliah. Aku pergi dulu yah, Tuan. Tuan hati-hati di jalan” kata Nadia lalu keluar dari mobil. Bintang tersenyum tipis melihatnya.
“Apakah aku sangat menakutkan tadi malam” Bintang pun membunyikan klakson mobilnya saat berpapasan dengan mobil Vanesa di jalan.
“Ingat waktu dong” omel Vanesa sembari menyetir. Mereka ada jam pagi hari ini tapi Nadia malah asyik pacaran di dalam mobil.
“Maaf” kata Nadia sambil memanyunkan bibirnya.
Untung saja mereka tiba sebelum dosen masuk ke dalam ruangan jadi mereka tidak ketinggalan mata kulaih pagi itu.
Setelah kelas pagi selesai, mereka harus menunggu satu jam lagi untuk mata kuliah selanjutnya dan kesempatan itu mereka gunakan untuk makan di kantin sambil menginterogasi Nadia kenapa semalam dantadi pagi dia bersama Bintang.
“Iya, semalam Tuan Bintang tidur di rumah. Dia aneh banget, kayak lagi marah atau lagi pusing aku juga nggak tahu. Semalam Tuan Bintang diam aja dan mukanya kaku banget nggak kayak biasa. Tapi tadi pagi aku lihat sudah agak lebih baik, dia sudah tersenyum” cerita Nadia pad ateman-temannya.
“Mungkin ada masalah sama perusahaannya,” kata Vanesa membuat Nadia kembali kepikiran tentang Bintang. Apakah tadi pagi dia sengaja memaksakan senyumnya agar Nadia tidak khawatir.
“Orang kaya, Nad. Dia nggak akan langsung miskin, pasti banyak aset yang bisa dia jual untuk menolong perusahaannya kalau terjadi sasuatu” entah kenapa sampai Vanesa berfikir jauh kesana.
“Semoga aja Tuan Bintang tidak kenapa-kenapa” pinta Nadia dan di aminkan teman-temannya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu hingga tanpa terasa mata kulaih mereka untuk hari ini telah selesai. Vanesa dan kedua temannya sudah berjalan ke parkiran untuk mengantar Nadia dan Angel ke restoran, namun langkahnya terhenti saat dari kejauhan dia melihat sosok yang sangat dia kenali.
Vanesa memicingkan matanya mencoba memastikan penglihatannya dan ternyata benar bahwa yang dia lihat adalah Alex, sugar daddynya. Vanesa girang setengah mati, dia ingin berlari menyapa Alex tapi Angel segera menahannya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Angel. Tentu akan jadi pertanyaan orang-orang kalau sampai Vanesa mendekati Alex dengan sikap manjanya itu.
“Banyak orang” tegur Angel sekali lagi.
“Aku kangen” Vanesa hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil terus memandangi Alex dari kejauhan. Dan saat mereka bersitatap, Vanesa dengan cepat melambaikan kedua tangannya dengan senyum manisnya.
Dari jauh Vanesa bisa melihat Alex tersenyum ke arahnya, dia melihat Alex sedang memegang ponselnya lalu tidak lama ponsel Vanesa bergetar tanda pesan masuk.
‘Pulanglah, kita ketemu nanti malam’ Vanesa mengangguk sambil melihat Alex, dan dia mengajak kedua temannya untuk pulang.
“Berarti nanti malam aku nggak bisa jemput” kata Vanesa. Tentu saja, dia sudah ada janji dengan sugar daddynya.
“Ihh, aku jadi takut” katanya. Dia akan memberi tahu Alex agar mencari tempat yang tidak akan mungkin di ketahui oleh istrinya.
Sementara itu Bintang sudah menunggu seseorang di ruangannya. Dia sengaja mengundang orang itu untuk membantunya mencari tahu apa yang Sarah lakukan di belakangnya.
“Cari tahu semua apapun yang dia lakukan bahkan di dalam butiknya sekalipun” perintah Bintang dengan tegas.
“Siapa yang dia temui dan kemana saja dia, aku ingin tahu semuanya.” Kali ini Bintang tidak akan lengah hingga membiarkan Sarah bertingkah seenaknya. Dia meminta tolong pada Jony, seorang detektif swasta yang sudah banyak membantu keluarganya sejak dulu.
Jony tentu sangat ahli di bidangnya, jangankan hanya memata-matai, Jony bahkan bisa mengakses semua cctv di dalam ruangan tanpa perlu datang langsung mengambil rekamannya. Jika Bintang sudah meminta tolong pada Jony, berarti keadaannya sudah benar-benar sangat darurat.
“Anda tenang saja, Tuan. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam saya pasti akan memberikan informasi yang akurat kepada anda” kata Jony dengan yakin. Tentu bukan hal sangat sulit baginya.
__ADS_1
“Satu hal lagi, tolong jangan sampai orang tuaku tahu tentang hal ini. Aku ingin menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan orang tuaku” pinta Bintang. Dia tahu apa yang akan Mamanya lakukan kalau sampai tahu Bintang meminta Jony mengawasi Sarah.
“Tenang saja, ini akan aman di tanganku” kata Jony. Dia tentu tidak mau ikut campur tentang apa yag terjadi, dia hanya akan menjalankan tugasnya dan mendapatkan bayaran. Hanya itu saja yang dia inginkan.
“Terimakasih” ucap Bintang. Bintang lalu mengantar Jony sampai ke depan pintu ruangannya dan kembali ke kursi kebesarannya.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan aku, Sarah. Kau akan membayarsangat mahal kalau kau melakukan sesuatu yang mempermalukan aku di belakangku” mata Bintang seolah menyala saat mengatakannya. Kecewanya sudah tidak terkendali lagi, amarahnya tidak lagi bisa di redakan. Tidak akan ada tawar menawar jika benar Sarah bermain api di belakangnya.
Sementara itu Nadia dan Angel mendapatkan tumpangan dari manager restoran tempat mereka bekerja. Nadia dan Angel yang awalnya menolak pun akhirnya mau menerima tawarannya. Apalagi manager restoran mereka seorang wanita yang dari awal memperlakukan mereka dengan sangat baik.
Nadia turun lebih awal sehingga hanya tinggal Angel saja dan managernya, kebetulan memang mereka searah.
“Kok nggak di jemput sama pacar kamu?” tanya managernya memecah keheningan di antara mereka.
“Nggak ada, Bu. Saya nggak punya pacar” jawab Angel dengan jujur.
“Loh, kenapa. Kamu cantik kok, masak nggak ada yang mau jadi pacar kamu. Atau kamu yang nggak mau pacaran?” tanyanya lagi.
“Iya, Bu. Aku mau fokus sama belajar sama kerja aja, nanti malah asyik pacaran sampai lupa tanggung jawab aku” jawab Angel dengan jujur.
“Memang kamu belum pernah pacaran?” entah kenapa manager restoran itu sangat kepo.
“Pernah sih, Bu. Tapi dia pindah ke luar negeri jadi kami putus”
“Oohh, kamu masih tunggu dia kembali yah?”
Angel tersenyum, dia lalu teringat semua saat-saat yang dia lewati bersama Bryan. Senyumnya semakin lebar saat membayangkan bagaimana Bryan memperlakukannya, dan semua sentuhan Bryan.
__ADS_1
“Nggak, Bu. Dia mungkin nggak kembali lagi” katanya kemudian dengan senyum yang menertawakan dirinya sendiri. Tentu Bryan tidak akan kembali dengannya karena Bryan mungkin sudah melupakannya dan bahagia dengan anak dan istrinya.