Kekasih Online

Kekasih Online
EPISODE 15


__ADS_3

🌟🌟🌟


        Hari-hari Rasya semakin berwarna setelah menjalin hubungan dengan Pradiktan_AT di dalam game, mereka semakin sering berhubungan, dan saling bertukar kabar setiap harinya. Walaupun ia belum bertemu dan mengenal pria itu di dunia nyata, akan tetapi bisa dipastikan bahwa jauh didalam lubuk hati Rasya yang terdalam telah terukir dan bertahta nama pria itu dengan kokohnya. Bisa dikatakan Rasya telah menyimpan sebuah perasaan yang mendalam untuk pria itu. Rasa nyaman yang pria itu ciptakan mampu menggoyahkan prinsip Rasya yang tak akan menjalin hubungan dengan pria manapun, hingga ia selesai kuliah.


Hari telah menjelang Siang, Gadis itu masih betah menatap sebuah layar berbentuk persegi didepannya, bibirnya melengkung keatas membentuk pola senyuman yang indah. Tiara yang melihat Rasya bertingkah aneh, langsung memanggil Dina. "Pssst !" Suara Raysa memberi tanda agar Dina segera melihat kearahnya. Dina menatap heran kearah Tiara, selanjutnya pandangannya mengikuti arah pandangan Tiara, tertuju menatap kearah Rasya. Terlihat Rasya tengah tersenyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu.


Tiara dan Dina secara perlahan-lahan segera berjalan menuju ke arah Rasya. "Doorr!" Teriakan mereka berdua mengagetkan Rasya. Rasya tersentak kaget, hampir saja ia jatuh dari kursi goyang yang sedang ia duduki. "Ngelamunin apa sih Sya ? Kayaknya seru banget, sampe senyum-senyum sendiri, huh ?" Tanya Dina kepada Rasya.


"Eh ? Hehe enggak kok, emang aku senyum-senyum sendiri ? perasaan biasa aja tuh." Jawab Rasya tak berdosa.


"Hmmm nyamuk yang mondar mandir juga pasti tau Sya kalau dari tadi kamu tuh ngelamun, udah gitu senyum-senyum nggak jelas lagi, jadi serem tau ngeliatnya." Timpal Tiara.


"Awww ! Atau jangan-jangan kamu lagi mikirin cowok ya ?" Tebakan Dina yang berhasil membuat pipi Rasya bersemu merah, ia merasa malu karena tebakan Dina benar-benar tepat sasaran. Sejak tadi ia memang sedang memikirkan Pradiktan_AT.


"Hmmm enggak kok ! Laper nih, kekantin yuk." Ungkap Rasya seraya mengalihkan pembahasan agar kedua sahabatnya itu tak bertanya lebih dalam lagi kepadanya. Mereka bertigapun segera berangkat kekantin kampus untuk makan siang.


"Sya siap ini kamu mau kemana ?" Tanya Dina.


"Hmmm sepertinya aku harus keperpustakaan mencari bahan-bahan untuk jurnal ku." Jawab Rasya.


"Yaahhh akamu gak bisa ikut kita nonton basket dong." Keluh Tiara.

__ADS_1


"Hmm mau gimana lagi Ra, udah deadline." Ucap Rasya merasa bersalah.


"Yaudah deh gak kenapa-kenapa kok, kamu semangat ya Sya, aku yakin kamu pasti bisa ngewujudtin cita-cita kamu." Ucap Dina menyemangati Rasya dan disambut anggukan oleh Tiara.


Tiga orang gadis itu melanjutkan makan siangnya dengan saling bersenda ria. Mereka terlihat sangat bahagia dan kompak. Tanpa mereka sadari ada seorang gadis tengah menatap tajam kearah mereka, gadis itu merasa sangat kesal, karena ketiga temannya tak memperdulikannya. Bahkan mereka bertiga dengan tega tak mengajaknya makan siang. Ya mereka melupakan Lana. Lana datang menghampiri mereka membawa nampan berisi makan siangnya. "Ekheem !" Deheman Lana menarik perhatian ketiga gadis itu.


"Lana ?" Teriak mereka bertiga secara kompak.


"Hmmm kalian melupakan ku !" Ucap Lana seraya memasang wajah cemberutnya, iya memanyunkan bibirnya dihadapan mereka bertiga.


"Sorry Lana, aku kira kau telah makan duluan bersama teman-teman mu." Ucap Dina.


"Maaf Lana, aku benar-benar tak menduga akan kejadian seperti ini." Ucap Rasya yang merasa bersalah.


Lana menatap tajam kearah mereka bertiga, kemudian menarik panjang nafasnya. "Huuuuuuufh, Sudahlah jangan dibahas lagi, aku ingin menikmati makan siangku." Ucap Lana dingin.


Ketiga gadis itu pun terdiam, menatap Lana dengan tatapan bersalah, mereka benar-benar telah melupakan Lana. Jangankan menunggunya, bahkan memberi kabar untuk Lana pun mereka melupakannya tadi. Rasya sangat merasa bersalah kepada Lana, ia tak enak hati melihat salah satu sahabatnya itu berdiam diri, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Tak lama kemudian seorang pria berkacamat datang kemeja tersebut menghampiri Rasya. "Ra-syaa !" Ucap pria itu terbata.


Rasya menatap heran ke arah pria itu, sepertinya ia pernah melihat pria itu tapi entah dimana. "Hmm iya ? Ada apa?" Jawabnya penasaran. Sedangkan ketiga temannya hanya menatap dengan tatapan yang penuh tanda tanya kearah pria itu. "ALFA ?" Batin Lana.

__ADS_1


"Emm, Profesor Albert meminta mu untuk segera keruanganya." Ucap Alfa terbata.


"Profesor Albert ?" Batin Rasya yang mulai menduga-duga untuk apa Profesor Albert memanggilnya. "Hmm baiklah, terimakasih untuk informasinya." Ucap Rasya kepada Alfa. Alfa pun segera pergi meninggalkan ke empat gadis itu.


"Huh Pria yang aneh !" Ucap Tiara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Huuuush, tak baik menghina orang seperti itu Tiara." Ucap Dina.


"Hmmm maaf semuanya, aku harus pamit terlebih dahulu untuk menjumpai Profesor Albert. Kalian tak apa kan ?" Ucap Rasya pada ketiga sahabatnya.


 


 


"Duduk lah Rasya!" Ucap Profesor Albert meminta Rasya agar duduk disamping Ardhian. Dengan perasaan gugup tak menentu secara perlahan Rasya mulai berjalan dan duduk disamping Ardhian.


"Ardhian, perkenalkan ini Rasya mahasiswi semester 2. dan Rasya ini Ardhian mahasiswa semester 8." Ucap Prof Albert yang dibalas anggukan oleh kedua insan itu.


"Rasya saya telah membaca jurnal-jurnal kamu, dan saya memutuskan kamu lah yang akan menjadi patner Ardhian dalam olimpiade di Beijing bulan depan. Kamu bersediakan ?" Tanya Profesor Albert kepada Rasya.


Rasya tersentak mendengar ucapan Profesor Albert, jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang, kini berpacu semakin kencang, seolah-olah ingin keluar dari tubuh Rasya. "Prof serius ?" Tanya Rasya terbata.

__ADS_1


__ADS_2