
"Kriiiing Kriiiing !" Dering alaram yang berasal dari sebuh jam weker yang terletak diatas rak yang tergantung didinding samping tempat tidur Rasya.
Gadis itu menggerakkan tangannya, menekan sebuah tombol yang terdapat ada jam weker itu, agar benda itu berhenti berdering.
Rasya segera bangkit dari tempat tidur yang telah membuatnya merasa nyaman semalaman. Ia membereskan tempat tidur itu, dengan sangat cekatan, hingga membuatnya terlihat sangat rapi dan bersih.
Kebiasaan yang tidak pernah dilupakan Rasya setelah bangun dari tidurnya, adalah meminum air hangat. Baru setelahnya ia bergerak kedalam kamar mandi untuk mebersihkan diri.
Hari ini ia bangun lebih cepat dari pada hari hari biasanya. Karena hari ini, gadis itu harus memastikan proyek olimpiade mereka berjalan dengan lancar, mereka akan melakukan uji coba tahap akhir dan sedikit repot dengan beberapa tugas yang harus diselesaikan sebelum berangkat ke Beijing besok.
Rasya telah siap dengan gaun sepanjang lutut berbahan rajut, berwarna biru dongker, yang memperlihatkan tubuhnya yang langsing dengan kaki jenjangnya.
"Kau ingin berangkat sekarang Rasya ?" Tanya Lana yang sedang menyantap sarapannya.
Rasya menganggukkan kepalanya, tangannya tengah sibuk memasukkan beberapa sandwich kedalam sebuah kotak makanan. "Kau tak ingin sarapan terlebih dahulu Rasya ?" Tanya Lana kembali.
Namun Rasya hanya menggelengkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sehingga membuat Lana cemberut, dan sedikit kesal karena merasa dicueki oleh gadis itu.
Rasya yang menyadari akan hal tersebut menarik nafasnya panjang. "Maafkan aku Lana, aku sedang tidak fokus. Aku hari ini harus melakukan uji coba tahap akhir, dan harus mengerjakan beberapa hal, jadi lebih baik aku sarapan dikampus saja." Ucapnya seraya memperlihatkan kotak makanan yang telah terisi penuh dengan sandwich.
Lana menganggukkan kepalanya, sambil menyantap sarapannya dengan lahap. "Kau akan pergi sekarang Rasya ?" Tanyanya ketika melihat Rasya terburu-buru memasang sepatu.
"Emmm !" Gumam Rasya seraya menganggukkan kepalanya dengan memperlihatkan sedikit senyuman manis dari bibirnya. Lana meneguk susu hangatnya dengan terburu-buru. "Tunggu aku ! Kita pergi bersama-sama okey !" Ucapmya seraya terburu-buru mengenakan hiels yang cukup tinggi.
Rasya mengerutkan dahinya, ia merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada diri sahabatnya itu. Lana yang biasanya berpenampilan sederhana, kini berubah menjadi seorang gadis yang terlihat sangat modis, dengan gaun pink tanpa lengan, lipstik yang berwarna merah maron, dan hiels yang cukup tinggi. Akan tetapi Rasya tak ingin ambil pusing dengan hal tersebut, ia lebih memilih fokus untuk memikirkan uji coba tahap akhir proyeknya.
Kedua gadis itu sedang berjalan menuju area kampus, Rasya yang tak sabar ingin segera sampai ke gedung penelitian professor Albert terpaksa harus menahan kekesalannya, karena ulah Lana yang berjalan terlalu santai.
"Lana ? Emm bisakah kita mempercepat langkah kaki ? Aku takut terlambat sampai sana." Ucap Rasya dengan hati-hati karena tak ingin sahabatnya itu tersinggung.
"Emm, baiklah ! Maafkan aku yang terlalu terpana dengan suasana pagi ini." Ucapnya dengan memperlihatkan senyum tipis. Rasya menganggukkan kepalanya, ia sedikit meremas-remas tali paper bag yang ia bawa, karena melihat Lana yang kesulitan berjalan dengan menggunakan hiels itu.
__ADS_1
"Rasya ? Apakah kalian jadi berangkat besok ?" Tanya Lana antusias. Rasya menganggukkan kepalanya lagi, ia tidak mmpu mengeluarkan kata-kata karena pikirannya memang sedang tidak fokus.
"Huuuuufh" Lana menghembuskan nafasnya. "Kau tahu Rasya ? Aku sangat iri dengan nasip mu, jujur saja aku sangat ingin berada siposisi mu saat ini, mengikuti olimpiade itu adalah salah satu harapan yang pernah kugantungkan." Ucap Lana, dengan nada pelan.
Rasya menatap kearah Lana. "Kau pasti bisa Lana, ingat tak akan ada usaha yang menghianati hasil. Semangat !" Ucap Rasya seraya merangkul bahu gadis itu.
Lana tersenyum tipis kearah gadis cantik yang ada disampingnya, mereka terus melangkahkan kaki menuju arah kampus. Tanpa terasa kini mereka telah berada didepan jalan kecil menuju gedung penelitian professor Albert.
"Lana, aku duluan ya ! Semangat !" Ucap Rasya, Lana membalasnya dengan anggukkan. Rasya berjlan mundur seraya melambaikan tangannya kearah Lana, dan dibalas dengan senyuman tipis dari sahabatnya itu.
*****
"Selamat pagi !" Ucap Rasya semangat.
"Pagi kakak ipar !" Jawab Arjun.
Rasya mengedarkan pandangannya, menatap seluruh isi ruangan itu. Ruangan itu terlihat sepi, hanya ada Arjun yang sedang membuat kopi pahit kesukaannya.
Arjun menunjuk dua buah kursi panjang yang berada dibalik meja-meja komputer, terlihat Rayyan dan Pandu yang sedang fokus dengan alam mimpinya, kedua pria itu terlihat sangat kelelahan. Selanjutnya pria itu menunjuk kearah ruang perpustakaan yang berada didalam ruangan itu, membuat Rasya mengerutkan dahinya.
Rayyan yang baru saja terbangun dari tidurnya menatap heran kearah pria itu, dengan mata yang masih belum terbuka dengan sempurna. Rayyan berjalan kearah Arjun dan merebut kopi pahit yang ada ditangan pria itu.
Arjun hanya terdiam seraya menatap kearah Rayyan yang tengah menyeruput kopi pahitnya. "Byuuuuuur" Rayyan menyemburkan minuman yang baru saja masuk kedalan tenggorokkanya. Ya ! itu kopi pahit, wajar saja jika Rayyan menyemburkannya.
"Hahahahaha" Arjun tertawa terbahak-bahak menyaksikan pemandangan yang ada didepannya. Rayyan membesarkan matanya, menatap kearah pria yang sedang menertawainya.
"Itu bukanlah salah ku tuan ! Kau berjalan sambil terlena dalam mimpi buruk mu ! HAHA !" Ucap Arjun dengan tawa yang semak]n menggema.
*****
Rasya telah berada didalam perpustakaan itu, ia terpana melihat seorang pria dengan mata terpejam dengan kepala yang disandarkan pada badan kursi, dan dihadapannya terdapat laptop yang masih menyala dan buku-buku yang berserakan diatas meja.
__ADS_1
Gadis itu berjalan perlahan kearah pria tampan itu, ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun, agar tidak membangunkan pria itu.
Secara perlahan Rasya meletakkan paper bag yang ia bawa keatas meja, kemudian mengambil sebuah jaket yang terletak disebuah kursi yang berada disamping pria itu.
Tangan Rasya bergerak untuk menyelimuti tubuh Ardhian dengan jaket itu, namun ketika ia membenarkan posisi jaket itu ditubuh Ardhian sebuah tangan telah terlebih dahulu menggenggam pergelangan tangan Rasya.
Mata Ardhian telah terbuka dengan sempurna, menatap wajah seorang wanita cantik yang tengah menatap kearahnya. Pandangan mereka saling bertemu, dengan gambaran cinta yang telah menguasai bola mata itu. Aroma tubuh Rasya tercium dengan jelas oleh indra penciuman Ardhian karena jarak mereka yang sangat dekat. Aroma vanila yang lembut dan khas, membuat siapapun yang berada didekatnya akan terlena dan merasa nyaman.
"Eee, maafkan aku yang telah membuat mu terbangun kak !" Ucap Rasya yang ingin melepaskan pergelangan tangannya, namun Ardhian mencengkramnya dengan erat, seraya tersenyum menatap gadis cantik itu.
"Selamat pagi sayang !" Ardhian tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Rasya, membuat wajah gadis itu bersemu merah bagaikan seekor kepiting yang telah direbus.
"Ckh, Kau terlalu percaya diri tuan !" Rasya mengalihkan pandangannya. Tangan Ardhian bergerak menarik kembali wajah gadis itu dan membawanya menatap kearahnya. "Oh ya ? Akan tetapi mata mu mengatakan hal itu nona ! Mata indah mu ini tak akan pernah bisa berbohong." Ucap Ardhian seraya mengusap wajah Rasya dengan mata tajam yang menusuk kedalan bola mata gadis itu.
Rasya terdiam, wajahnya semakin memerah, menikmati tingkah Ardhian yang memanjakannya. "Emm, aku membawakan sarapan untuk kita semua kak. Sebaiknya kita segera menyantapnya sebelum professor Albert datang." Rasya mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa gugupnya.
Ardhian menganggukkan kepalanya. "Kau tak mau berbagi sarapan dengan professor Albert nona ?" Ardhian tersenyum nakal.
"Emm" Gumam Rasya seraya menganggukkan kepalanya. "Bukan aku yang tak ingin berbagi, hanya saja aku telah menghitung jumlahnya sesuai porsi makan kalian. Jelas hal itu akan sangat mengecewakan bagi ketiga pria diluar sana jika mereka harus merelakan jatah sarapannya untuk professor Albert." Rasya tersenyum, seraya menggerakkan naik turun alis matanya.
Ardhian mengusap pucuk kepala Rasya. "Emm, kau benar ! Anak-anak itu tidak boleh kekurangan jatahnya, karen mereka telah bekerja keras semalaman." Ucap Ardhian dengan senyuma manis yang melekat diwajahnya.
***Hallo Readers***
Terimakasih atas dukungannya untuk novel "KEKASIH ONLINE" dan tetap setia dukung novel ini terus ya ! Jangan lupa like, coment, and share novel ini ya.
Salam manis dari Rasya dan Ardhian π€π
Oh iya hampir aja kelupaan, jangan lupa untuk VOTE novel ini juga ya..
Bye Bye and See u next timeπ€π€
__ADS_1