Kekasih Online

Kekasih Online
EPISODE 60


__ADS_3

**PERHATIAN !


Sebelum membaca episode ini, tolong pastikan jika kamu telah menekan tombol like terlebih dahulu untuk mendukung author agar lebih semangat lagi dalam bekarya. Terimakasih ! 🙏😘


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Bulan telah berganti dengan matahari, Rasya telah terbangun dari tidurnya. Matanya tertuju pada sebuah tempat tidur yang terletak tidak jauh dari posisi temoat tidurnya.


Tempat tidur itu masih terlihat kosong, sama seperti semalam saat Rasya ingin tidur. Tak ada tanda-tanda kembalinya Viona kedalam kamar itu sejak semalam.


"Mungkin ada sesuatu yang mereka diskusikan, hingga membuat gadis itu tak kembali kedalam kamar." Batin Rasya.


Gadis cantik itu segera bangkit dari tempat tidurnya, dan segera berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri, dan bersiap mengikuti olimpiade itu.


Dua puluh menit telah berlalu, Rasya telah siap dengan pakaiannya yang rapi, dan bergegas kekuar kamar untuk bertemu dengan para seniornya yang telah menunggu gadis itu diloby hotel.


 


 


Mereka berlima duduk disebuah kursi panjang yang berbaris rapi didalam ruangan itu. Berulangkali Rasya terlihat menghembuskan nafas panjangnya berusaha untuk menenangkan diri.


Ardhian yang menyadari kegugupan Rasya, menggerakkan tangannya untuk meraih tangan gadis itu dan meletakkannya kedalam genggamannya.


Rasya menatap kearah Ardhian, ia memperlihatkan senyum tipisnya, ia faham jika Ardhian bermaksud untuk menenangkannga sehingga gadis itu memperlihatkan sebuah senyuman agar pria yang berada disampingnya tidak cemas dengan kondisi dirinya.

__ADS_1


Secara bergantian sesuai dengan nomor undian yang telah ditentukan para mahasiswa perwakilan kampus mulai maju keatas panggung presentasi untuk memaparkan software mereka dan ide-ide yang mereka kembangkan.


Sekarang giliran tim dari universitas Tirtawijaya yang maju untuk memaparkan presentasi mereka. Kelima mahasiswa itu naik keatas panggung, mereka telah berada diposisi masing-masing untuk mengerjakan tugas mereka.


Arjun telah siap dengan laptopnya, Ardhian, Rasya, Rayyan dan Pandu telah siap dengan pemaparannya. Secara bergantian keempat mahasiswa itu menjelaskan bagian-bagiannya dengan detail dan sangat profesional, membuat semua mata dewan juri dan para mahasiswa yang berada didalam ruangan itu terpana.


Tak ada lagi kegugupan, tak ada lagi kesilapan, mereka melakuknnya dengan perfect dan sempurna tanpa ada sedikit celahpun untuk memperlihatkan kecacatan.


Suara tepuk tangan yang gemuruh mewarnai seisi ruangan itu disaat kelima mahasiswa itu telah selesai melakukan tugasnya, bahkan mereka dengan cermat dan tenang dapa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilintarkan oleh dewan juri dan audiens.


Kini mereka telah kembali ketempat duduknya, menyaksikan presentasi-presentasi yang dipaparkan oleh para peserta selanjutnya.


Tanpa terasa kegiatan didalam ruangan itu telah selesai, seluruh peserta keluar dari ruangan menyisakan para dewan juri yang sedang berdiskusi untuk menentukan siapa yang pantas menyandang gelar sebagai pemenangnya.


"Huuuuh lega !" Pekik Rayyan ketika mereka berlima telah berada diluar ruangan. Kelima mahasiswa itu langsung bertos ria, saling menyemangati.


"Ekhem !" Arjun Berdehem, "Bro ! Kami telah menyelesaikan tugas dengan baik, dan aku merasakan jika angin segar akan berpihak pada kita, kau harus menraktir kami sepulang dari sini !" Ucap pria itu dengan tegas.


"Emm, ku setuju dengan mu Arjun, lagi pula sepertinya ada sesuatu yang lebih penting dari pada kemenangan ini untuk kita rayakan !" Timpal Pandu dan diikuti dengan seringai nakal dari Rayyan dan Arjun.


Rasya hanya tersenyum, dengan kepala yang menunduk, tangannya masih berada didalam genggaman Ardhian.


Ardhian tersenyum kearah tiga pria itu, "Emm, kau benar ! Bersiaplah ! Kita akan merayakannya setelah kembali dari sini !" Ucap Ardhian membuat tiga pria itu bersorak gembira.


Tak lama kemudian tim teknik kimia telah keluar dari ruangannya dan datang menghampiri mereka.

__ADS_1


Rayyan, Arjun, dan Pandu membulatkn matanya, menatap kearah seorang wanita, yang berpakaian serupa dengan Rasya, bahkan hingga gaya-gaya rambut mereka sama, yang membedakan hanya postur tubuh Rasya yang jauh lebih sempurna dibandingkan gadis itu. Apalagi wajahnya, walaupun make up yang tebal telah dioleskan pada wajah gadis itu, tetap tidak bisa menyaingi kecantikan natural yang terpancar dari Rasya.


"Viona ?" Ucap Rasya memanggil gadis itu, namun tidak ada balasan sama sekali, Viona masih fokus dengan lamunannya hingga Tamara menyenggol lengan Viona.


Gadis itu menatap kearah Tamara. "Ada apa Tamara ?" Ucap Viona ketus.


"Itu Rasya memanggil mu, namun kau malah diam saja !" Ucap Tamara.


"Emmm ?" Gumam Viona bingung.


"Viona, mengapa semalam kau tidak kembali kedalam kamar ?" Tanya Rasya pelan.


"Loh bukankah kau minta izin kepada ku untuk kembali kedalam kamar duluan ? Kemana kau semalam Viona ?" Timpal Tamara yang dibantu anggukan oleh kedua teman sekelompoknya.


Semalam mereka berempat sedang fokus untuk berdiskusi mengenai proposal yang seharusnya mereka presentasikan, namun Viona terburu-buru meninggalkan Tamara dan dua temannya.


"Emmm itu, aku, aku, aku semalam harus berdiskusi dengan Karin ! Ya aku tertidur dikamar Karin karena professor Ratna mengabarinya secara terburu-buru." Ucap Viona gugup.


"Kau sudah mengetahuinya dari semalam ? Lalu mengapa kau tak memberitahu kami bertiga Viona ?" Protes Tamara.


Sebenarnya gadis itu masih kesal dengan kejadian didalam ruang perlombaan. Viona dan Karin tidak memberitahu mereka bertiga jika ternyata propsal penelitian yang mereka presentasikan telah diubah, dan sangat jauh berbeda dengan penelitian yang telah mereka lakukan.


"Emmm, aku lupa ! Aku kira kalian sudah diberitahu oleh professor Ratna !" Ucap Viona gugup.


"Ting !" Sebuah notifikasi pesan masuk kedalan handphone Viona. Gadis itu terburu-buru membuka isi pesan itu, tangannya gemetar.

__ADS_1


"Maaf aku permisi dulu !" Ucap Viona meninggalkan Tamara, Rasya dan yang lainnya ditempat itu.


Mereka semua bengong menatap kearah gadis itu kecuali Ardhian yang hanya fokus dengan handphonenya. Pria tampan itu sedang sibuk berkomunikasi dengan professor Albert, entah apa yang sedang mereka bicarakan, hingga membuat pria taman itu tak memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya.


__ADS_2