
Di dalam sebuah kamar yang terletak diasrama kampus Tirtawijaya, seorang gadis cantik tengah sibuk berkemas memasukkan beberapa keperluannya kedalam sebuah koper, ditemani oleh tiga orang sahabatnya.
"Rasya ! Aku ingin ikut dengan mu ! Hiiiiks." Dina berpura-pura mengeluarkan suara tangisan, gadis itu membantu Rasya merapikan pakaian dan barang-barang yang akan dibawa oleh gadis cantik itu.
"Rasya ! Aku sangat iri dengan mu, kau bisa berangkat ke Beijing, berlibur bersama senior, tanpa harus menabung terlebih dahulu. Apakah kau sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk senior disana ?" Tanya Tiara dengan imajinasi liarnya.
Rasya menghentikan aktivitasnya, matanya melirik keahar Tiara yang sedang memperlihatkan senyuman nakalnya. "Tiara ! Aku berangkat ke Beijing hanya untuk mengikuti olimpiade, bukan untuk berlibur, jadi tolong hentikan imajinasi liar mu itu nona ! Itu sangat merusak niat baik ku untuk menghasilkan kabar baik." Tegas Rasya.
"Ckh ! Kau menyebalkan nona ! Apa salahnya jika kau memanfaatkan kesempatan ini untuk berlibur bersama senior. Uuuuunch, kau bisa menggunakan pribahasa sambil menyelam minum air sebagai alasan mu nona, itu akan menjadi perjalanan yang menegangkan namun romantis." Tiara masih memberikan senyuman nakal yang semakin mengembang.
*****
Matahari telah terbit dari ufuk timur, membawa seberkas sinar yang mampu menerangi bumi. Langit biru membentang luas, tanpa ada awan yng menghiasinya. Burung-burung berkicauan, melantunkan syair pagi nan indah, membawa keceriaan bagi siapapun yang menikmatinya. Tanaman-tanaman meneteskan embun pagi yang telah mencair terkena cahaya sang mentari.
Rasya telah siap untuk menunggu jemputan dari professor Albert. Bersama ketiga temannya yang setia menemaninya, duduk di lobi asrama yang terletak dilantai dasar, untuk menunggu jemputannya.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil telah terparkir didepan asrama Rasya. Gadis itu langsung membawa kopernya menuju halaman asrama tempat mobil itu terparkir dengan dibantu teman-temannya.
Seorang pria keluar dari dalam mobil itu, dengan berdandan necis ala-ala remaja tahun 70-an. Sebuah kaca mata bulat berantai emas telah siap menggantung dilehernya, dengan senyuman yang memperlihatkan giginya yang berpagar membuat para gadis itu menahan senyumannya. "Selamat pagi nona !" Ucap pria tua itu dengan ramah, dan lngsung membawa koper Rasya kearah belakang mobil.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang pria tua dengan memakai kemeja berwarna biru tua dan celana berbahan kain, khas bapak-bapak usia lima puluh tahunan turun dari kursi penunpang yang terletak disamping supir. Lalu disusul dengan empat pria muda yang sngat tampan dengan gayanya masing-masing turun dari pintu penumpng bagian belakang.
Pria tua itu adalah professor Albert hang terlihat sangat kontras dengan empat pria muda yang datang bersamanya. "Pagi junior !" Ucap Rayyan ramah, disusul dengan lambaian tangan dari Pandu dan Arjun.
"Pagi !" Ucap Rasya dengan senyum manisnya seraya menundukkan kepalanga sebagai tanda hormat.
"Kalian tunggu disini ! Aku harus menemui seseorang terlebih dahulu." Ucap professor Albert yang berjalan kearah pintu masuk asrama Rasya, membuat mereka semua menatap penasaran dengan langkah kaki professor Albert.
"Kau sudah siap junior ?" Tanya Rayyan pada Rasya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Emmm ?" Gumam Rasya yang tak mengerti maksud Rayyan. "Entahlah kak, aku sedikit gugup karena ini pertama kalinya aku keluar negeri." Ucap Rasya dengan wajah sendu.
"Tenanglah ! Jangan khawatirkan apapun ! Aku ada disamping mu." Ardhian tersenyum menenangkan Rasya seraya mengusap pucuk kepala gadis itu, membuat Rasya menjadi salah tingkah.
"Sudah-sudah, kak Pandu maafkan Tiara teman ku !" Ucap Rasya sopan seraya merangkul Tiara agar gadis itu bersikap tenang.
"Ckh, kau tak perlu membantu ku untuk meminta maaf pada pria sombong ini Rasya ! Menyebalkan !" Ucap Tiara ketus seraya membuang pandangannya agar tidak lagi menatap kearah Pandu.
"Wanita ceroboh ini teman mu kakak ipar ? Ckh, aku yakin pasti hidup mu selama ini sial jika berada didekatnya." Ucap Pandu yang memancing Tiara untuk mengeluarkan tatapan mematikan.
__ADS_1
"KAU !" Tiara menunjuk Pandu dan bergerak seolah-olah ingin menerkamnya namun Rasya dan Dina segera menarik tubuh gadis itu.
"Sudahlah Pandu, maafkan junior itu, lagian dia tidak sengaja." Ucap Arjun menenangkan Pandu.
"Apa yang membuat mu berlarian Tiara ? Apakah ada sesuatu yang terjadi ?" Tanya Dina yang merasa heran.
"Emm ini semua gara-gara aku melihat professor Albert sedang bersama wanita gendut itu." Ucap Tiara antusias dengan memperlihatkan senyuman mencurigakan, membuat mereka menatap tajam kearah gadis itu.
"Wanita gendut ? Pengwas asrama maksudmu ?" Ucap Dina penuh tanya.
Tiara menganggukkan kepalanya. "Ya ! Aku melihat mereka bermesraan, dan kau tahu ? Wanita gendut itu menyuapi sarapan untuk professor Albert. Aku benar-benar tak bisa mempercayainya." Ucap Tiara dengan mata yang membulat lebar.
"Jadi professor menyuruh kita menunggu disini sedangkan dia bermesraan didalam sana ? Luar biasa !" Ucap Rayyan tak percaya.
"Ekhem ! Apa yang sedang kalian bicarakan ?" Ucap professor Albert yang baru saja datang dengan merapikan dasinya.
"Selera mu bagus anak muda ! Mata mu masih jernih ternyata !" Ucap professor Albert, hingga membuat Tiara menyunggingkan senyum terpaksanya.
Professor Albert melihat kearah jam tangannya. "Ayo kita berangkat ! Supaya tidak terlambat !" Ucap Professor itu dan segara berjalan masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Dasar ular !" Ucap Pandu ditelinga Tiara, dan berlalu masuk kedalam mobil, membuat gadis itu menatap tajam kearahnya.
Mobil professor Albert segera melaju meninggalkan asrama kampus Tirtawijaya dan bergerak menuju bandara. Terlihat dari kaca sepion ketiga gadis itu melambai-lambaikan tangannya melepas kepergian Rasya.