Kekasih Online

Kekasih Online
EPISODE 53


__ADS_3

Rasya, Ardhian, dan tiga sahabatnya tengah duduk dimeja bundar yang terletak di tengah-tengah ruang penelitian professor Albert. Mereka berlima tengah asyik menyantap sandwich yang dibuat oleh Rasya.


"Aku berasa memiliki seorang ibu sekarang, hehe setiap hari ada yang selalu menyiapkan makanan untuk ku." Ucap Rayyan cengengesan seraya menikmati sandwichnya.


"Kau benar Ray, kakak ipar telah merawat kita dengan baik. Terimakasih Ar, kau telah mengirimkan kakak ipar yang sangat baik untuk kami." Mulut manis Arjun mulai beraksi.


"Ekhem !" Gumam Ardhian seraya menatap tajam kearah Arjun dan Rayyan. "Jangan mengumbar kata-kata manis untuknya, dia adalah kekasih ku, dan hanya aku yang berhak memujinya." Ucap Ardhian dengan senyuman mematikannya, membuat tiga orang pria yang berada dihadapannya membulatkan mata.


"Ckh ! Kami tidak berniat untuk merebutnya dari mu Ar ! Huh, Terlalu posesive !" Ketus Rayyan, seraya menggigit sandwichnya dengan lahap.


Rasya tak memperdulikan perdebatan para pria itu, ia hanya fokus menghabiskan sandwichnya dengan lahap. Ardhian tersenyum kearahnya, dan membelai pucuk kepala Rasya.


"Ckh ! TUHAN ! Tolong bantu aku, kirimkan aku seorang kekasih agar bisa membalas perbuatan Ardhian yang suka pamer." Ucap Arjun dengan suara keras, Pandu dan Rayyan yang sependapat denganya langsung memeluk Arjun.


"Kau tidak sendirian anak muda !" Ucap Pandu, mereka bertiga berpelukan seperti telletubies. Rasya tersenyum melihat ketiga pria itu, dan ia mengalihkan pandangannya kearah pria yang berada disampingnya.


γ€€


"Albert ! Aku rasa ...." Ucap professor beekumis tebal yang langsung dipotong oleh professor Albert.


"Kerja bagus ! Tidak sia-sia aku menyerahkan proyek ini untuk kalian." Ucap Professor Albert, yang diangguki oleh professor berkacamata bulat dengan kepala yang botak licin.


Setelah ketiga professor itu meninggalkan ruang penelitian tersebut, Rayyan memeluk Pandu dan Arjun secara bergantian, mereka terlihat sangat bahagia dengan jawaban yang diberikan oleh professor Albert. Ardhian tersenyum melihat teman-temannya.


Rasya berjalan menghampiri Ardhian, ia memperlihatkan sebuah senyuman yang sangat manis dihadapan pria itu. Rasa gugup yang tadi menyelimutinya kini sirna sudah berganti dengan senyum kebahagiaan.


Ardhian memperhatikan jam tangannya. "Ini sudah jam makan siang !" Ucap Ardhian, membuat ketiga pria itu tersenyum lebar dengan memperlihatkan giginya.


Rasya menganggukkan kepalanya, karena perutnya juga sudah terasa lapar, dan sudh minta untuk segera diisi.


"Kau ingin makan dimana nona !" Ucap Ardhian ada Rasya.


"Emm, bagaimana jika kita makan siang dikantin kampus saja. Aku belum membereskan barang-barang ku untuk berangkat besok." Ucap Rasya.


"Kau benar kakak ipar ! Lagi pula kita belum pernah mencicipi makanan yang berada dikantin. Aku ikut dengan mu kakak ipar !" Ucap Arjun bersemangat, diikuti anggukan dari Rayyan dan Pandu.


Mereka berlima segera berangkat menuju salah satu kantin kampus, tempat biasa Rasya dan teman-temannya makan siang.


Suasana didalam kantin itu terlihat cukup ramai, dan sangat riuh. Namun seketika suasana berubah menjadi hening, saat lima orang mahasiswa menginjakkan kaki kedalam kantin itu.

__ADS_1


Semua pandangan tertuju kearah pintu masuk. Ardhian, Rasya, Rayyan, Pandu, dan Arjun masuk kedalam ruangan itu. Bahkan beberapa diantara mereka berlarian, mengerumuni Ardhian dan teman-temannya.


Pandu, Rayyan, dan Arjun bergaya disamping Ardhian. Ketiga pria itu bergaya dengan pose masing-masing berusaha untuk memperlihatkan ketampanannya.


Rasya merasa kurang nyaman, dengan keberadaan orang-orang yang berkerumun menatap kearah mereka, hingga membuatnya menundukkan kepala.


Ardhian yang menyadari ketidak nyamanan Kekasihnya itu, langsung menggenggam tangan Rasya, dan membawanya berjalan masuk kearah antrian untuk mengambil makanan.


Genggaman tangan Ardhian mampu menghangatkan hati gadis cantik itu, sehingga membuatnya merasa tenang, dan mengesampingkan semua keadaan yang kurang mengenakan itu.


Suasana dipintu masuk mendadak sepi, karena para mahasiswa itu telah bubar, sejak Ardhian melangkah pergi meninggalkan mereka dengan menggandeng tangan Rasya.


Tiga orang pria itu segera berlari mengejar Ardhian dan Rasya setelah kerumunan mahasiswa-mahasiswa itu pergi meninggalkan mereka.


*****


Sebuah meja yang terletak dibagian tengah kantin itu, telah terisi oleh Rasya, Ardhian, dan teman-temannya. Mereka tengah menyantap makan siang dengan begitu lahapnya, mencoba untuk mengisi ulang energi yang telah mereka kuras selama beberapa hari terakhir, agar tenaga mereka segera pulih, dan kuat untuk perjalanan ke Beijing besok


Keberadaan mereka berlima didalam kantin itu membuat heboh website kampus, dan telah menjadi tranding topic. Ada diantara mereka yang mengagumi kekompakkan mereka berlima, ada juga yang berhayal ingin menjadi seorang Rasya yang dikelilingi oleh pria tampan, bahkan banyak juga diantara mereka yang merasa iri dan tidak suka dengan kehadiran Rasya diantara pria tampan itu. Apalagi sekarang mereka masih belum bisa menerima kenyataan jika Rasya merupakan kekasih Ardhian.


γ€€


Rasya mengalihkan pandangannya, menatap kearah sumber suara, senyuman manis terukir diwajahnya. "Lana !" Ucap Rasya menatap seorang gadis yang tersenyum kearahnya.


"Hay !" Ucap tiga orang pria itu dengan kompak, Lana membalasnya dengan senyuman ramah.


"Kau sendirian ? Duduklah !" Ucap Rasya menawarkan Lana untuk bergabung dimeja mereka. Gadis itu menerima tawan Rasya denhan senang hati, ia duduk disebuah kursi kosong yang berada disamping Pandu, tepat berhadapan dengan Rasya.


"Apakah aku tidak mengganggu kalian, jika bergabung dimeja ini ?" Tanya Lana dengan mengedarkan pandangannya kearah para senior.


"Tentu tidak junior, semua orang yang berteman dengan kakak ipar, adalah teman kami juga." Ucap Arjun ramah dengan senyumannya.


"Kakak ipar ?" Ucap Lana.


"Emmm" Gumam Arjun dengan mulut yang dipenuhi makanan. "Makanlah Lana, tidak usah dengarkan ucapan senior bermulut manis itu." Ucap Rasya mengalihkan pembicaraan dengan melirikkan pandangannya kearah Arjun.


Pandu menatap kearah Rasya, dengan senyuman nakalnya. "Ckh, kau selalu memotong pembicaraan ku kakak ipar ! Junior, siapa nama mu tadi ? Eee..." , "Lana !" Ucap gadis itu dengan senyumannya.


"Emm, Lana ! Apakah kakak ipar kami bersikap baik dengan mu diasrama ?" Tanya Arjun dengan melirikkan matanya kearah Rasya.

__ADS_1


Gadis itu menatap kearah Rasya. "Emm, Rasya merawat kami dengan baik." Ucapnya dengan senyuman. Membuat Rasya memperlihatkan senyuman nakalnya kearah Arjun.


"Sudahlah Arjun, kau tidak akan pernah bisa melawan kakak ipar kami !" Rayyan tersenyum dan mengangkat tangannya sebagai tanda tos dari jarak jauh dengan Rasya, dan Rasya melakukan yang sama untuknya.


Ardhian memberikan sepotong udang goreng berukuran besar yang telah ia bersihkan untuk Rasya. "Makanlah sayang ! Kau telah banyak berjuang akhir-akhir ini !" Ardhian mengusap pucuk kepala Rasya, membuat wajah gadis itu merona dan berwarna sama dengan udang yang akan ia makan.


Lana menatap tajam kearah mereka berdua.


"Sayang ? Emm, apakah Rasya dan kak Ardhian telah jadian ?" Batin Lana seraya menikmati makan siangnya.


"AR ! Kau masih memiliki hutang pada kami ! Kapan kau akan mentraktir kami makan-makan sebagai perayaan hubungan mu dengan junior ?" Ucap Rayyan yang memancing senyum nakal dari bibir Arjun dan Pandu.


Rasya menatap kearah Ardhian, membuat mata mereka kembali bertemu. "Hmm, kita akan merayakannya sepulang dari beijing !" Ardhian tersenyum kearah gadis cantik itu.


"YES !" Pekik ke-tiga pria itu dengan kompak. Mereka bertiga memasang senyum misterius yang sangat mencurigakan.


Lana hanya terdiam, tanpa berani bersuara. Ia hanya fokus dengan makan siangnya, seraya mendengarkan pembicaraan mereka. Sesekali matanya melirik kearah Ardhian dan Rasya, yang terlihat sangat romantis dan hangat. Ardhian mengupaskan kulit idang untuk Rasya, dan sesekali menyuapi gadis cantik itu. Membuat siapapun yang melihat tingkah mereka akan merasa iri.


"Triiiiing"


Mereka baru saja menyelesaikan makan siang, dan bersiap untuk kembali ke asrama masing-masing. Namun tiba-tiba handphone Ardhian berdering, pria itu segera mengangkat panggilan masuk di handphone itu, dan berbicara dengan serius.


"Professor Albert telah menunggu kita diruangannya !" Ucap Ardhian setelah mematikan panggilannya.


Rasya yang sudah berjanji pada Lana untuk pulang ke asrama secara bersama-sama terpaksa harus membatalkannya. "Lana maafkan aku !" Ucap gadis itu dengan wajah tak enak hati.


"Aku tidak apa-apa Rasya, pergilah ! mungkin itu sesuatu yang penting !" Ucap Lana dengan senyum tipis, Rasya menganggukkan kepalanya dan mengusap lengan Lana sebentar, lalu pergi meninggalkan sahabatnya itu sendirian.


*****


Mereka berlima telah berada didalam ruangan professor Albert. Pria tua itu memberikan lima buah tiket untuk mereka berlima dan sebuah paspor milik Rasya.


Setelah selesai dari ruangan professor Albert mereka semua kembali ke asrama untuk segera menyiapkan perlengkapan yang mereka butuhkan, dan istirahat yang cukup agar mereka kuat untuk mengikuti olimpiade itu. Sedangkan Ardhian setelah mengantar Rasya kembali keasramanya, pria itu pulang menuju rumahnya dengan mengendarai mobilnya yang ia parkirkan dihalaman asrama pria.


***Hallo Readers***


Terimakasih atas dukungannya untuk novel "KEKASIH ONLINE" dan tetap setia dukung novel ini terus ya ! Jangan lupa like, coment, and share novel ini ya.


Salam manis dari Rasya dan Ardhian πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


Oh iya hampir aja kelupaan, jangan lupa untuk VOTE novel ini juga ya..


Bye Bye and See u next timeπŸ€—πŸ€—


__ADS_2