
Dina berlari mendekat kearah tempat tidur itu. Air matanya mengalir dengan deras, menatap seorang gadis yang sangat ia kenali. Seorang gadis yang telah Dina anggap lebih dari seorang sahabat, gadis yang lebih berharga dibandingkan nyawanya sendiri.
Gadis itu tengah terbujur lemah tak berdaya dengan wajahnya yang sangat pucat.
Dina mengusap wajah Rasya, hatinya bagaikan teriris pisau, melihat Rasya yang biasanya ceria, kini tertidur dengan mata yang sembab.
"Apa yang terjadi pada Rasya ?" Pekik Dina seraya menatap tajam kearah Galih dan Ardhian.
Galih berjalan mendekat kearah Dina, merengkuh gadis itu kedalam pelukkannya, mencoba menenangkan hati Dina yang tengah berkecamuk.
"Sebaiknya kita membicarakannya diruang tamu, agar istirahat Rasya tidak terganggu." Ucap Ardhian.
Galih menganggukkan kepalanya, dan mengajak Dina untuk segera bangkit.
Dina mengusap wajah Rasya sebentar, lalu berjalan meninggalkan kamar itu. Mengikuti langkah kaki Galih dan juga Ardhian menuju ruang tamu.
*****
Dina duduk disebelah Galih, dan tak lama kemudian Ardhian datang dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas air hangat.
"Minumlah terlebih dahulu !" Ucap Ardhian.
"Apa yang sebenarnya terjadi ada Rasya ?" Tanya Dina.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya diperpustakaan, dan seseorang berusaha untuk mencelakainya." Ucap Ardhian.
"Perpustakaan ? Bagaimana mungkin ! Sewaktu aku ingin keluar dengan Galih, Rasya sedang tertidur diasrama." Ucap Dina.
Ardhian menganggukkan kepalanya, kemudian ia menceritakan kejadian yang dialami Rasya sewaktu diperpustakaan tadi kepada Dina.
Tangan Dina mengepal dengan kuatnya, batinnya sangat teriris mendengar apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Alfa ! Pria culun itu berani beraninya mencari masalah dengan ku !" Ucap Dina dengan dendam yang membara.
__ADS_1
"Aku sudah meminta Rayyan, Pandu, dan Arjuna untuk mencari Alfa. Namun pria itu berhasil menyelamatkan diri." Ucap Ardhian.
"Galih ! Aku teringat beberapa hari yang lalu Rasya merasa ada yang mengikutinya sewaktu ia pulang dari perpustakaan seorang diri, dan ku juga sempat melihat ada seseorang yang sengaja menjatuhkan pot bunga kearah Rasya digedung kuliah, beruntungnya aku sempat berlari untuk menyelamatkannya." Ucap Dina menceritakan kejadian kejadian yang belakangan ini menimpa Rasya.
"Huem, sepertinya kita harus meningkatkan kewaspadaan dan jangan membiarkan Rasya berpergian seorang diri." Ucap Galih.
Dina menatap ke arah jam tangannya. "Sudah larut malam, bagaimana ini ! Pintu asrama asti sudah terkunci." Ucap Dina.
Sebaiknya malam ini tidak usah kembali keasrama dulu, aku takut hal ini diketahui banyak orang, dan akan membuat Rasya semakin tertekan. Kau bisa tidur dengan Rasya dikamar itu. Sedangkan aku dan Galih akan tidur dikamar yang lainnya.
Dina dan Galih menyetujui tawaran Ardhian, Dina tidur bersama Rasya, sedangkan Ardhian tidur bersama Galih.
"Brother, terimakasih karena kau telah menyelamatkannya !" Ucap Galih seraya merangkul bahu Ardhian.
"Hmmm, tapi aku curiga jika Alfa tak sendirian melakukan semua ini." Gumam Ardhian.
"Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu. Tenanglah ! Aku akan menyuruh orangku untuk menyelidikinya. Bagaimanapun juga aku telah menganggap Rasya sebagai adikku." Ucap Galih.
*****
"Huuufth lelah nya, orang orang itu terlalu bersemangat latihan drama ini, seperti tidak ada hari esok saja." Gumam Tiara.
"Bagaimana Lana ? Apakah kau telah memutuskan untuk ikut bersamaku bermain teater ?" Tanya Tiara.
"Hmm aku sedikit tertarik setelah melihat latihan kalian tadi, tapi ku takut Tiara. Kau tau kan aku selalu gugup ketika berhadapan dengan orang yang belum kukenal." Jawab Lana.
"Hmm pikirkanlah Lana ! Kurasa teater akan semakin menyenangkan jika kau bergabung bersama didalamnya." Ucap Tiara seraya tersenyum.
Tiara yang tengah berbaring, tiba tiba membuka matanya, dan segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Mengapa kamar ini terlihat sepi ?" Gumam Tiara.
"Hmm ?" Gumam Lana dan menekuk alisnya.
__ADS_1
Tatapan kedua gadis itu, mengarah keseluruh isi kamar. Kamar itu terlihat kosong, tak ada siapapun lagi selain mereka berdua.
Lana langsung bergerak menuju kamar mandi, dibukanya pintu kamar mandi itu, dan memasukkan kepalanya kedala. "Disini juga tidak ada siapapun !" Ucap Lana.
"Kemana Dina dan Rasya ?" Ucap Tiara.
Lana menggelengkan kepalanya. "Mereka berdua tak ada mengatakan apapun dengan ku." Ucap Lana.
"Coba hubungi mereka berdua ! Entah mengapa pikiran ku menjadi tidak tenang." Ucap Tiara.
Lana pun segera menuruti perintah Tiara untuk menghubungi Dina dan Rasya.
"The number your calling is not active, please try again letter." Suara dari handphone Lana ketika dia menghubungi Rasya.
"Nomor Rasya tidak bisa dihubungi Ra !" Ucap Lana dengan wajah resahnya.
"Bagimana dengan nomor Dina ?" Tanya Tiara.
Lana segera menggulir kontak dihandphonenya mencari nama Dina, setelah menemukannya ia langsung menghubungi nomor Dina.
"Hey aku belum siap berbicara ! Mengapa kau matikan panggilannya." Teriak Tiara ketika Dina menutup panggilan itu secara sepihak.
"Bagaimana Tiara ? Apakah Dina baik baik saja ?" Tanya Lana.
"Hmm tentu dia akan baik baik saja, bahkan dia tidur dirumah pangerannya itu !" Ucap Tiara kesal.
"Hmmm lalu, bagaimna dengan Rasya ?" Ucap Lana ragu.
"Rasya juga ada bersamanya, mungkin mereka makan malam bersama tadi. Huuufth, setidaknya sekarang hati ku lega mereka berdua baik baik saja. dan sebaiknya kita tidur sekarang, mataku sudah sangat berat dan tubuhku juga terlalu lelah." Ucap Tiara dan langsung tertidur meninggalkan Lana yang masih penasaran.
"Hey ! Kau belum membersihkan wajah mu Tiara ! Jangan tidur dulu !" Pekik Lana seraya menggoyang goyang tubuh Tiara.
__ADS_1
Akan tetapi Tiara tidak menggubris ucapan Lana, suara dengkuran telah berhasil lolos dari bibirnya.
"Huuuem, Dasar tukang tidur !" Ucap Lana kesal dan segera berlalu kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya.