Kekasih Online

Kekasih Online
EPISODE 41


__ADS_3

Matahari telah terbit dari ufuk timur, membuat sinarnya menusuk masuk melalui tirai jendela kamar. Perlahan namun pasti Rasya mulai membuka matanya. "Uuuunchh" gumamnya, mulai meregangkan badannya.


Dina yang sedang membuat sarapan bersama Tiara dan Lana, tersenyum kearah Rasya. "Kau sudah bangun ?" Ucap Dina seraya berjalan kearah tempat tidur Rasya. Tangannya ditempelkan dikening Rasya, merasakan sisa sisa hawa panas yang masih bersemayam ditubuh gadis itu. "Kau masih ada sedikit demam Sya, sebaiknya kau istirahat hari ini, nanti sepulang ujian aku akan membawamu kedokter."


Rasya menyentuh keningnya sendiri, apa yang diucapkan Dina memang benar, dia juga merasakan hawa panas itu, bahkan tubuhnya juga belum pulih sempurna. "Hmmm, ini tinggal sisa sisanya Dina, aku tidak mungkin istirahat dirumah hari ini, aku ada ujian mulai pukul sepuluh." Rasya tersenyum seraya menggenggam tangan Dina, ia mencoba untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Ckh ! Gadis keras kepala !" Gumam Dina namun masih terdengar oleh Rasya. "Baiklah aku akan membiarkan mu mengikuti ujian, asalkan kau berjanji untuk langsung pulang keasrama setelahnya." Ucap Dina seraya berjalan kearah lemari pakaiannya, dan mengambil sebuah papper bag. "Ini untukmu ! didalamnya sudah ada sim card, jadi kau harus menghubungi ku okey !" Ucap Dina memberikan sebuah handphone keluaran terbaru untuk gadis itu.


 


"Emmm, hari ini soal soalnya terlalu mudah, jadi aku bisa menyelesaikannya dengan cepat." Ucap Tiara berbohong, sebenarnya dia tidak membaca soal soal pilihan ganda itu tadi, namun ia menutup matanya agar bis cepat menyelesaikannya dan berlari keruangan ini.


Demikian juga dengan Lana, yang melihat Tiara keluar dengan terburu buru, ia juga menyelesaikannya dengan cara yang sama seperti Tiara. Dia tak sanggup berpikir lama lama, lebih baik ia mengambil jalan pintasnya saja.


Dina berjalan kearah Rasya, dn mencoba menyentuh kening gadis itu. "Kau masih demam Sya ! Bagaimana jika kita kedokter ?" Tanya Dina dengan suara pelan. Ia sangat khawatir dengan keadaan sahabat plus saudara angkatnya itu.


"Emm, aku hanya butuh istirahat saja Dina, tak perlu terlalu khawatir." Ucap Rasya menenangkn gadis itu.


"Emm, baiklah Lana, Tiara ! Tolong bawa gadis ini kembali keasrama, biar aku saja yang antri untuk mengambil makan siang, apa kalian ada pesanan ?" Tanya Dina.


"Aku ingin kau membelikanku susu kedelai, otak ku butuh asupan setelah berkerja keras akhir akhir ini." Ucap Lana.


"Dan kau Rasya ?" Tanya Dina.


Rasya menggelengkan kepalanya. " Aku sedng tidak berselera, cukup ambilkan makanan dari kantin saja." Jawabnya.


"Emmmm, aku ingin...," Belum sempat Tiara mengutarakan hayalannya namun ucapannya itu telah dipotong oleh Dina.


"Ssstt ! Aku tau hayalan mu itu nona ! Jadi cukup pilih salah satu saja !" Tegas Dina, Dina sudah bis menebak isi pikiran Tiara, dan gadis itu pasti ingin mengutarakan keinginannya yang sangat banyak.


"CKH ! Kau menyebalkan." Ucap Tiara.


"Aku tau isi hatimu Tiara, baiklah ! Aku akan membelikan salah satu keinginanmu itu. Bye !" Ucap Dina meninggalkan tiga sahabatnya.


"D-I-N-Aaaaaaaa" Teriak Tiara. "Huufh, gadis itu menyebalkan !" Omelnya lagi.


*****


Rasya telah selesai makan siang bersama teman temannya, ia tengah fokus belajar. Namun tiba tiba telephone kamar asrama itu berdering.


"Kriiiiing Kriiiing Kriiiiing"


Rasya segera berjalan kearahnya dan mengangkat panghilan itu.


"Hallo !"


[........................]


"Iya Saya !"


[...........................]


Bibir Rasya mengembang, mendengarkan sipenelephone itu berbicara padanya, memancing Tiara, Dina dan Lana untuk berdiri disebelahnya, mencoba untuk menguping isi panggilan itu.

__ADS_1


"Emm bisakah saya memberikan keputusannya, seteoah menghubungi teman teman saya terlebih dahulu ? Karen vidio itu bukan milik saya sendiri."


[.................................]


"Emm, baiklah ! Terimakasih" Ucap Rasya dan segera menutup panggilan itu.


"YES !" Pekik Rasya girang seraya tersenyum kearah tiga sahabatnya, dan segera memeluknya.


"Hey apa yang terjadi ? Vidio apa yang dimaksud ?" Tanya Tiara.


"Aku membuat vidio kompetisi bersama teman teman ku digame, dan dikarenakan vidio itu banyak yang menyukainya, maka pihak game ingin membelinya dari ku." Rasya menjelaskan semuanya kepada tiga orang itu.


"Uppps, aku harus segera menghubungi master !" Ucap Rasya yang segera bergerak menuju meja belajarnya, dan membuka Laptop yang sudah jarang ia sentuh akhir akhir ini.


Sedangkan Dina, Lana dan Tiara hanya bisa menatap heran kearahnya, dan kembali fokus dengan aktivitas masing masing.


🏥POV ARDHIAN🏥


Sinar matahari yang sangat terik, telah menembus tirai jendela yang tipis. Disebuah ruangan rumah sakit, terlihat tiga orang pria yang tengah menunggu sahabatnya bangun dari tidur panjangnya.


Ya ! Pria yang sedang berbaring doatas ranjang rumah sakit itu adalah Ardhian, kecelakaan itu membuat Ardhian tidak sadarkan diri selama kurang lebih tiga hari.


 


 


"Aku sempat mengira kau tidak akan sadar lagi Ar ! Jika kau mati, kasihan kakak ipar akan menjadi janda." Ucap Arjun dengan seringai nakalnya.


"Willend ?" Gumam Ardhian.


"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Ardhian.


"Kurang lebih tiga hari Ar !" Ucap Pandu.


"Itu artinya ...." Ucap Rayyan terpotong.


"Pertandingan final ?" Pekik Pandu.


"Arjun, kau membawa laptop mu ?" Tanya Ardhian.


Arjun menganggukkan kepalanya, dan segera mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tas ranselnya.


"Tolong konect kan akun mu, dan segera kirim pesan otomatis ke ponsel ku, jika sewaktu waktu Willend online." Ucap Ardhian, dan dibalas anggukkan oleh Arjun.


Arjun segera menghidupkan laptopnya dan menjalankan tugas yang diberikan Ardhian.


*******


"Sudahlah Marisa !" Ucap Rendi yang tak ingin istrinya mengoceh panjang lebar ditempat itu. "Nak ! Kami harus segera kembali kerumah terlebih dahulu, aku yakin wanita ini telah lelah karena berjam jam duduk didalam pesawat." Ucapnya pada Ardhian.


"Emm, Kau benar Pa ! Aku tak ingin wanita ini tidak cantik lagi, karena kurangnya jam istirahat. Dia tidak akan cocok jika diwajahnya terdapat garis garis keriput." Ucap Ardhian menggoda mamanya.


Marisa swgera tersenyum menatap putra kesayangannya. "Cepat pulih, agar wajah ku tidak menua karena stres memikirkan mu nak!" Ucapnya seraya memberikan kecupan dikening anaknya itu.

__ADS_1


*****


"Aku pesan empat mangkuk nasi putih, satu porsi sup ayam, rebusan sayuran hijau, dan susu kacang kedelai." Ucap Pandu seraya membaca menu disebuah resotoran.


"Ckh kau hanya pesan itu Ndu ? Kau tidak ingin memesan daging ?" Tanya Arjuna.


"Aku takut tabungan ku tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit Ardhian." Ucap Pandu dengan kepala yang menunduk.


"Kau tidak perlu membayar biaya rumah sakit Ndu ? Bukankah Ardhian biayanya sudah ditanggung pihak asuransi." Ucap Rayyan.


Pandu mengangkat kepalanya, menatap kearah Rayyan. "Maksudmu ?" Tanya Pandu.


"Huh, Kau tahu keluarga Ardhian seperti apa kan ? Mereka pasti telah menggunakan asuransinya, dan juga om Rendi dan tante Marisa pasti tidak akan membiarkan mu membayarnya." Ucap Rayyan.


"Tapi ....," gumam Pandu terpotong.


"Tidak ada tapi tapian Ndu, lebih baik uang mu kau gunakan untuk memesan makanan yang bergizi untuk my btother, dan perut kita tentunya." Ucap Rayyan.


"Emm, baiklah ! Tambahkan steak daging empat porsi." Ucap Pandu kepada pelayan restoran itu.


""""""""""""""


Pandu menghentikan langkah kakinya didepan asrama, dia membalikkan badannya, menghadap kearah Arjun dan Rayyan yang berjalan dibelakangnya.


"Ada apa Ndu ? Apakah adanyang ketinggalan ?" Tanya Rayyan.


Pandu memberikan kantung kantung yang berisi makanan itu kepada Arjuna dan Rayyan. " Aku tidak berani menjumpai Ardhian, aku merasa berasalah terhadapnya." Ucap Pandu dengan air mata yang berlinang.


"Ardhian tidak akan memarahimu Ndu ! Kita berempat sudh berteman sejak lama, bahkan sudah seperti saudara ! Sebaiknya kau hapus air mata mu itu, dan segera masuk kedalam, untuk merawat Ardhian !" Ucap Rayyan.


Pandu menganggukkan kepalanya. "Kau benar Ray ! Aku harus menebus kesalahan ku dengan merawat pria itu. Kalian memang teman ku !" Ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Rayyan dan Arjun.


Kedu pria itu mengelak dan lari dari pelukkan Pandu. "Aku tidak sudi dipeluk pria cengeng yang seperti wanita." Ucap Arjun seraya berlari.


"KALIAN !" Terik Pandu kepada dua orang yang telah meninggalkannya.


*******


"Kau sedang apa Ar ?" Tanya Arjun, yang baru saja kembali dari luar bersama Rayyan dan Pandu.


"Melihat Willend !" Ucap ardhian singkat.


Tiga orang pria yang sedang menyusun makanan diatas meja tersentak, mereka saling menatap dan kemudia berhamburan mendekat kearah Ardhian.


.


***Hallo Readers***


Terimakasih atas dukungannya untuk novel "KEKASIH ONLINE" dan tetap setia dukung novel ini terus ya ! Jangan lupa like, coment, and share novel ini ya.


Salam manis dari Rasya dan Ardhian 🤗😘


Oh iya hampir aja kelupaan, jangan lupa untuk VOTE novel ini juga ya..

__ADS_1


Bye Bye and See u next time🤗🤗


__ADS_2