Kekasih Online

Kekasih Online
EPISODE 35


__ADS_3

"Hhuuuuh" Ardhian menarik nafasnya, dan menatap mata Rasya. "Mengapa kau tak menghubungiku jika berkas berkasnya sebanyak ini ? Maafkan aku, aku tak mengira jika profesor Albert akan memberikan sebanyak ini." Ucap Ardhian.


"Hmm tidak masalah senior, Hmmm tadi profesor Albert bilang pendaftaran kira sudah terverivikasi, dan hanya tinggal menunggu waktu saja, namun Prof. Albert tidak bisa membntu kita untuk beberapa waktu ini, karena beliau harus berangkat keluar kota." Ucap Rasya seraya tersenyum.


"Emmm" gumam Ardhian seraya menganggukkan kepalanya.


Suasana ruangan itu kembali hening, karena tak ada satu pun dari sepasang manusia itu yang berani mengeluarkan suara. Rasya fokus dengan komputernya, demikian jug dengan Ardhian yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu.


Setelah dua jam lebih rungan itu hening, Ardhian menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan pandangannya kearah Rasya. "Emm, Aku harus menjumpai seseorang sebentar lagi, apakah tidak apa apa jika kau sendirian disini Rasya ?" Rasya menatap kearah Ardhian, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Mereka bertiga tidak bisa hadir hari ini, karena harus mengejar beberapa mata kuliah." Timpal Ardhian lagi.


Rasya tersenyun tipis kearah pria itu. "Aku tidak masalah jika harus sendirian disini, dan aku masih harus mengerjakan beberapa hal senior." Ucapnya.


"Emm" gumam Ardhian menganggukkan kepalanya. "Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Ucapnya lagi dan segera bangkit dari tempat duduknya.


Ketika Ardhian ingin melangkah keluar dari ruangan itu Rasya kembali memanggilnya. "Senior !" Ucapnya dengan ragu.


Ardhian membalikkan tubuhnya, dan menatap kearah gadis itu, ia mengangkat kedua alisnya, untuk mencari jawaban dari Rasya.


"Eee, apakah boleh jika aku memakai ruang perpustakaan itu untuk mengerjkan sesuatu ? Aku perlu beberapa refernsi untuk sebuah jurnal." Ucap Rasya seraya menunjuk sebuah ruangan yang ada didalam ruangan tersebut.


Ardhian melangkahkan kakinya, berjalan mendekat kearah gadis itu. Membuat jantung Rasya berdebar tak menentu, ia sangat gugup berada didekat Ardhian.


Ardhian mendekat kearah Rasya, ia menundukkan bedannya membuat jarak diantara mereka semakin dekat dan hanya terpisah beberapa sentimeter saja.


Rasya semakin gugup, tubuhnya menegang, ia sedikit memundurkan kepalanya, berusaha agar pria itu tidak mendengar deruan nafasnya yang memburu.


Sepersekian detik kemudian, Ardhian membuka sebuh laci kecil yang berada dimeja Rasya, dn mengeluarkan sebuah anak kunci.

__ADS_1


"Ini kunci ruangan itu, kau bisa menggunakannya, dan harap kunci kembali setelah kau selesai." Ucap Ardhian yang memberikan anak kunci itu kepada Rasya.


Rasya mengambil anak kunci yang diberikan oleh sang idola kampus itu, dengan tangan yang gemetaran. Ia sangat gugup dengan posisi yang sangat dekat ini.


Ardhian dapat melihat wajah gadis itu bersemu merah, ia merasa senang behkan didalan hatinya telah mengembang dan bersorak kemenangan, karena berhasil mengerjai gadis itu.


Dengan senyum tipis yang tidak dapat disadari oleh Rasya, Ardhian meneggakkan tubuhnya kembali, dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, tanpa memberikan sepatah katapun.


"Huuuuuh" Rasya menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan, seraya mengipas ngipas wajahnya yang terasa panas. "Hampir saja jantung ku lepas, Rasya kenapa kau bisa salah tingkah seperti ini." Gumam Rasya seraya mengusap usap dadanya.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, pandangan gadis itu fokus kepada tangan kanannya yang tengah menggenggam sebuah anak kunci.


Bibirnya melengkung keatas, mengguratkan senyuman tipis namun manis. "Huh, gara gara kau jantung ku hampir rusak karena telah berdetak terlalu kencang. Lihat saja aku akan menghabiskan waktu dirungan itu, hehe pasti diruanganmu banyak buku buku, aku sudah tidak sabar untuk memanfaatkannya." Gumam Rasya seraya menatap anak kunci yang telah diapit oleh ibu jari dan jari telunjuknya.


*****


Willend dengan terpaksa menembakkan busur busur panahnya, untuk menghabisi lawan. Ia tak melihat keberadaan Pradiktan, namun pria itu mengetahui keberadaan sang kekasih yang berada dibarisan terdepan.


Willend melepaskan sebuah anak panah, hingga tepat mengenai sasaran, seorang pria bertopeng itulah yang menjadi sasarannya, pria itu melepaskan anak panah yang menusuk lengannya, dan membuat darah itu mengalir keluar.


Arjuna yang melihat sahabatnya terluka naik pitam, ia memandang tajam kearah seorang gadis yang telah melukai sahabatnya itu. Ditariknya busur panahnya, dan bersiap untuk membalas perbuatan gadis itu.


Pria yang tadi terluka tertusuk anak panah itu, panik dan mencoba untuk mencegah Arjuna, namun Arjuna tak memperdulikannya, ia tetap ingin menghujani anak panahnya.


Anak panah yang pertama berhasil melesat, demikian juga dengan yang keduat, hujan panah yang ditembakkan oleh Arjuna belum berhasil mengenai Willend.


Akan tetapi Arjuna tak menyerah begitu saja, ia bersiap untuk menembakkan anak panah yang ketiga.


"Ceeessss"

__ADS_1


Sebuah anak panah berhasil menancap ditubuh seseorang.


Arjuna tersentak, begitu melihat seseorng yang terkena sasarannya, ia terdiam tubuhnya tak bisa lagi digerakkan, kaki kaki nya melemas hingga membuat ia terjatuh.


Air mata Willend mengakir deras ketika mengetahui seorang pria yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Willend adalah kekasihnya Pradiktan. Pria itu juga yang tadi menjadi sasaran anak panah Willend.


Willend terjatuh, ia bersimpuh memeluk tubuh pria yang tengah sekarat itu.


"Pradiktaaaaan !" Teriak Willend histeris, ia menatap wajah kekasihnya itu, tubuhnya yang telah berlumuran darah membuat hati Willend teriris, ia menyesal dengan semua itu.


"Masfkan aku" Ucapnya dalam isak tangis yang histeris.


Pradiktan menatap wajah kekasihnya itu, tangannya yang sedari tadi memegang dadanya yang tertancap anak panah, kini berusaha untuk merengkuh wajah Willend. "Kau tidak salah Willend, memang sudah takdir kita seperti ini. Aku sangat mencintaimu, jangan menangis, aku tak sanggup melihatmu bersedih. Aku akan menunggumu dikehidupan yang selanjutnya." Ucap pria itu dengan suara yang terbata bata karena ia sangat sulit untuk berbicara. Anak panah itu berhasail membuatnya melemah. Namun pria itu tetap berusaha tersenyum menatap wajah sang kekasih seraya berusaha mengusap air mata Willend yang membanjiri pipinya, dengan tangan Pradiktan yang telah berlumuran darah. Perlahan tangan pria itu melemah, dan kembali nemegang dadanya yang terasa sakit.


γ€€


Dengan tubuh lunglai Willend berusaha mengambil sebuah pedang yang ia sangkutkan ditubuhnya, dengan bersimpuh dihadapan sang kekasih, Willend mengangkat pedang itu, dan mengarahkanya kearah tubuhnya sendiri.


"Aku sangat mencintaimu Pradiktan, untuk apa aku hidup, jika satu satunya alasan ku untuk hidup telah pergi. Aku akan menyusulmu sayang !" Ucap Willend dalam isak tangisnya, ia segera menusuk tubuhnya dengan pedang itu, dan ajal menjemputnya.


***Hallo readers πŸ€—***


Terimakasih atas dukungannya untuk novel "KEKASIH ONLINE" dan tetap setia dukung novel ini terus ya ! Jangan lupa like, comennt, and share novel ini ya.


Salam manis dari Rasya dan Ardhian πŸ€—πŸ˜˜


Oh iya hampir aja kelupaan, jangan lupa untuk VOTE novel ini juga ya..


Bye Bye and See u next timeπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2