
Matahari telah terbenam, rembulan mulai menampakkan kekuasaannya dilangit malam, ditemani para bintang yang berkelap kelip bertaburan membentuk rasi yang sangat indah. Kamar 304, istana keempat gadis itu diselimuti oleh suasana hangat, yang dipenuhi canda tawa dari keempat wanita cantik itu.
Rasya, Tiara, Lana, dan Dina sedang duduk dimeja makan, menikmati makan malam mereka dengan penuh keakraban. Tiara si pembuat keributan itu, menikmati posisinya sebagai seseorang yang sangat berperan dalam menyemarakkan ruangan tersebut.
"Tiara ! Itu sayap ayam ku !" Pekik Lana.
"Siapa suruh kau terlalu lama menghabiskannya, dari tadi sayap ayam ini telah meronta ronta untuk segera dimakan." Jawab Tiara santai seraya memasukkan sayap ayam itu kedalam mulutnya.
"Tiara ! Kau menyebalkan !" Teriak Lana.
"Ckh ! Bukan sayap ayam itu yang meronta-ronta, tapi perutmu Tiara !" Ucap Dina.
Tiara hanya membalasnya dengan senyuman seraya mengikuti gerakan bibir Dina yang sedang mengomelinya tanpa mau memberikan sayap ayam itu kepada Lana.
"Sudahlah, jangan rebutan ! Kau bisa mengambil sayap ayam milikku Lana." Ucap Rasya seraya tersenyum dan memberikan sayap ayamnya kepada Lana.
"Terimakasih Rasya ! Aku semakin menyayangimu." Ucap Lana.
"Cepat habiskan makananmu Lana, sebelum harimau ini merasa lapar dan merebutnya kembali." Ucap Dina menunjuk pipi Tiara.
"Itu bukan salah ku Dina ! Jika aku tidak membantunya menghabiskan makanan itu, bisa dipastikan makanan makanan lezat itu akan berakhir ditong sampah, karena dia telah merasa kenyang hanya dengan menatap handphonenya itu." Jawab Tiara santai.
"Apa yang sedang kau kerjakan Lana ? Mengapa sedari tadiaku melihatmu tidak pernah berhenti menatap layar handphone." Tanya Dina.
"Hmmm, apa kau sedang mempunyai kesulitan ?" Timpal Rasya.
"Emm, Tidak ada ! Aku hanya sedang fokus membca jurnal." Jawab Lana.
"Aku bisa membantumu jika kau merasa kesulitan, jangan sungkan sungkan Lana. Kita adalah sahabat, sudah sepantasnya untuk saling membantu." Ucap Rasya dengan lembut.
__ADS_1
"Ada apa dengan Lana ? Mengapa dia berubah menjadi seperti ini." Ucap Dina ketika gadis itu telah meninggalkan ruangan tersebut.
"Entahlah mungkin dia sedang butuh waktu untuk sendiri, sebaiknya kita berikan waktu untuk dia terlebih dahulu, nanti jika dia ingin menceritakannya pasti dia akan datang kembali." Jawab Rasya.
"Hmm Aku rasa apa yang dikatakan Rasya ada benar juga, mungkin Lana memang sedang ingin sendiri." Timpal Dina.
Mereka bertiga langsung membersihkan meja makan tersebut, baru setelah itu kembali sibuk dengan aktivitasnya masing masing, Dina sibuk dengan tugas kuliahnya, Tiara sibuk dengan media sosialnya, dan Rasya sibuk dengan jurnalnya.
"Triiiing." Suara handphone Dina berdering.
Dina menatap kelayar benda pipih itu, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal membuat gadis itu penasaran. "Nomor siapa ini. Sebaiknya aku mengangkatnya." Batin Dina.
"Hallo ?" Ucap Dina setelah menggeser tombol hijau dilayar handphonenya.
"Hmm apakah Rasya ada bersamamu ?" Ucap seorang pria yang menelpon Dina.
Dina terdiam sejenak, mencoba untuk menerka nerka siapa pria yang menelpon itu, dan mengapa dia menanyakan keberadaan Rasya.
"Eee Ya ! Rasya ada bersama ku." Jawab Dina ragu.
"Hmm bisakah kau memberikan handphone mu kepadanya !" Ucap pria itu.
"Duaaar !" Teriak Dina dan Tiara bersamaan, membuat Rasya terkejut, untuk saja handphone Dina telah ialetakkan diatas meja. Jika tidak dia pasti telah menjatuhkannya.
"Huuush Huuuush huuuush" Rasya mencoba untuk mengatur nafasnya seraya mengusap usap dadanya yang berdebar.
"Mengapa wajah mu memerah Sya ?" Ucap Tiara dengan seringai nakalnya.
"Siapa yang barusan menghubungimu ?" Timpal Dina.
__ADS_1
"Emmm, wajahku tidak memerah." Ucap Rasya malu mau.
"Hahaha kau bilang tidak merah ? Itu bukan hanya merah Rasya tapi sdah sangat merah, persis seperti kepiting yang direbus." Ucap Tiara.
"Hey ! Kau belum menjawab pertanyaan ku. Siapa yang menghubungi mu ?" Tanya Dina kembali.
"Oh itu ? Senior memberitahuku untuk menjumpai professor Albert besok." Jawab Rasya.
"Hanya itu ?" Tanya Dina tak percaya.
"Apakah kau berharap lebih Dina ?" Ucap Rasya dengan senyuman yang menggoda seraya memutar kembali kursinya menghadap kemeja belajarnya.
"Ckh ! Tentu itu tidak akan mungkin nona. Kau telah sering mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengannya namun tidaka ada sedikitpun kemajuan. Itu artinya ia tidak menyukaimu." Jawab Dina seraya kembali kemeja belajarnya untuk mengerjakan tugas tugasnya yang menumpuk.
"Eeem, Sya ! Apa senior memiliki seorang kekasih ?" Tanya Tiara penasaran.
Mendengar ucapan Tiara, Rasya kembali memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Tiara.
"Emmm, aku... aku... aku....!" Ucap Rasya terpotong.
"Aku, aku, aku apa Rasya ! Berhenti mempermainkan ku, aku serius menanyakannya kepadamu." Ucap Tiara kesal.
***Hallo readers π€***
Terimakasih atas dukungannya untuk novel "KEKASIH ONLINE" dan tetap setia dukung novel ini terus ya ! Jangan lupa like, comennt, and share novel ini ya.
Salam manis dari Rasya dan Ardhian π€π
Oh iya hampir aja kelupaan, jangan lupa untuk VOTE novel ini juga ya..
__ADS_1
Bye Bye and See u next timeπ€π€