
*****
Mentari pagi masuk melalui sela sela jendela yang temaram, silaunya berhasil membuat Rasya tergganggu dalam tidur lelapnya dan membuat gadis itu mengerjap ngerjapkan matanya. Mata yang masih sembab itu terbuka secara perlahan lahan.
Pandangan gadis itu berkeliling menyusiri isi ruangan tempat ia berada, matanya menatap kearah isi kamar yang
didominasi dengan warna hitam dan putih, sangat kontras dengan kamarnya diasrama.
“Dimana ini ?” Batin Rasya seraya terus mengingat ingat tentang apa yang telah terjadi semalam hingga ia berada ditempat ini.
Air mata kembali membasahi pipi gadis itu, ketika ia berhasil memulihkan secercah ingatannya. “Oh Tuhan ! Apa
******** itu ...” Ucap Rasya seraya menutup mulutnya dan tak sanggup untuk meneruskan gumamannya. Cairan bening terus mengalir dari pelupuk matanya.
“Cekleek”
Belum selesai ia dengan pikiran yang berkecamuk dikepalanya, pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing dengan potangan rambut sebahu, memasuki ruangan itu.
Rasya memokuskan pandangannya kearah pintu masuk, kemudian menatap wanita yang sangat ia kenali itu dengan senyuman hangat serayamenyeka air matanya.
__ADS_1
Dina berjalan perlahan kearah tempat tidur Rasya, seraya menyematkan senyum tipis dibibirnya. “Bagaimana keadaan mu Sya ?” Ucap Dina yang kini telah duduk ditepi ranjang itu.
“Hmm seperti yang sedang kau lihat. Aku baik baik saja.” Ucap Rasya dengan senyum getir yang ia paksakan.
“Ckh ! Kau tidak bisa membohongiku dengan mata bengkak mu ini gadis bodoh! Sini aku akan memberikan pelukan hangat ku sebagai ucapan selamat pagi untuk mu !” Ucap Dina seraya merengkuh tubuh Rasya kedalam pelukannya.
Rasya membalas pelukan hangat dari sahabatnya itu, ia merasakan kenyamanan yang mampu menenangkan hati
dan pikirannya yang berkecamuk. Namun ada sesuatu yang sejak tadi sangat mengganjal pikiran Rasya, dan ia memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Dina.
“Ada dimana kita sekarang ? Apakah ini rumah kak Galih ?” Ucap Rasya yang telah melonggarkan pelukkannya dan menatap Dina dengan tatapan penuh tanya.
“Ckh ! Kau benar benar gadis bodoh ! Bagaimana mungkin kau baru menanyakan hal ini sekarang, sedangkan
kau telah tertidur nyenyak semalaman disini, bahkan kau juga tak menyadari kedatangan ku.” Ucap Dina seraya menyentil kening Rasya.
Rasya menatap mata Dina dengan penuh tanya, dan mencoba mencari kebenaran dari ucapan gadis itu,
keningnya yang tadi disentil oleh Dina kini berkerut mengalahkan baju yang belum disetrika.
__ADS_1
“Berhenti memasang wajah seperti itu ! dan segera bersihkan dirimu, kau akan menemukan jawabannya nanti.” Tegas Dina.
“Hmmm mengapa kau tak menjawab pertanyaan ku dengan jelas Dina !” Ucap Rasya seraya memanyunkan bibir
mungilnya.
“Sudahlah jangan banyak tanya, ini sudah terlalu siang. Aku akan menunggu mu dimeja makan.” Ucap Dina seraya pergi meninggalkan Rasya dikamar itu.
“Huuush, Kau menyebalkan Dina. Namun aku terlalu menyayangi mu.” Gumam Rasya, dan segera bangkit dari tempat tidur itu.
Ketika Rasya sedang merapikan tempat tidur. “Cekleek” Pintu kamar itu kembali terbuka, Rasya segera membalikkan pandangannya menatap kearah pintu masuk.
“Siapkan jantung mu nona ! Aku tak ingin melihat sahabtku mati muda !” Ucap Dina yang memeperlihatkan kepalanya dari balik pintu, dan berlalu pergi meninggalkan Rasya yang masih bengong.
“Apa maksud Dina ? Mengapa aku harus menyiapkan jantung ku ?”
“Ckh ! Setelah berhasil membuatku kebingungan kau langsung pergi meninggalkan ku begitu saja, huem dasar Dina !” Gumam Rasya.
Setelah selesai merapikan tempat tidur itu, Rasya berjalan perlahan menuju kamar mandi yang berada didalam ruangan itu. Matanya terpana melihat kamar mandi yang cukup luas, dengan didominasi warna putih, dan perlengkapan perlengkapan yang tersusun rapi, ruangan itu begitu bersih dan wangi.
__ADS_1
“Hmmm pasti pemilik rumah ini sangat mencintai kebersihan, dan pastinya ia bukanlah orang yang sembarangan dengan fasilitas yang elegant ini.” Batin Rasya.