
🌟🌟🌟
***Back to Rasya***
Rasya menatap Dina dengan serius. "Terimakasih karena sudah menyelamatkan ku, dan selalu menguatkanku dalam kondisi apa pun." Jawab Rasya.
Dina menggenggam tangan Rasya. "Kau tak perlu berterimakasih, sudah menjadi keharusan untukku menyelamatkan mu dan selalu menguatkan mu. Semua ini tidak ada apa - apanya dibandingkan segala yang telah kau lakukan untukku. Aku telah menganggapmu sebagai saudara ku. Jadi jangan pernah ragu untuk meminta apapun dari ku. Bahkan nyawa ku pun tak ada artinya jika dibandingkan dengan pertolongan mu Sya." Jawab Dina.
Kedua gadis itu kembali terdiam, Rasya hanya membalas ucapan Dina dengan senyuman.
Dina kembali teringat dengan sesuatu yang mengganjal pikirannya pagi tadi, ia menatap Rasya dengan tatapan penasaran. "Rasya ! Sebelum berangkat kemari, aku sempat mencarimu keperpustakaan, akan tetapi aku tak menemukanmu disana ! dan aku melihatmu berjalan dari arah gedung penelitian Profesor Albert. Kemana sebenarnya kau tadi pagi ?" Tanya Dina penasaran.
Rasya menatap tajam kearah Dina, ia kembali teringat jika dia belom memberi tau Dina dan kedua sahabatnya tentang olimpiade itu. Rasya pun memutuskan untuk menceritakan segalanya tentang apa yang dikatakan profesor Albert dan juga olimpiade itu kepada Dina. Dina yang menyimak semua cerita Rasya merasa speachless dan menatap bangga kearah sahabatnya itu.
"Oh Tuhan ! Kau serius ? Kau sangat beruntung ! Aku bangga dengan mu Rasya." Teriak Dina yang merasa bahagia, seraya memeluk Rasya dengan erat.
"Sssssttt !" Desis Rasya seraya meletakkan jari telunjuknya dibibir Dina.
"Jangan berteriak Dina ! Pelankan suara mu, ku tak ingin orang lain mengetahui hal ini." Ucap Rasya, yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Dina.
Kedua gadis itu tak mengetahui jika sejak tadi ada seseorang dibalik pintu yang mendengarkan pembicaraan mereka. Seseorang ity mengepalkan tangannya dengan keras, ia merasa sangat kesal sekaligus marah setelah mendengarkan perbincangan kedua gadis itu, dan memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum kedua gadis itu menyadari keberadaanya.
Rasya dan Dina memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan itu. Mereka berdua berjalan kearah kantin untuk makan siang.
Dina mengirimkan pesan kepada Tiara dan Lana agar mereka berdua segera bergerak menuju kantin kampus.
__ADS_1
***Kantin***
Rasya dan Dina telah sampai terlebih dahulu, dan mencari meja yang nyaman untuk mereka berempat. Tak lupa mereka berdua mengambilkan makanan untuk makan siang mereka berdua dan juga kedua sahabatnya lagi. Kedua gadis itu sedang duduk menunggu kedatangan Tiara dan Lana. Dina fokus memainkan ponselnya, sedangkan Rasya fokus membaca jurnalnya.
"DORRR !"
Teriak Tiara mengagetkan Rasya dan Dina. Hingga hampir saja membuat ponsel Dina terjatuh.
"Tiaraaa ! Kau hampir saja membuat jantungku berhentu berfungsi !" Teriak Dina seraya mengusap - usap dadanya. Sedangkan Rasya menatap Tiara dengan tatapan kesal seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hehe Sorry !" Ucap Tiara seraya memperlihatkan senyum tak berdosanya.
"Hmmm mana Lana ? Mengapa kau hanya datang seorang diri ?" Tanya Rasya yang menatap penuh tanya.
"Hmm aku kira dia bersama kalian. Karena dikamar hanya tinggal aku seorang diri, tak ada siapapun lagi sejak pagi!" Jelas Tiara.
"Oh iya aku lupa, hari ini kan Lana tak ada jam kuliah sama sepertiku. Biasanya juga ia selalu berada dikamar. Kemana menghilangnya gadis itu." Ucap Tiara penuh tanya.
"Hmm mungkin dia sedang berada dijalan, kita tunggu saja sebentar lagi." Ucap Dina.
Mereka bertiga berbincang-bincang seraya menunggu kedatangan Lana. Tak berselang lama kemudian seorang gadis berjalan terburu-buru kearah meja tempat ketiga gadis itu berada.
"Sorry aku telah membuat kalian menunggu lama. Aku baru saja dari perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang kupinjam minggu lalu." Ucap Lana seraya mengatur nafasnya.
"Hmmm duduklah Lana ! Kau terlihat sangat lelah !" Ucap Rasya seraya menepuk kursi kosong disampingnya, dan Lana segera duduk disamping Rasya.
__ADS_1
"Kau sangat rajin sekarang Lana! Aku kagum denganmu. Entah kapan aku bisa berubah menjadi murid yang rajin belajar seperti kalian." Ucap Tiara seraya menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Huuufh ! Aku masih harus berjuang keras untuk memperbaiki nilai-nilai ku Tiara !" Ucap Lana seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Hmmm semangat ! Aku yakin kamu pasti bisa. Ingat tak kan ada usaha yang akan menghianati hasil bukan ?" Ucap Rasya yang diiringi anggukan Tiara dan Dina.
"Sudahlah ayo makan ! Penghuni perutku sudah memberontak meminta jatah." Ucap Tiara seraya mengusap perutnya.
"Ckh ! Perutmu memang tak pernah bisa bersabar Tiara." Ucap Dina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Setelah selesai makan siang, mereka memutudkan untuk segera kembali keasrama. Mereka berempat berjalan beriringan sambil berbincang-bincang.
Handphone Rasya berdering, sebuah notifikasi pesan masuk.
From : Ardhian
"Apakah kau ada waktu ? Aku menunggumu diruangan penelitian."
"Huuuuufh !" Suara nafas panjang Rasya, yang merasa gugup membaca pesan itu.
"Ada apa Rasya ?" Ucap Tiara.
"Aku harus pergi keruangan profesor Albert sekarang." Ucap Rasya.
__ADS_1