
🌟🌟🌟
CEKLEEEK !
Suara pintu ruangan itu terbuka. Terlihat seorang pria tampan, memasuki ruangan tersebut, dengan di ikuti oleh tiga orang pria dibelakangnya.
"Wanita ?" Gumam Pandu, yang merasa terkejut melihat seseorang yang akan menjadi patner mereka. Sebelumnya Ardhian telah memberitahu mereka jika akan ada seseorang yang bergabung dalam tim mereka untuk mengikuti olimpiade, hanya saja ketiga pria itu tidak mengetahui jika seseorang itu merupakan gadis cantik yang berada dihadapan mereka saat ini.
"Selamat pagi senior !" Ucap Rasya kepada Ardhian dan teman - temannya. dan dibalas anggukan dan senyuman oleh Ardhian. Sedangkan ketiga sahabat Ardhian hanya menatap tajam kearah Rasya.
"Kau sudah lama menunggu ?" Tanya Ardhian dengan tatapan elangnya.
"Hmmm, Aku baru saja sampai senior !" Ucap Rasya, dan melihat kearah belakang Ardhian.
Ardhian yang paham dengan tatapan Rasya langsung membuka suaranya. "Mereka bertiga adalah teman - teman ku, yang akan bergabung menjadi satu tim dengan kita untuk mengikuti kompetisi itu." Jelas Ardhian.
"Perkenalkan ini Arjun, Rayyan, dan Pandu !" Ucap Ardhian kembali memperkenalkan satu persatu temannya.
"Hallo senior ! Nama ku Rasya Clarina Willend, junior semester dua." Ucap Rasya memeperkenalkan dirinya kepada para senior itu.
"Hay Rasya ! Aku telah banyak mendengar cerita tentang mu, nama ku Arjun !" Ucap Arjun.
"Rasya Clarina Willend ? Mengapa aku merasa familiar dengan nama itu." Batin Pandu.
"Aku benar - benar tak menduga, jika profesor Albert akan mengirimkan seorang wanita untuk melengkapi perjuangan tim kita." Ucap Rayyan.
"Kau benar Ray. Baru kali ini aku merasa jika profesor Albert tak semenyebalkan yang aku pikirkan." Timpal Arjun.
__ADS_1
"Sudahlah ! Ayo kita duduk disana, dan mulai mendiskusikan segalanya." Ucap Ardhian seraya berjalan menuju sebuah meja yang berada ditengah - tengah ruangan.
Mereka berempat segera mengikuti langkah Ardhian. Rasya merasa sangat canggung berada di tengah-tengah keempat pria itu.
"Apakah kau ada masalah Rasya ?" Tanya Ardhian yang menyadari kecanggungan Rasya.
"Hmm, aku baik-baik saja senior, hanya saja aku sedikit gugup." Ucap Rasya.
"Hmm! Aku rasa junior kita merasa gugup gara-gara melihat wajah es batu mu itu Ardhian." Ucap Rayyan.
Ardhian menatap tajam kearah Rayyan. "Berhenti menggodanya Rayyan !" Ucap Ardhian.
Arjun dan Pandu hanya bisa tersenyum melihat Ardhian. Tak biasanya Ardhian memperhatikan wanita seperti saat ini.
Ardhian mulai menjelaskan segalanya, yang berkaitan dengan olimpiade itu dan mengenai software yang akan mereka kembangkan. Ia terlihat sangat tampan, walaupun wajahnya begitu dingin dan terlihat sangat serius. Rasya terus fokus memperhatikan penjelasan Ardhian dan mencatatnya didalam sebuah buku.
Rasya melihat jam kecil yang melingkar ditangannya. Jam tersebut telah menunjukkan pukul 10:00 WIB.
"Senior ! Mohon maaf, sepertinya aku harus pamit terlebih dahulu, sebentar lagi jam kuliah ku akan dimulai." Ucap Rasya kepada Ardhian dan teman - temannya.
"Hmm baiklah. Ini kunci cadangan ruangan ini. Profesor Albert memberikan kita masing - masing kunci cadangan. Agar kita bisa menggunakan ruangan ini semaksimal mungkin dan fokus untuk olimpiade itu." Jelas Ardhian seraya membagikan kunci cadangan ruangan itu.
Rasya menerima kunci itu, dan segera menyimpannya. "Hmm Kalau begitu saya permisi dulu senior." Ucap Rasya dan dibalas anggukan oleh Ardhian dan ketiga sahabatnya.
*****
Rasya telah meninggalkan ruangan profesor Albert. Ia berjalan menuju ruangan kuliahnya. Saat ini ia telah sampai dihalaman sebuah gedung tiga lantai. Ketika Rasya ingin melangkahkan kakinya untuk memasuki gedung itu, ia merasakan seseorang menarik badannya.
__ADS_1
"BRUUUKKK "
Sebuah pot bunga jatuh dari salah satu lantai gedung tersebut, dan hampir saja mengenai Rasya.
"Kau tidak apa - apa Rasya ?" Tanya Dina dengan nada yang khawatir. Jantung kedua gadis itu berdebar dengan kencang. Mereka berdua benar - benar kaget oleh kejadian itu.
***FLASHBACK***
Dina sedang berjalan menuju ruangan kuliahnya, ia baru saja kembali dari perpustakaan untuk mencari sahabatnya. Akan tetapi ia tidak menemukan Rasya.
Ketika ia hampir sampai digedung kuliahnya, ia merlihat Rasya sedang berjalan dari arah gedung penelitian para dosen. Mata Dina seketika membulat, ketika pandangannya melihat kelantai tiga gedung itu, ia melihat tangan seseorang sedang memegang pot bunga dan bersiap untuk menjatuhkannya.
Dina bergegas lari ke arah Rasya, dan menarik badan gadis itu ke arah dalam gedung dengan cepat.
Sesuai dengan dugaan Dina. Pot bunga itu jatuh berserakan tepat dibelakang kedua gadis itu.
***BACK TO RASYA***
"Hmmm Aku baik - baik saja ! Bagaimana dengan mu Dina ?" Tanya Rasya kembali.
"Syukurlah jika kau baik - baik saja. Aku sangat panik dan mengkhawatirkan keadaan mu Sya. Sepertinya ada seseorang yang mempunyai niat jahat terhadapmu." Ucap Dina dengan wajah khawatir bercampur penasaran.
Rasya menekuk wajahnya. "Entahlah Dina ! Aku tak ingin berburuk sangka. Seingat ku, Aku tak pernah mencari masalah dengan siapapun." Ucap Rasya dengan perasaan bimbang.
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo masuk kedalam ruangan, sebentar lagi kuliah akan segera dimulai." Ucap Dina menenangkan Rasya seraya memperhatikan jam keluaran terbaru yang melingkar ditangannya.
Kedua gadis itu telah berada diruangan kuliahnya. Rasya mencoba untuk menenangkan dirinya dan berusaha fokus mendengarkan penjelasan dari dosen. Namun pikirannya tetap terganggu oleh kejadian tadi.
__ADS_1
Rasya kembali teringat dengan kejadian kemarin sore, ketika ia merasa ada yang sedang mengikutinya, pikirannya melayang layang, mencoba mencari tau akan apa yang sedang terjadi padnya.